Damar tidak bisa menyentuh apa pun selama dua hari.
Bukan karena kekuatannya hilang—justru sebaliknya. Setiap kali ia memegang gagang pintu, garis biru menjalar di lengannya tanpa ia minta. Setiap kali ia lewat dekat tiang listrik, ia merasakannya menarik, mendenyut, seperti tubuhnya tahu untuk apa ia diciptakan dan ingin melaksanakannya.
Ia mulai takut pada tangannya sendiri.
"Kamu makin sedikit makan," kata Lintang pada hari ketiga. Anak itu duduk di hadapannya, kaki menggantung dari peti kayu, memandanginya dengan mata yang terlalu dewasa untuk usia sepuluh tahun. "Ibu bilang orang yang sedih suka lupa makan."
Damar memaksakan senyum. "Kakak cuma lagi banyak pikiran."
"Karena tadi malam aku dengar," kata Lintang. "Kakak ngomong sama Kak Sekar. Soal Kakak dibuat buat jadi tombol." Ia memiringkan kepala. "Kayak remote TV?"
Damar tertegun. Lalu, di luar dugaan, ia tertawa—tawa pendek, getir, tapi nyata. "Iya. Kayak remote TV."
"Tapi remote TV gak bisa milih sendiri mau mencet apa," kata Lintang polos. "Kakak bisa milih. Tadi malam Kakak milih gak ikut orang jahat itu, kan?"
Anak itu melompat turun dari peti dan berlari ke ibunya, meninggalkan Damar dengan kalimat yang menancap di dadanya.
Malamnya, Sekar menemukannya duduk sendiri di atap gudang, menatap lampu-lampu kota yang berkedip jauh di bawah. Ia naik tanpa suara dan duduk di sampingnya.
"Aku terus mikir," kata Damar tanpa menoleh. "Seandainya aku gak pernah ada. Seandainya Benih gak nanam benih penyerap itu. Mungkin Pram gak punya saklar. Mungkin dia gak akan pernah bisa menjalankan rencananya. Mungkin semua orang yang mati gara-gara ini—mereka mati karena aku ada."
"Itu cara berpikir yang dia mau kamu pakai," kata Sekar pelan.
Damar akhirnya menoleh.
"Pram mau kamu merasa kotor," lanjut Sekar. "Merasa asal-usulmu busuk, jadi kamu menyerah. Karena selama kamu percaya kamu cuma alat—kamu gak akan berani melawan tukang yang membuatmu." Ia menatap lurus ke mata Damar. "Aku dulu jurnalis. Aku menggali rahasia orang-orang busuk seumur hidup. Dan aku belajar satu hal: dari mana sesuatu berasal gak menentukan apa jadinya. Anak yang lahir dari kejahatan bisa jadi orang paling baik. Senjata bisa menolak menembak."
"Tapi aku bisa membunuh dengan menyentuh," kata Damar, suaranya nyaris bisik. "Aku bisa mematikan kekuatan jutaan orang. Aku bisa menyedot nyawa. Pram membuatku bisa semua itu, Sekar. Bagaimana aku gak takut sama diriku sendiri?"
"Karena kamu takut," jawab Sekar tegas. "Itu jawabannya. Orang yang harus kita takuti adalah yang punya kekuatan dan gak takut memakainya. Kamu? Kamu takut. Kamu bikin aturan buat diri sendiri—gak menyedot nyawa, gak pernah. Kamu pegang aturan itu waktu kamu bisa membunuh Baja tapi kamu lepaskan dia. Pram merancang sebuah kunci. Tapi kunci itu memutuskan untuk punya hati nurani. Itu kegagalan terbesarnya. Dan itu kemenangan kita."
Lama mereka berdua hanya menatap kota.
"Aku gak mau jadi saklar," kata Damar akhirnya. "Aku gak mau jadi orang yang memutuskan apakah Lintang boleh punya kekuatan atau enggak. Itu bukan hakku."
"Mungkin suatu saat kamu harus memutuskan sesuatu yang berat," kata Sekar jujur. "Aku gak mau bohong sama kamu. Tapi sampai hari itu—kamu bukan kunci. Kamu Damar. Kamu yang minta maaf waktu pinjam motor."
Damar tersenyum tipis. "Kamu selalu bawa-bawa motor itu."
"Karena itu hal pertama yang bikin aku percaya kamu beda." Sekar berdiri, membersihkan debu dari celananya. "Pram salah hitung satu hal. Dia kira dia membuat senjata. Tapi senjata gak bisa milih. Kamu bisa. Dan selama kamu bisa milih, kamu menang setiap kali."
Ia mengulurkan tangan menariknya berdiri. Damar menyambutnya—dan untuk pertama kali dalam tiga hari, garis biru tidak menjalar dari sentuhan itu.
Hanya tangan manusia, menggenggam tangan manusia.
"Besok," kata Sekar, "Ardi minta kita kumpul. Katanya dia punya kabar yang gak bisa dia kirim lewat saluran."
Damar mengangkat alis.
"Dia bilang sudah waktunya kita berhenti cuma bertahan," kata Sekar. "Setelah siaran itu, ada lebih banyak orang di dalam yang gak mau perang sama kita. Cukup buat mulai melawan balik."