Pertemuan itu diatur di sebuah pabrik tekstil tua yang sudah lama bangkrut, di pinggiran kota, tengah malam.
Damar tidak suka. Terlalu banyak pintu. Terlalu sedikit jalan keluar. Tapi sejak Ardi bergabung di Pasar Lama, pertemuan-pertemuan seperti ini sudah jadi ritme mereka, dan ia sudah belajar mempercayai instingnya.
Mayor Ardi datang sendiri—seperti biasa. Lelaki bertubuh tegap, sekitar empat puluhan, rambut cepak beruban di pelipis, seragam loreng tanpa lambang kesatuan apa pun. Ia tidak membawa senjata di tangan, meski Damar yakin ada pistol di pinggangnya. Tapi malam ini ada yang berbeda di caranya berdiri: tidak lagi waspada seperti dulu, melainkan tegang oleh sesuatu yang lebih besar—keputusan yang sudah ia ambil sebelum datang.
"Aku bawa kabar," kata Ardi, tanpa basa-basi. "Dan kabar ini mengubah segalanya."
"Dengar dulu sebelum kalian tolak," lanjutnya. "Sejak siaran itu, sesuatu bergeser di dalam. Sebagian dari kami—yang dulu cuma mau cari aman—sekarang muak. Kami melacak ulang buktinya sendiri. Dan kami menemukan hal yang dulu kalian sudah curigai, tapi sekarang aku pegang dokumennya."
"Apa," kata Damar.
"Bahwa orang yang menyuruh kami memburu kalian," kata Ardi pelan, "adalah orang yang sama yang membuat kalian ada. Dana riset, kontrak senjata, teknologi pelacakan—semua mengalir dari satu korporasi. Korporasi yang sama yang mendanai Sanggar." Rahangnya mengeras. "Kita sudah lama tahu mereka dua tangan dari satu tubuh. Sekarang aku tahu di mana kepalanya."
Sekar menegakkan tubuh. "Pram."
Ardi mengangguk, lega dan ngeri sekaligus. "Bukan cuma nama lagi. Lokasi. Jaringan. Sel-sel Sanggar yang dia kendalikan. Selama ini kita cuma bertahan, satu langkah di depan mereka. Aku datang untuk bilang—mungkin kita gak harus terus lari."
Damar melangkah maju. "Kamu yakin sama ini? Kalau salah langkah, kamu kehilangan semuanya."
"Aku sudah kehilangan semuanya waktu ditembaki pasukanku sendiri di Pasar Lama," kata Ardi, dan suaranya retak sedikit. "Yang tersisa cuma anak perempuanku. Umurnya sembilan tahun, dan dia bangun dengan tangan yang bisa membuat tanaman tumbuh dari ubin keramik. Berdasarkan protokol yang aku sendiri ikut tegakkan, anakku adalah ancaman. Aku gak bisa terus jadi telinga yang cuma memperingatkan kalian buat pindah. Aku mau menghentikan tubuh yang akan memburu anakku—dari kepalanya."
Ruangan hening sejenak. Bahkan Damar tidak langsung tahu harus berkata apa.
"Yang aku tawarkan ini," lanjut Ardi, menguasai diri kembali, "lebih dari sekadar telinga di dalam. Faksiku sudah cukup besar sekarang. Mereka siap berhenti bersembunyi dan mulai berburu yang sebenarnya. Pram. Korporasinya. Sel-sel yang dia kendalikan. Kalian punya kekuatan dan informasi. Kami punya akses, senjata, dan orang. Selama ini kita cuma sekutu yang saling lindungi. Aku mau lebih dari itu."
"Koalisi," kata Sekar pelan.
"Koalisi," Ardi mengangguk.
Damar menatap lelaki itu lama. Insting buronannya yang dulu berteriak untuk tidak percaya kini diam—Ardi sudah membuktikan dirinya berkali-kali, dalam darah dan pelarian. Tapi menyerang berbeda dari bertahan. Menyerang berarti keluar dari bayangan. Berarti memberi Pram sasaran.
"Selama ini kita aman karena kita gak kelihatan," kata Damar akhirnya. "Begitu kita nyerang, kita kelihatan."
"Aku tahu," kata Ardi. "Tapi sembunyi selamanya juga bukan hidup. Lintang berhak punya dunia yang gak memburunya."
Nama anak itu membuat Damar terdiam. Lalu ia mengangguk, satu kali.
"Koalisi," katanya.
Ardi mengulurkan tangan.
Damar memandanginya sejenak—garis-garis biru di lengannya tidak menyala. Lalu ia menjabatnya.
Di luar pabrik, tak terlihat oleh siapa pun, sebuah mobil hitam tanpa pelat memarkir di kegelapan. Di dalamnya, seseorang mengangkat radio ke mulutnya dan berbisik:
"Mereka membentuk koalisi. Ulangi—Mayor sudah berkhianat."