Mereka lolos dari rumah sawah dengan susah payah. Damar tidak sempat menguras Gelombang tuntas — saat kelima orang Sanggar menyerbu, ia melepas ledakan untuk melempar mereka mundur, menyambar Ibu Lintang dari kamar belakang, dan kabur ke pikap. Galih ikut. Para netral lain berpencar ke ladang. Gelombang, separuh terkuras, tidak mengejar — untuk sekarang.
Tapi Galih membawa sesuatu yang berharga: bukan cuma penyesalan. Informasi. Sanggar menahan keluarganya — dan keluarga sandera lain — di sebuah fasilitas. Fasilitas kedua. Bukan Sarang yang dulu (itu sudah hancur diserbu pemerintah), tapi yang lebih kecil, di kompleks gudang industri yang ditinggalkan di pinggir kota pelabuhan.
"Di situ mereka kondisiin orang," kata Galih, masih gemetar, di dalam pikap yang melaju. "Adekku di situ. Sama puluhan yang lain. Mereka kasih obat. Bikin mata kosong. Bikin nurut."
Penyesuaian. Damar mengenal kata itu dari Sekar. Obat dan pengondisian untuk mematikan kehendak.
"Kita ke sana," kata Damar.
Sekar menoleh tajam dari kursi setir. "Damar, kita baru lolos dari jebakan. Tim cuma bertiga — empat sama Galih. Itu fasilitas penuh."
"Adekku di situ," kata Galih lirih.
"Dan puluhan orang lain," tambah Damar. "Yang dipaksa kayak Galih. Kayak Lintang dulu. Kita gak bisa biarin." Ia menatap Sekar. "Kamu yang ajarin aku: ini bukan soal menang, ini soal gak diam."
Sekar menahan napas. Lalu mengangguk. "Kita perlu denah. Dan rencana. Bukan—"
"Bukan harapan," kata Damar dan Sekar bersamaan. Sudut bibir Sekar terangkat sedikit.
Tiga hari mereka memetakan. Sekar menyusup dua kali menyamar sebagai petugas pengantar logistik, menghafal pintu, kamera, ruang generator. Galih menggambar bagian dalam dari ingatannya. Lintang berlatih menahan ruang lebih lama tanpa pingsan. Damar berlatih sesuatu yang baru — sesuatu yang membuatnya gentar.
Karena di Sarang dulu, ia menguras kekuatan Baja. Tapi sekarang ia bertanya: kalau penyesuaian itu zat kimia yang menjajah tubuh orang, bisakah ia menyerapnya keluar? Menarik bukan kekuatan, bukan nyawa — tapi racun pengendali itu sendiri?
"Energi abstrak," gumam Damar, mengingat distorsi ruang Lintang yang pernah ia serap. "Kalau aku bisa serap dari medan, bukan cuma kabel... mungkin aku bisa serap obat itu. Narik dari darah mereka."
"Mungkin," kata Sekar pelan. "Atau mungkin kamu bunuh mereka kalau salah."
Damar menelan ludah. "Makanya aku latihan dulu."
Ia berlatih pada dirinya sendiri. Malam-malam itu, ketika yang lain tidur, Damar duduk di sudut pikap dan menarik energi pelan-pelan dari baterai ponsel — tipis, terkendali, selapis demi selapis. Bukan menyedot habis seperti dulu, bukan ledakan. Mengukur. Berhenti tepat sebelum mati. Ia harus belajar menarik dengan presisi seteliti pencabut duri, karena kalau tangan yang ia letakkan di tengkuk seorang anak salah sedikit saja, ia tidak menarik racun — ia menarik nyawa. Garis batas itu setipis benang, dan ia harus bisa merabanya dalam gelap.
"Kamu kelihatan capek," kata Sekar suatu malam, menyodorkan kopi sachet.
"Aku takut," Damar membetulkan. "Bedanya, kali ini takut salah, bukan takut kalah."
Malam serangan, langit gerimis. Bau garam laut dan besi karat. Kompleks gudang itu gelap, hanya beberapa lampu sorot dan pagar berduri. Sanggar memilih tempat ini karena terpencil — tapi terpencil juga berarti tak ada yang mendengar kalau mereka masuk diam-diam.
Sekar menjatuhkan kantong sunyi ke menara penjaga; dua penjaga di atas kehilangan radio, kehilangan langkah, kebingungan. Lintang menekuk ruang di sela pagar, membuka celah selebar tubuh tanpa memutus kawat berduri yang akan memicu alarm. Damar menyentuh rangka logam pagar — dan merasakan arus mengalir ke seluruh kompleks. Rangka bangunan menyambung ke segalanya. Pelajaran lama dari Sarang.
Mereka masuk.
Di dalam, lorong beton dingin. Pintu-pintu sel. Dan di balik kaca, Damar melihat mereka — belasan orang duduk diam di lantai, mata kosong, menatap dinding. Dikondisikan. Salah satunya gadis kecil, mungkin tujuh tahun, memeluk lutut.
"Sari," bisik Galih, suaranya hancur. "Itu adekku."
Damar menekan telapaknya ke pintu baja. Garis biru menyala. "Kita bangunin mereka."
Lalu alarm meraung. Bukan karena mereka. Dari ujung lorong, suara langkah berat. Dan sebuah suara yang dingin dan akrab, mengalir lewat pengeras suara seluruh kompleks:
"Damar Prasetyo. Aku sudah nunggu kamu balik."
Ningrum.