Mereka tidak sampai keluar tanpa lawan.
Di halaman gudang, di bawah gerimis dan lampu sorot, Gelombang menunggu. Kali ini pulih sepenuhnya, urat-urat di pelipisnya berdenyut, telapak menekan ke tanah basah. Tanah bergetar. Genangan air beriak. Tembok gudang di belakang mereka mulai retak halus karena resonansinya.
"Damar Prasetyo," kata Gelombang, suaranya rendah seperti gemuruh sebelum gempa. "Kamu bikin masalah di mana-mana. Aku diutus berhentiin kamu."
Dua belas GP yang baru bebas berhenti, takut. Sari menjerit lirih. Galih memeluknya.
Damar maju ke depan. Ia ingat duel pertama mereka — seri. Ia menyerap sebagian getaran Gelombang dulu, tapi nyaris hancur oleh resonansi karena ia sendirian, tanpa yang menahan. Kali ini berbeda.
"Lintang," kata Damar pelan. "Sekar. Kita udah latihan ini ratusan kali. Sekarang sungguhan."
Gelombang menghentakkan telapak. Gelombang kejut menjalar di tanah ke arah mereka, mengangkat batu kerikil, memecah genangan. Cukup kuat untuk meremukkan tulang.
"Lintang!"
Lintang sudah bergerak. Ia mengangkat kedua tangan, dan ruang di depan mereka melengkung — gelombang kejut itu menabrak dinding ruang yang tak terlihat, membelok ke atas, menghambur ke langit alih-alih ke tubuh mereka. Tanah di belakang dinding tetap rata. Anak itu menahan, gigi terkatup, peluh bercampur gerimis di wajahnya.
"Sekarang Sekar!"
Sekar menjatuhkan kantong sunyi — tapi bukan seperti biasa. Mereka melatih ini. Bukan sunyi yang luas dan tipis. Sunyi yang sempit, pekat, terfokus persis di sekeliling Gelombang. Dunia di sekitar pria itu mati total. Tidak ada getaran tanah yang bisa ia "rasakan". Tidak ada gema. Tidak ada resonansi. Ia kehilangan inderanya yang sesungguhnya.
Gelombang terhuyung, bingung, menghentak liar — tapi tanpa suara untuk dibaca, serangannya buta, menghantam tanah kosong di sebelahnya sendiri.
"Lintang, kurung dia. Sekar, jaga sunyinya."
Lintang mengubah dinding ruang jadi kubah, mengurung Gelombang dalam toples kaca tak terlihat. Pria itu meronta, mengirim getaran, tapi getarannya memantul di dinding ruang, terperangkap, beresonansi balik ke tubuhnya sendiri. Dalam sunyi Sekar, ia tak bisa mengarahkan apa pun.
Damar masuk.
Ia menekan telapak ke punggung Gelombang. Garis biru menyala terang. Dan ia menarik — bukan nyawa, tidak pernah nyawa — tapi getaran itu sendiri, energi yang membuat tubuh ini bisa mengguncang dunia. Resonansi membanjiri Damar, gigi-giginya bergemeletuk, tulangnya seakan retak dari dalam — tapi kali ini Lintang menahan ruang, Sekar menahan sunyi, dan kawan-kawan baru berdiri menjaga punggungnya. Ia tidak hancur. Ia tidak sendiri.
Ia menarik, dan menarik, sampai getaran di tubuh Gelombang habis kering. Sama seperti Baja. Kulit logam Baja luruh jadi daging; kini getaran Gelombang padam jadi diam.
Pria plontos itu jatuh berlutut, terengah, dan saat ia menekan telapak ke tanah — tidak terjadi apa-apa. Tanah diam. Kekuatannya hilang. Mungkin balik, mungkin enggak.
"Kamu... gak bunuh aku," kata Gelombang, terkejut, suara serak.
"Aku gak bunuh siapa pun." Damar berdiri, terhuyung, ditopang Sekar. "Pergi. Mulai hidup baru. Kamu manusia biasa sekarang. Gak ada yang butuh kamu jadi senjata lagi."
Gelombang menatapnya lama. Lalu, tanpa kata, ia bangkit dan terhuyung pergi ke dalam gerimis, lenyap di antara gudang-gudang.
Penegak terkuat Sanggar setelah Baja — lumpuh. Tanpa ada yang mati.
Damar berbalik ke timnya, ke dua belas wajah yang menatapnya dengan campuran takjub dan lega. Lintang nyaris ambruk; Damar menangkapnya. "Bagus, jagoan. Kamu hebat."
Lintang tersenyum lemah. "Kita hebat."
Tapi di kejauhan, di balik gerimis, layar besar papan reklame digital di seberang pelabuhan tiba-tiba menyala. Wajah seorang pria muncul — tenang, berkacamata, tersenyum. Wajah yang belum pernah Damar lihat. Dan suara itu menggema dari setiap layar di kompleks, di kota, mungkin di seluruh negeri:
"Damar Prasetyo. Sudah waktunya kita bicara."