Koalisi rapuh itu bertahan tepat sebelas hari.
Dalam sebelas hari, sesuatu mulai bergerak. Ardi menyalurkan informasi: lokasi tiga sel Sanggar, jadwal pengiriman "obat penyesuaian" antar fasilitas, peta jaringan informan Pram di dalam pemerintah. Sekar menyilangkannya dengan arsip lamanya. Damar dan Lintang berlatih—bukan lagi sekadar bertahan hidup, tapi menyerang. Untuk pertama kalinya sejak pagi yang salah itu, mereka tidak hanya lari. Mereka memburu.
Lalu pada hari kedua belas, semuanya runtuh.
Rencana penyergapan sebuah konvoi obat Sanggar—informasi yang seharusnya hanya diketahui Ardi, Sekar, Damar, dan dua anggota faksi Ardi—bocor. Ketika tim koalisi tiba di titik penyergapan, bukan konvoi obat yang menunggu. Yang menunggu adalah penegak Sanggar bersenjata berat dan dua Generasi Pertama elite. Pertempuran pecah. Dua orang Ardi tewas. Tim nyaris tidak lolos.
Dan di tengah asap dan darah, satu kebenaran menyala terang: ada pengkhianat.
"Cuma lima orang yang tahu titik itu," kata Damar, suaranya keras, di markas sementara mereka malam itu. Tangannya gemetar—bukan ketakutan, tapi marah yang ditahan. "Aku. Sekar. Lintang gak ikut perencanaan. Tinggal Ardi dan dua orangnya. Dua orangnya mati di sana." Ia menatap Ardi yang berdiri di seberang meja. "Tinggal kamu."
"Aku tidak membocorkannya," kata Ardi, wajahnya pucat tapi tegak.
"Dua orangmu mati. Kebetulan sekali. Saksi yang bisa membela atau menyalahkanmu—dua-duanya mati di tempat yang cuma kamu yang tahu." Damar melangkah maju. Garis biru menjalar terang di lengannya kini, tak ditahan. "Aku percaya sama kamu karena kamu bilang sayang anakmu. Mungkin itu juga bohong."
"Damar." Suara Sekar, tajam, dari sisi ruangan. "Tahan."
"Dia menjebak kita, Sekar! Dua orangnya mati buat bikin cerita ini kelihatan rapi!"
"Atau," kata Sekar pelan, dan sesuatu dalam nadanya membuat Damar berhenti, "itu persis yang kita disuruh percaya."
Damar menoleh. Lintang, di pojok, memandang dengan mata lebar dan takut—takut bukan pada Ardi, tapi pada wajah Damar yang ia tak kenali.
Sekar maju ke meja, membuka laptopnya. "Pikir, Damar. Pram tahu kamu menolak tawarannya. Pram tahu kamu bertemu Ardi—mobil hitam tanpa pelat, malam itu di pabrik, aku melihatnya pergi." Suaranya cepat sekarang, jurnalis yang menyusun bukti. "Apa cara terbaik menghancurkan koalisi yang baru lahir? Bukan dengan menyerang. Tapi dengan membuat kita saling tuduh. Bunuh dua saksi, biarkan satu yang selamat—pemimpinnya—jadi tertuduh. Pecah dari dalam. Lebih murah daripada perang."
Ardi berdiri kaku. "Aku akan menyerahkan diri untuk diperiksa. Apa pun. Selidiki teleponku, perintahku, rekeningku. Aku tidak peduli. Tapi aku bersumpah, di hadapan kalian—aku tidak menjual orang-orangku."
Damar menatapnya lama. Garis biru di lengannya berdenyut, menuntut, ingin keluar pada seseorang. Pada siapa saja. Ia menyadari betapa mudahnya kemarahan menjadikannya tepat seperti yang Pram inginkan—saklar yang dipicu oleh emosi, bukan pikiran.
Ia menutup matanya. Menarik napas. Garis biru perlahan meredup.
"Sekar benar," katanya akhirnya, suaranya parau. "Kalau aku menuduhmu sekarang, dan kamu memang tidak bersalah—aku menyelesaikan pekerjaan Pram untuknya. Gratis." Ia membuka mata. "Tapi kalau kamu bersalah, dan aku diam—orang lain mati."
"Maka jangan menebak," kata Sekar. "Mari kita buktikan. Kalau bukan Ardi yang bocor, berarti ada orang lain. Orang yang tahu titik itu lewat jalur yang gak kita pikirkan. Telepon yang disadap. Komunikasi Ardi yang dibobol. Agen Pram yang masih bersembunyi di rantai komando, di atas atau di samping Ardi, yang ikut mendengar tanpa kita tahu."
Ardi mengangkat kepalanya. "Kalau itu benar... berarti orang Pram masih ada di dalam kesatuanku. Mendengar setiap perintahku."
"Berarti," kata Damar pelan, "musuh kita gak cuma di luar sana. Mereka di dalam barisan kita sendiri. Dan kita gak akan menang sampai kita bersihkan dulu."
Ia mengulurkan tangan pada Ardi—tangan yang sama yang sedetik lalu nyaris meledakkannya.
"Maaf aku menuduhmu," kata Damar. "Sekarang bantu aku temukan yang benar-benar bersalah."
Ardi menjabatnya, tangannya gemetar lega.
Di pojok ruangan, Lintang akhirnya bernapas lega.