Ningrum tidak melawan. Itu yang aneh.
Damar maju, garis biru terang, siap. Para GP di belakangnya mulai pulih dari ilusi begitu Sekar memperluas kesunyian, melindungi mereka semua. Penyembur api memadamkan apinya. Galih berhenti menangis. Ilusi pecah satu per satu.
Ningrum berdiri terpojok di ujung lorong, tapi ia tidak memanggil bala bantuan, tidak meledak marah. Ia hanya menatap Damar, dan untuk sekejap topeng dingin itu jatuh, menampakkan sesuatu yang Damar tidak menyangka: kelelahan.
"Kenapa kamu sendirian?" tanya Damar. "Manajer rekrutmen Sanggar. Di mana pasukanmu?"
Ningrum tertawa kecil, getir. "Pasukan. Kamu kira aku punya pilihan soal di mana aku berdiri?" Ia menyandar ke tembok. "Aku diperintah jaga fasilitas ini sendiri malam ini, Damar. Tanpa pengawal. Sebagai 'ujian kesetiaan'. Karena Sanggar mulai gak percaya sama aku."
"Kenapa?"
"Karena aku terlalu sering nanya." Suaranya datar. "Kenapa anak-anak. Kenapa harus disandera ibunya. Kenapa harus dimatiin kehendaknya." Ia menatap Sari kecil yang gemetar di pelukan Galih. "Aku dulu kayak mereka, tahu. Bukan cuma metafora. Aku korban Benih yang dipaksa."
Damar membeku. "Apa?"
"Kamu pikir aku lahir jadi monster di setelan abu-abu?" Ningrum menggeleng pelan. "Aku punya kekuatan ini — bikin orang takut — dan begitu Sanggar tahu, mereka datang. Mereka punya keluargaku. Adikku. Sama kayak Galih, sama kayak kamu, sama kayak Lintang." Ia menelan. "Aku 'naik pangkat' karena aku berguna. Karena aku bisa kondisikan orang lain tanpa obat — cukup pake takut. Tiap orang yang aku rekrut, aku kira aku selamatin adikku semenit lebih lama."
Hening. Bahkan kesunyian Sekar terasa berbeda — bukan senjata, tapi ruang untuk pengakuan ini.
"Adikmu masih ditahan," kata Damar pelan. Bukan tanya.
Ningrum mengangguk, sekali. Dan untuk pertama kalinya, perempuan yang dulu menunjukkan rekaman ibu Damar disandera, yang berkata "Sanggar tidak pernah mengembalikan apa yang sudah jadi miliknya" — perempuan itu tampak persis seperti yang ia ciptakan dari orang lain. Terjebak. Takut.
Damar merasakan dua hal sekaligus, dan keduanya berseberangan. Benci — pada apa yang Ningrum lakukan, pada ibunya yang disandera, pada Lintang yang nyaris dirusak. Dan sesuatu yang lebih tidak nyaman: simpati. Karena ia tahu persis bagaimana rasanya kekuatan dipakai untuk menjebakmu, bagaimana cinta pada keluarga dijadikan rantai.
"Aku bisa kuras kekuatanmu sekarang," kata Damar. "Kamu jadi gak berguna buat Sanggar. Mereka buang kamu."
"Lalu adikku mati." Ningrum menatapnya. "Lakuin aja. Setidaknya aku berhenti jadi alat."
Damar mengangkat tangan. Garis biru menyala. Ningrum menutup mata, pasrah.
Tapi Damar tidak menyentuhnya.
"Enggak," kata Damar, menurunkan tangan. Ningrum membuka mata, bingung. "Kalau aku kuras kamu, aku cuma bikin Sanggar buang kamu, dan adikmu mati. Itu yang mereka mau — kamu jadi sampah." Ia menatap Ningrum lurus. "Aku gak akan main jadi tangan mereka."
"Lalu kamu mau apa?"
Damar mundur, membuka jalan ke lorong barat tempat para GP akan kabur. "Aku mau kamu mikir. Berapa lama lagi kamu mau jadi alat takut buat orang yang gak percaya kamu? Yang nyuruh kamu jaga gerbang sendirian biar kalau aku datang, kamu yang mati duluan?"
Ningrum tidak menjawab. Tapi ada sesuatu yang berubah di matanya — keraguan. Retak halus di topeng yang sudah lama menebal.
"Kita pergi sekarang," kata Damar pada timnya. "Bawa semua yang udah bangun." Lalu, pada Ningrum, lebih pelan: "Adikmu — kalau kamu tahu di mana, kapan pun, datang ke aku. Aku bantu bebasin. Tanpa syarat."
Ia berbalik dan pergi, memimpin dua belas GP keluar dari kegelapan. Ningrum dibiarkan berdiri sendiri di lorong, di antara benci dan keraguan, dengan benih yang baru saja Damar tanam tumbuh pelan di dadanya.