"Kamu pikir aku gak tahu kamu bakal balik?" Ningrum berjalan pelan menyusuri lorong. Jas abu-abunya rapi seperti biasa, rambut disanggul ketat. Tidak ada senjata. Tidak ada pengawal. "Kamu selalu balik buat nyelametin orang, Damar. Itu yang bikin kamu gampang ditebak. Dan gampang dijebak."
Damar mendorong para GP yang baru bangun ke belakang punggungnya. "Sekar, bawa mereka keluar lewat barat. Aku tahan dia."
Tapi saat Sekar bergerak, sesuatu salah.
Lorong itu berubah. Lampu merah meredup. Dinding seolah menyempit, lalu memanjang, lalu menyempit lagi. Bau asap mengisi hidung Damar — asap yang tidak ada. Ia menoleh dan melihat Sekar bukan Sekar; sekejap wajah Sekar adalah wajah Baja, mencekiknya. Ia berkedip dan itu hilang. Lalu lantai seakan jadi jurang.
"Kekuatanmu," desis Damar, jantungnya berpacu. "Kamu—"
"Akhirnya kamu nanya." Ningrum berhenti, melipat tangan. "Selama ini kamu kira aku cuma birokrat. Pengurus rekrutmen. Manajer." Ia tersenyum tipis. "Aku bikin orang takut, Damar. Aku tanam apa yang paling mereka takutin, langsung ke kepala mereka. Aku gak perlu kekuatan otot. Aku cukup bikin kamu lawan ketakutanmu sendiri."
Di belakang Damar, kekacauan pecah. Para GP yang baru bangun menjerit — mereka melihat hal-hal yang tidak ada. Penyembur api menyemburkan api ke arah bayangan, nyaris membakar temannya sendiri. Si remaja cepat berlari menabrak dinding, mengira ada yang mengejar. Galih memeluk adiknya, gemetar, melihat sesuatu yang membuatnya menangis.
Ningrum memecah mereka dengan ilusi. Satu per satu. Bukan dengan kekerasan — dengan ketakutan terdalam masing-masing.
Lintang mencoba menahannya — anak itu mengangkat tangan, hendak menekuk ruang di sekeliling Ningrum, mengurungnya seperti yang ia latih pada Gelombang. Tapi ilusi tidak punya tubuh untuk dikurung. Lintang melengkungkan udara, dan udara itu kosong; Ningrum tetap berdiri tenang di luar jangkauan, dan dalam sekejap Lintang melihat sesuatu yang membuat tangannya jatuh — entah apa, tapi wajahnya memucat, dan ia mundur memeluk dirinya sendiri seperti anak kecil yang lupa ia sudah berani.
"Lintang!" Damar berseru, tapi ia sendiri nyaris tak bisa berdiri.
"Ini yang bikin kamu kuat," kata Damar, mencengkeram tembok, melawan bayangan ibunya yang tergeletak berdarah di lantai — ilusi, ia tahu itu ilusi, tapi tetap mencabik dadanya. "Ini cara kamu kuasai orang. Bukan rantai. Tapi takut."
"Takut jauh lebih kuat dari rantai." Ningrum melangkah maju, dan dengan tiap langkah ilusi Damar makin nyata. Ia melihat Lintang mati. Ia melihat Sekar berpaling membencinya. Ia melihat dirinya sendiri jadi monster, menyedot nyawa demi nyawa, tak terhentikan. "Lihat? Bahkan kamu takut sama dirimu sendiri. Aku cuma kasih kamu cermin."
Damar terhuyung. Tenaganya untuk menyerap penyesuaian sudah terkuras. Ilusi itu menggerogoti kehendaknya. Untuk sesaat, ia hampir percaya — hampir merasa lebih baik menyerah, karena mungkin ia memang monster, mungkin ia memang —
"Damar." Satu suara menembus.
Sekar. Sekar yang sungguhan.
Dan kemudian — sunyi.
Sekar menjatuhkan kantong sunyinya, tapi bukan ke lorong. Ke kepala Damar sendiri, sekeliling mereka berdua. Sunyi total, mutlak. Dan dalam sunyi itu, ilusi Ningrum kehilangan pijakan — karena ketakutan butuh bisik-bisik, butuh suara dalam kepala, butuh gema. Sekar memadamkan semuanya. Suara di luar. Dan suara palsu di dalam.
Damar berkedip. Lorong jadi lorong lagi. Dinding diam. Ibunya yang berdarah lenyap. Lintang yang mati lenyap. Hanya ada Sekar di sampingnya, satu tangan di bahunya, bibir bergerak tanpa suara di gelembung sunyinya sendiri: aku di sini.
Sekar melebarkan kesunyiannya, pelan-pelan, menjangkau para GP yang lain. Begitu sunyi menyentuh mereka, jeritan berhenti. Penyembur api memadamkan apinya, bingung, menatap telapaknya sendiri seakan baru bangun dari mimpi. Si remaja cepat berhenti membentur dinding. Lintang menarik napas dalam, dan warna kembali ke wajahnya; ia menegakkan punggung lagi, malu pada ketakutannya sendiri. Sunyi Sekar bukan cuma senjata — malam itu, ia jadi tameng bagi mereka semua.
Ningrum mengernyit. Untuk pertama kalinya, ekspresinya retak. Kekuatannya tidak bekerja dalam kesunyian.
Damar berdiri. Garis biru menyala kembali di lengannya. "Trik bagus," katanya, walau tak ada yang mendengar dalam sunyi. Lalu Sekar mengangkat kantong itu sedikit — cukup untuk suaranya keluar. "Tapi aku punya peredam."
Ningrum mundur selangkah.