Peta dunia di layar berdenyut dengan jutaan titik cahaya. Setiap titik, kata Pram, adalah seorang Generasi Pertama. Sebagian menyala terang. Kebanyakan redup.
"Lihat," kata Pram, suaranya pelan, hampir lembut. "Yang terang adalah yang kuat. Yang berguna. Yang bisa mengangkat peradaban ke tingkat berikutnya. Yang redup..." Titik-titik redup itu mulai memudar di layar, satu per satu, seperti lilin ditiup. "Yang redup adalah beban. Kesalahan dalam panen. Orang-orang yang bangun, tapi tak seharusnya."
Damar mencengkeram telapaknya sampai buku jari memutih. "Mereka manusia. Bukan beban. Bukan kesalahan."
"Tentu mereka manusia." Pram tersenyum sabar, seperti pada anak yang belum paham. "Tapi manusia, sepanjang sejarah, selalu menyeleksi. Spesies tanaman terkuat yang dikembangkan, yang lemah dibuang. Itu bukan kekejaman, Damar. Itu pertanian. Itu peradaban. Aku cuma melakukannya pada skala yang lebih jujur."
"Jujur." Sekar meludahkan kata itu. "Kamu sebut pembunuhan massal 'jujur'."
"Aku menyebutnya menyelamatkan spesies." Wajah Pram di layar tetap tenang. "Lihat dunia kalian sekarang. Sejak fenomena, ada kerusuhan. Jam malam. GP main hakim sendiri. Manusia biasa hidup ketakutan pada tetangga yang bisa membakar rumah dengan satu kedip. Dunia membelah, takut dan kagum, dan itu tidak stabil. Itu akan runtuh." Ia mengangkat satu jari. "Kecuali ada yang menata. Memilih siapa yang memegang kekuatan, dan siapa yang kembali jadi manusia biasa. Tata yang jelas. Dunia baru."
"Dunia barumu," kata Damar, "adalah dunia di mana kamu yang milih siapa hidup berkuasa dan siapa dibuang."
"Bukan aku yang memilih sembarangan." Pram mencondongkan tubuh, dan untuk pertama kalinya matanya menyala dengan sesuatu yang lebih dari ketenangan — keyakinan, mutlak dan dingin. "Yang layak yang memilih. Yang kuat. Yang dirancang. Dan kamu, Damar Prasetyo, adalah yang paling kurancang dari semuanya."
Damar diam.
"Kamu pikir kekuatanmu kebetulan?" Pram tertawa lirih. "Penyerapan. Pelepasan. Kemampuan mengambil kekuatan dari Generasi Pertama mana pun — bahkan, secara teori, semuanya sekaligus. Aku merancang itu, Damar. Aku menebar pemicu khusus, menunggu satu tubuh yang cocok, satu kunci. Kamu adalah kunci yang kuciptakan untuk membuka — atau menutup — seluruh sistem. Tanpamu, dunia baruku tidak lengkap." Ia membuka kedua telapak tangan, seakan menawarkan. "Berdirilah di sampingku. Dengan kekuatanmu menyerap yang lemah dan kekuatanku menata yang kuat, kita selesaikan apa yang kumulai. Tidak ada lagi kerusuhan. Tidak ada lagi Sanggar yang harus menyandera. Tidak ada lagi anak-anak dipaksa. Cukup... seleksi yang bersih. Dan ketertiban."
Di belakang Damar, dua belas GP yang baru bebas mendengar setiap kata. Sari kecil memeluk Galih. Perempuan berkulit pohon. Si remaja cepat. Penyembur api. Orang-orang yang, dalam dunia baru Pram, akan jadi titik redup yang ditiup padam.
Damar memandang mereka. Lalu memandang Lintang — sepuluh tahun, lelah, masih berdiri. Lalu Sekar.
"Kamu bilang aku kunci," kata Damar akhirnya, suaranya tenang, tapi garis biru mulai menyala di sepanjang lengannya, terang, marah. "Kamu rancang aku buat satuin semua kekuatan. Buat bantu kamu milih siapa yang layak hidup." Ia mengangkat tangan, dan layar-layar di seluruh pelabuhan berkedip, lampu sorot meredup, elektronik di sekelilingnya mulai tunduk pada tarikannya. "Tapi kamu lupa satu hal, Pram."
Wajah di layar tidak lagi tersenyum.
"Aku dulu cuma pengangguran di kontrakan 3x3 di Jakarta Timur," kata Damar. "Gak ada yang nanya aku mau jadi kunci. Sama kayak mereka gak nanya mau jadi 'beban'. Kita gak milih jadi apa." Ia menatap lurus ke kamera, ke mata Pram yang dingin. "Tapi kita milih jadi siapa. Dan aku gak akan pernah berdiri di samping orang yang sebut anak-anak ini kesalahan."
Layar Pram diam sejenak. Lalu suara itu kembali, tanpa kehangatan sama sekali, dingin seperti logam:
"Sayang sekali. Kunci yang menolak dibuka... harus dipatahkan."
Setiap layar di pelabuhan menampilkan satu kata, lalu padam serentak ke gelap:
DICARI.
Dan dalam gelap itu, dari segala arah, Damar mendengar suara mesin — bukan satu helikopter, bukan satu pasukan. Banyak. Mendekat. Pram tidak hanya mengarsiteki dunia. Ia mengarsiteki perangkap ini, malam ini, untuk memaksa kuncinya menyerah atau patah.
Damar menarik napas dalam, garis biru menyala terang menerangi wajah-wajah timnya dalam kegelapan.
"Sekar. Lintang." Ia mengepalkan tangan. "Kita lindungi mereka. Semuanya. Sampai keluar."
Perang tiga sisi yang sudah lama membara, malam ini, akhirnya menemukan pusatnya. Dan pusat itu adalah mereka.