Mereka tidak tidur malam itu.
Sekar membongkar laptopnya, menyambungkannya ke arsip lama yang ia simpan dari masa jurnalisnya—folder-folder yang dulu nyaris membuatnya dibunuh sebelum fenomena terjadi. Damar duduk di sampingnya, Lintang tertidur meringkuk di pojok dengan kepala di pangkuan ibunya yang baru beberapa minggu kembali ke pelukannya.
"Kalau dia bilang kamu dirancang," kata Sekar, jari-jarinya berlari di keyboard, "berarti ada catatannya. Pram itu ilmuwan. Ilmuwan menulis semuanya."
Mereka mencari berkas Proyek Benih—nama yang sudah mereka kenal dari pengakuan dokter di klinik berminggu-minggu lalu. Proyek yang menebar pemicu genetik ke populasi global, yang lepas kendali sehingga jutaan, bukan ribuan, ikut terbangun.
Tapi malam ini Sekar mencari bagian yang berbeda. Bukan tentang penyebaran. Tentang tujuan.
Pukul tiga dini hari, ia menemukannya.
"Damar." Suaranya tercekat. "Kemari."
Di layar, sebuah dokumen lama—dipindai, sebagian tinta pudar. Judulnya: PROTOKOL KONVERGENSI. Di bawahnya, diagram. Lingkaran-lingkaran kecil—ratusan, ribuan—mewakili setiap jenis kekuatan. Api. Suara. Ruang. Logam. Beku. Bayangan. Semua mengalir, dengan panah-panah, menuju satu lingkaran di tengah yang jauh lebih besar dari yang lain.
Di lingkaran tengah itu tertulis satu kata: PENYERAP.
"Benih bukan cuma menebar kekuatan secara acak," bisik Sekar, membaca catatan di pinggir halaman. "Dengar ini. 'Sistem yang menyebar liar tidak bisa dikendalikan. Maka pemicu dirancang dengan satu titik konvergensi: satu individu yang kemampuannya adalah menyerap, menampung, dan menyatukan seluruh spektrum kekuatan. Subjek ini—Penyerap—adalah katup pengaman dan saklar utama proyek. Melalui Subjek Penyerap, seluruh kekuatan Generasi Pertama dapat dikumpulkan kembali ke satu tangan, atau dimatikan sekaligus.'"
Damar merasa darahnya turun ke kaki.
"Ini dia," kata Sekar pelan, takut mengucapkannya. "Hitam di atas putih. Persis seperti yang Pram bilang di pelabuhan—tapi sekarang ada buktinya, sampai ke detailnya." Ia menelan ludah. "Penyerap. Satu-satunya. Pram menebar jutaan kekuatan ke dunia, tapi dia menanam satu benih khusus untuk jadi tombol on-off semuanya. Kamu adalah saklar itu, Damar. Senjata terakhir yang dia simpan—atau, kalau jatuh ke pihak lain, ancaman terbesarnya."
Damar menatap garis-garis biru di lengannya. Garis yang dulu ia kira musibah. Garis yang membuat tetangganya panik, yang membuat pemerintah memberinya label Tingkat Merah, yang membuat ibunya menangis di telepon.
Bukan kecelakaan. Bukan keajaiban. Sebuah desain.
"Jadi seumur hidupku," katanya, suaranya datar dan dingin, "aku cuma alat yang sedang menunggu dinyalakan."
"Tidak," kata Sekar cepat, memutar tubuhnya menghadap Damar. "Itu yang dia rancang. Bukan yang kamu jadi. Pram menanam benih. Tapi yang tumbuh dari benih itu—anak yang minta maaf waktu pinjam motor, yang menolak membunuh Baja, yang menyelamatkan anak-anak dari Sarang—itu bukan rancangannya. Itu kamu."
Damar diam lama. Di pojok ruangan, Lintang menggumam dalam tidur, dan ibunya mengusap rambutnya.
Ia teringat pagi itu. Telapak tangannya yang panas, bohlam yang meletup, ponsel yang kosong. Ia ingat berpikir tubuhnya rusak, kacau, sebuah kecelakaan biologis yang menimpanya tanpa alasan. Selama berbulan-bulan ia hidup dengan rasa malu samar itu—seolah ada cacat di dalam dirinya. Sekarang ia tahu kebenaran yang lebih buruk dari cacat. Tidak ada yang rusak. Semuanya bekerja persis seperti yang direncanakan seseorang.
"Pram menyebar pemicunya lewat apa?" tanya Damar pelan. "Berkas ini bilang 'jaringan global.'"
Sekar menggulir ke halaman lain. "Sebelum fenomena, perusahaan riset bioenergi itu punya kontrak distribusi di mana-mana—air kemasan, vaksin, suplemen, entah apa lagi. Aku belum bisa pastikan jalur persisnya. Tapi intinya: pemicunya menyebar luas, lepas kendali, jadi jutaan orang ikut terbangun, bukan ribuan seperti rencana awal." Ia mengetuk satu baris. "Tapi satu benih tidak menyebar. Satu benih disuntikkan terarah. Sengaja. Ke satu orang. Penyerap."
"Tapi kalau aku saklarnya," kata Damar akhirnya, lambat, "berarti aku bisa mematikan semuanya. Semua kekuatan. Semua Generasi Pertama."
"Secara teori," kata Sekar hati-hati.
"Termasuk Lintang. Termasuk kamu."
Sekar tidak menjawab. Itu jawaban yang dia tidak mau berikan. Tangannya berhenti di atas keyboard, dan untuk sesaat ia hanya menatap garis-garis biru yang samar berpendar di lengan Damar—garis yang, ternyata, adalah tali yang mengikatnya pada nasib semua orang yang ia sayangi.
Damar menutup laptop pelan-pelan, seolah takut membangunkan sesuatu di dalamnya. Di luar jendela retak, langit mulai keabu-abuan. Subuh—jam yang sama ketika semua ini dimulai, berbulan-bulan lalu.
"Pram tahu aku ada," katanya. "Tahu di mana aku. Tahu apa aku. Dan sekarang aku menolak tawarannya." Ia menatap Sekar. "Dia tidak akan membiarkan saklarnya berkeliaran bebas. Dia akan mengirim segalanya untuk merebutku—atau menghancurkanku sebelum aku tahu cara memakai diriku sendiri."
Sekar mengangguk perlahan. "Berarti kita harus tahu duluan. Sebelum dia."
Di kejauhan, suara helikopter—samar, lalu hilang. Mereka berdua membeku, mendengarkan. Sunyi lagi.
Tapi keduanya tahu: malam-malam tenang sudah habis.