Wajah di layar itu tidak terburu-buru. Itu yang paling menakutkan.
Pria itu duduk di kursi sederhana, latar belakang putih bersih. Kemeja rapi, kacamata berbingkai tipis, rambut beruban di pelipis. Wajah yang bisa kamu temui di ruang tunggu dokter, di seminar bisnis, di rapat sekolah. Bukan wajah monster. Justru karena itu, bulu kuduk Damar berdiri.
"Namaku Pram," kata pria di layar. Suaranya hangat, sabar, seperti guru yang menjelaskan pelajaran sulit. "Dan aku rasa kamu sudah mengejar bayanganku cukup lama. Perusahaan riset bioenergi. Dana gelap. Berkas yang Sekar simpan bertahun-tahun." Ia tersenyum tipis ke arah kamera, seakan melihat mereka. "Halo, Sekar. Kerjamu rapi. Aku mengikutimu sejak sebelum semua ini dimulai."
Sekar membeku di samping Damar. Garis rahangnya mengeras.
Layar-layar di seluruh pelabuhan menampilkan wajah yang sama. Para GP yang baru bebas berkumpul rapat, ketakutan kembali, menatap layar.
"Kamu dalangnya," kata Damar, walau ia tahu Pram tak bisa benar-benar mendengar — ini siaran, bukan percakapan. Tapi Pram menjawab seakan ia tahu persis apa yang akan Damar katakan.
"Dalang itu kata yang kasar," sahut Pram di layar. "Aku lebih suka 'arsitek'. Karena yang aku bangun bukan kejahatan, Damar. Aku bangun masa depan." Ia melipat tangan. "Biar aku ceritakan apa yang berkas Sekar tidak pernah lengkap menjelaskan. Fenomena itu — Generasi Pertama — bukan keajaiban. Bukan kebetulan kosmik. Itu rancanganku. Proyek Benih."
Dokter di klinik dulu sudah mengisyaratkannya. Proyek yang "menyemai" kemampuan ke populasi global. Tapi mendengar arsiteknya sendiri mengakuinya, dengan tenang, dengan bangga — itu hal lain.
"Bertahun-tahun aku dan timku menebar pemicu lewat jaringan global," lanjut Pram. "Air, udara, rantai pasokan. Pemicu genetik yang tidur dalam tubuh manusia, menunggu diaktifkan. Pagi itu — pukul empat dini hari, serentak — aku menyalakannya." Ia menghela napas, hampir menyesal. "Aku akui, itu tidak sempurna. Aku merancang untuk ribuan. Yang terpilih. Yang layak. Tapi pemicunya... lebih subur dari perkiraan. Jutaan ikut bangun. Yang seharusnya tidak. Yang tidak layak."
Damar merasa mual. "Layak. Kamu ngomongin orang kayak benih sungguhan. Yang ditanam, yang dicabut."
"Karena memang begitu cara kerja kebun." Untuk pertama kalinya, ada dingin di balik kehangatan Pram. "Aku yang menciptakan Sanggar, Damar — untuk mengumpulkan yang berguna. Aku yang menyusup ke pemerintahmu — supaya tidak ada yang menghentikan panen. Korporasi yang membiayai semuanya, yang menyuplai teknologi ke dua belah pihak — itu semua aku. Ningrum, Gelombang, fasilitas-fasilitas, semua cabang dari satu pohon. Dan pohon itu aku."
Semua benang yang mereka kejar selama berbulan-bulan — perusahaan misterius, dana gelap, infiltrasi ganda, implan, penyesuaian — semuanya bertemu di satu titik. Satu nama. Pram.
Damar teringat semua wajah yang ia temui sejak pagi salah itu. Baja yang dibayar memburunya. Ningrum yang menyandera ibunya. Gelombang yang nyaris mengubur mereka di reruntuhan. Dokter ketakutan di klinik. Para anak bermata kosong di sel. Selama ini ia mengira ia melawan banyak musuh, banyak tangan. Ternyata semuanya cuma jari dari satu tangan. Tangan pria berkacamata yang duduk tenang di kursi sederhana ini.
"Kamu yang kirim Baja ke gudang Jalan Mawar," kata Damar pelan, suaranya bergetar menahan sesuatu. "Kamu yang taruh anak buah di depan rumah ibuku di Klaten. Semua... cuma rancanganmu."
"Aku tidak mengirim siapa pun untuk satu orang, Damar," sahut Pram, hampir lembut. "Aku menanam sistem. Sistem yang, suatu hari, pasti mengantarmu ke depan layar ini. Dan kamu datang. Tepat seperti yang kuhitung." Ia tersenyum, dan senyum itu lebih dingin dari amarah mana pun. "Kamu tidak pernah lari dariku, Nak. Kamu cuma bergerak di dalam kebun yang aku tanam."
"Kenapa sekarang?" Sekar akhirnya bicara, keras, walau ke layar. "Kenapa nampakin diri sekarang?"
Seakan mendengar, Pram menoleh ke kamera. "Karena dia siap." Pandangannya jatuh — entah bagaimana — tepat pada Damar. "Karena yang aku tunggu sejak awal, akhirnya muncul. Bukan penyembur api. Bukan pengendali ruang. Bukan manipulator takut." Senyumnya melebar pelan. "Penyerap. Kamu, Damar. Kamu satu-satunya yang aku rancang dengan sengaja untuk ada. Dan sekarang kamu sudah cukup matang untuk mendengar kenapa."
Layar bergeser. Latar putih lenyap. Dan muncullah gambar — peta dunia, titik-titik cahaya, jutaan, menyala dan padam.
"Biar aku tunjukkan dunia yang aku bayangkan," kata Pram. "Lalu kamu putuskan: kamu di pihak yang membangun, atau yang meratapi reruntuhan."