Damar tidak punya waktu untuk Ningrum. Belum.
"Sekar, tahan lorong," perintahnya. "Lintang, jaga Galih. Aku buka sel."
Ia menekan telapak ke pintu baja pertama. Bukan untuk meledakkannya — terlalu berisik, terlalu berbahaya bagi yang di dalam. Ia menyerap energi dari panel kunci elektronik sampai mati, lalu menggeser pintu dengan tenaga tubuhnya yang terisi penuh. Pintu terbuka.
Gadis kecil — Sari — tidak bergerak. Matanya kosong, menatap menembus Damar seakan ia tidak ada.
Damar berlutut di depannya. Pelan. "Sari. Kakakmu Galih nungguin kamu di luar."
Tidak ada reaksi. Mata itu kaca.
Ini bagian yang menakutkan. Damar mengangkat telapak, menahannya beberapa senti dari tengkuk gadis itu. Ia menutup mata, mencari. Bukan listrik. Bukan kekuatan. Sesuatu yang lain — zat asing yang mengendap di tubuh kecil itu, menjajah, meredam kehendaknya. Penyesuaian. Damar merasakannya seperti lapisan dingin keruh yang menempel di syaraf.
Hati-hati. Hati-hati. Kalau ia menarik terlalu kuat, ia bisa menyedot nyawa. Kalau terlalu lemah, sia-sia.
Ia menarik. Tipis. Selapis demi selapis.
Tubuh Sari menegang, lalu mengejang pelan. Damar nyaris berhenti, takut menyakitinya. Tapi ia merasakan zat dingin itu mengalir keluar, masuk ke tangannya, terbakar netral oleh energinya sendiri. Dan kemudian —
Sari berkedip. Sekali. Dua kali. Air mata mengembang. "K-kakak?"
Damar menghela napas yang ia tahan entah berapa lama. "Galih di luar. Ayo, kita keluar."
Berhasil. Ia bisa membalik penyesuaian.
Tapi ada belasan sel. Dan tiap pembebasan menguras Damar — bukan hanya tenaga, tapi konsentrasi, kehati-hatian, ketakutan akan menarik terlalu jauh. Peluh membasahi punggungnya. Galih menggendong adiknya, lalu — alih-alih lari — ia berdiri di samping Damar. "Aku bantu nuntun mereka yang udah bangun. Suruh aku apa."
Mereka bekerja cepat. Damar membuka sel, menarik zat pengendali keluar, satu per satu. Sebagian orang bangun menangis, sebagian linglung, sebagian marah. Galih dan Lintang menuntun mereka berkumpul di lorong. Sekar menahan ujung-ujung lorong dengan dinding sunyi, membuat pasukan Sanggar tersesat dalam kebisuan.
Saat sel keenam, ketujuh, kedelapan terbuka, sesuatu berubah di udara. Orang-orang yang baru bangun ini — mereka punya kekuatan. Penyembur api kecil. Seorang perempuan yang kulitnya berubah jadi kulit pohon. Seorang remaja yang bisa membuat kakinya secepat motor. Dan saat kesadaran mereka pulih, saat mereka melihat siapa yang membebaskan mereka, sesuatu yang lebih dari sekadar lega muncul di mata mereka.
"Kalian mau pergi diem-diem," kata Damar pada mereka, terengah, "boleh. Gak ada yang maksa. Tapi di luar sana ada pasukan Sanggar, dan kalau kalian mau lewat, kita harus tembus bareng."
Hening sejenak.
Lalu perempuan berkulit pohon itu mengepalkan tangan, kulitnya mengeras. "Mereka kurung aku tiga bulan. Bikin aku gak inget nama anakku." Suaranya bergetar. "Aku gak mau pergi diem-diem."
Satu per satu, mereka berdiri. Penyembur api menyalakan telapaknya. Si remaja cepat menjejak lantai. Bukan pasukan terlatih — orang-orang ketakutan yang baru menemukan kembali kehendaknya. Tapi mereka berdiri.
Damar menatap mereka. Tadi malam, timnya tiga orang buronan di lantai dua toko bekas. Sekarang, di lorong beton fasilitas Sanggar, ia berdiri di depan dua belas Generasi Pertama yang baru bangun, dan mereka menatapnya bukan dengan takut — tapi dengan harapan.
Dari trio pelarian, mereka jadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih besar. Gerakan.
"Sekar," kata Damar, suaranya mantap. "Buka jalan. Kita keluar bareng-bareng."
Tapi di ujung lorong, suara langkah Ningrum mendekat — santai, tidak terburu, seperti orang yang tahu sesuatu yang mereka tidak tahu. Dan saat ia muncul di bawah lampu darurat merah, untuk pertama kalinya Damar tidak melihat anak buah bersenjata di belakangnya.
Ningrum datang sendiri. Dan ia tersenyum.