Layar-layar di pelabuhan padam serentak, dan dalam gelap itu perangkap Pram menutup.
Mesin datang dari segala arah—truk lapis baja menggeram dari mulut dermaga, lampu sorot menyapu dari atap kontainer, dan langkah-langkah berderap di antara peti kemas. Bukan satu pasukan. Banyak. Pram tidak mengirim mereka untuk menangkap; ia mengirim mereka untuk memaksa kuncinya menyerah atau patah.
"Ke kontainer!" Damar mendorong dua belas GP yang baru bebas ke balik dinding-dinding baja, garis biru menyala terang di sepanjang lengannya menerangi jalan dalam gerimis. Ia tidak meledakkan apa pun—ledakan cuma akan menandai posisi mereka. Ia melakukan hal yang ia latih berbulan-bulan: melepas lonjakan kecil, terarah. Satu per satu, lampu sorot meletup mati, kamera di tiang membuta, sistem komunikasi pasukan berdesis jadi statik. Ia memadamkan mata-mata Pram seperti mematikan sekring, satu demi satu, membuka lorong gelap di tengah pengepungan.
Sekar berlari di sampingnya, menarik Lintang. "Pintu air di sisi utara! Sopir truk sayur kenalanku nunggu di luar pagar—kalau kita sampai sana sebelum mereka tutup gerbang—"
"Kita sampai." Damar menengok ke belakang, memastikan si penyembur api, perempuan berkulit pohon, Sari kecil yang memeluk Galih, si remaja cepat—semua masih ikut, masih hidup. Orang-orang yang, dalam dunia baru Pram, cuma akan jadi titik redup yang ditiup padam. "Kita lindungi mereka. Semuanya. Sampai keluar. Itu janjiku tadi, dan aku gak mungkir."
Mereka bergerak dalam kegelapan yang Damar ciptakan, menyusup di antara barisan kontainer, sementara pasukan yang kehilangan mata dan radio berteriak kebingungan di belakang. Sekali, satu regu nyaris memergoki mereka di mulut lorong; si remaja cepat menarik perhatian, berkelebat ke arah berlawanan, lalu kembali pucat dan terengah, dan kesempatan itu cukup. Mereka menyelinap lewat celah pintu air, melintasi lahan kosong berlumpur, sampai ke pagar tempat sebuah truk sayur menderum dengan lampu mati.
Mereka berdesakan ke bak belakang, dua belas orang dan tiga buronan, dan truk itu melaju keluar dari Wonopati sebelum gerbang pelabuhan benar-benar terkunci.
Tak ada yang bicara untuk waktu yang lama. Hanya guncangan jalan dan napas yang ditahan. Lintang meringkuk di pangkuan Damar, jari-jari kecilnya masih mencengkeram ujung jaketnya. Sari kecil tertidur di bahu Galih. Mereka selamat—untuk malam ini.
Sekar yang pertama memecah kesunyian, suaranya pelan di antara derak mesin. "Kamu baru saja menolak orang yang mengendalikan setengah negeri ini. Di depan layarnya sendiri."
"Aku tahu." Damar menatap garis biru yang memudar di tangannya, garis yang sekarang punya arti baru, mengerikan. Penyerap. Kunci yang sengaja dirancang Pram. Kata-kata di papan reklame itu masih menggema di kepalanya: *Kamu satu-satunya yang aku rancang dengan sengaja untuk ada.* "Dan dia bilang aku dirancang. Sejak awal. Sejak sebelum aku lahir." Suaranya bergetar sedikit. "Sekar, aku harus tahu apa maksudnya. Bukan cuma omongan dia di layar. Aku harus tahu apa aku ini sebenarnya—hitam di atas putih."
Sekar mengangguk perlahan di kegelapan bak truk. "Aku masih nyimpen arsip lama dari masa jurnalisku. Kalau Pram nulis ulang dunia, dia pasti nyatet rancangannya. Ilmuwan selalu nyatet." Ia menepuk ransel berisi laptopnya. "Begitu kita sampai tempat aman, kita bongkar."
Di luar, jauh di belakang, lampu-lampu pelabuhan kembali menyala satu per satu, dan satu per satu kamera pengawas di sepanjang jalan keluar kota berputar—mencari mereka.