Safehouse netral itu sebuah rumah tua di tepi sawah, sejam dari kota. Tempat Ibu Lintang dijaga, tempat para Generasi Pertama yang hanya ingin hidup tenang berkumpul: sepasang lansia yang bisa menumbuhkan tanaman, seorang pemuda yang tangannya menyala dalam gelap, seorang ibu muda yang bisa mendengar dari jarak jauh. Orang-orang yang takut pada kekuatan mereka sendiri. Orang-orang yang Damar berjanji tak akan menyeret ke dalam perang.
Mereka datang untuk menjenguk Ibu Lintang. Itu saja rencananya.
Tapi Sekar merasa ada yang salah sejak turun dari pikap.
"Terlalu sepi," bisiknya.
Biasanya ada anak-anak main di pekarangan. Sekarang tidak ada. Tirai semua tertutup. Pemuda bertangan menyala — namanya Galih — berdiri di pintu dengan wajah pucat, dan ia tidak menyapa. Ia hanya menunduk.
"Galih," kata Damar pelan. "Ada apa?"
Galih tidak menjawab. Tangannya gemetar.
Lalu Damar mendengarnya — bukan dengan telinga, tapi dengan kulit. Geletar samar di tanah. Naik dari kaki. Pola yang ia kenal. Resonansi.
"Gelombang," desis Damar. "Mereka di sini."
Galih akhirnya bicara, suaranya patah. "Maaf. Maafin aku." Air mata jatuh di pipinya. "Mereka... mereka tangkep adekku. Tiga hari lalu. Bilang kalau aku gak laporin posisi kalian, adekku—" Ia tak sanggup menyelesaikan. "Aku gak punya pilihan."
Sekar sudah bergerak, menarik Lintang ke balik tembok. Damar tidak marah pada Galih. Ia tidak bisa. Ia tahu persis taktik ini — sandera keluarga, paksaan, pilihan yang bukan pilihan. Itu cara Sanggar. Itu cara mereka menjadikan Lintang senjata dulu, menyandera ibunya.
"Berapa banyak?" tanya Damar cepat.
"Gelombang. Sama empat... lima orang Sanggar." Galih meringkuk. "Ibu Lintang masih di dalam, di kamar belakang. Mereka belum gerak karena nunggu kalian dateng."
Jadi ini jebakan. Dan umpannya adalah ibu yang baru saja mereka selamatkan.
Damar menutup mata sebentar. Marah, tapi terkendali. "Galih. Adekmu — kita cari, kita bebasin. Aku janji. Tapi sekarang kamu harus bantu aku. Di mana mereka, persisnya?"
Galih mengangkat wajah, kaget. "Kamu gak... gak benci aku?"
"Aku benci yang maksa kamu." Damar menarik napas, garis biru menyala di lengannya. "Bukan kamu."
Tanah bergetar lebih keras. Genteng mulai berderak. Gelombang sudah tahu mereka datang.
"Sekar," panggil Damar tanpa menoleh. "Kantong sunyi. Sekarang."
Dunia langsung kehilangan suara. Tidak ada burung, tidak ada angin, tidak ada gemuruh getaran — Sekar memadamkan semuanya dalam radius rumah. Di gelembung sunyi itu, Damar bisa melihat Gelombang keluar dari pintu belakang: pria bertubuh sedang berkepala plontos, urat-urat di pelipisnya berdenyut, telapak tangan ditekan ke tanah. Tapi tanpa suara untuk "dilihat", serangannya meleset — getaran yang ia kirim memecah ke arah yang salah, menghancurkan dinding kosong alih-alih tubuh mereka.
"Lintang!" seru Damar — tapi suaranya pun tertelan sunyi. Ia tidak perlu. Mereka sudah berlatih untuk ini.
Lintang sudah bergerak. Ia mengangkat tangan, dan ruang di sekeliling Gelombang berkerut, melengkung, mengurung. Bukan untuk meremukkannya — Lintang ingat aturan — tapi untuk menahannya, seperti serangga di dalam toples kaca yang tak terlihat.
Gelombang meronta, mengirim ledakan getaran ke segala arah, tapi tertahan dinding ruang Lintang. Wajah anak itu menegang, peluh mengucur. Menahan musuh sekuat Gelombang menguras tenaganya cepat.
"Tahan, Lintang. Tahan." Damar melompat, menyerap arus dari kabel listrik rumah yang menjalar di dinding, tubuhnya terisi penuh, garis biru menyala terang. Ia menubruk Gelombang, telapak menempel di dada lawan, dan mulai menarik.
Getaran itu masuk ke tubuh Damar seperti gempa kecil yang berebut keluar dari kulitnya — tapi kali ini Sekar menjaga sunyi, Lintang menjaga ruang, dan Damar tidak sendiri. Ia tidak hancur. Ia menahan, menyerap, menguras.
Tapi belum tuntas. Lima orang Sanggar lain menyerbu dari samping, bersenjata. Dan tenaga Lintang nyaris habis.
"Damar!" Suara Sekar pecah menembus sunyinya sendiri — tanda ia kewalahan menahan terlalu banyak.
Gelembung sunyi bergetar, retak.