Mencari pengkhianat yang tak terlihat itu seperti mencari kebocoran arus dalam instalasi rumah yang kabelnya tertanam di tembok—Damar tahu pekerjaan itu. Ia pernah jadi pegawai bengkel listrik. Kamu tidak mencari di mana percikannya muncul. Kamu mencari di mana arus seharusnya tidak mengalir.
"Kita umpan," kata Damar pada malam ketiga. "Kayak ngetes kabel. Kita kasih informasi palsu yang beda-beda ke tiap orang. Kalau satu di antaranya muncul di tangan Sanggar—kita tahu siapa yang bocorin."
Ardi menyukai rencana itu. Sekar menyempurnakannya.
Mereka menyebar empat versi palsu sebuah lokasi pertemuan, masing-masing hanya diketahui oleh satu orang dalam rantai komando Ardi. Lalu mereka menunggu. Sekar memantau saluran-saluran yang ia sadap dari masa jurnalisnya; Damar memantau lonjakan komunikasi terenkripsi lewat caranya sendiri—merasakan denyut arus data di kabel-kabel kota, sesuatu yang baru ia sadari bisa ia lakukan sejak Pram mengusik pikirannya tentang batas kemampuannya.
Pada hari kelima, salah satu versi palsu muncul.
Lokasi yang hanya diberikan kepada satu orang: Kapten Wira, ajudan kepercayaan Ardi selama delapan tahun.
"Tidak mungkin," kata Ardi, suaranya nyaris pecah. Mereka menontonnya dari kejauhan di layar—Wira, di sebuah kafe, menyerahkan flashdisk kepada seseorang berjas. "Wira menggendong putriku waktu dia bayi. Dia... dia hadir di pemakaman istriku."
"Itu sebabnya kamu gak pernah curiga padanya," kata Sekar lembut. "Pram gak menanam agen di tempat yang kamu awasi. Dia menanamnya di tempat yang kamu percaya buta."
Mereka tidak menangkap Wira saat itu juga. Itu pelajaran yang Sekar tekankan: satu pengkhianat yang ketahuan tapi dibiarkan jadi pintu untuk menemukan yang lain. Selama dua hari mereka mengikuti jejaknya—siapa yang ia hubungi, ke mana ia melapor. Benang itu mengurai jaringan kecil agen Pram yang tertanam di pemerintah dan, yang lebih mengkhawatirkan, dua orang di antara para netral yang sudah bergabung dengan perlawanan mereka.
Penangkapan dilakukan dalam satu malam, serempak.
Ketika Wira akhirnya berhadapan dengan Ardi, ia tidak menyangkal. Ia hanya duduk, tangan terborgol, menatap meja.
"Mereka punya saudaraku," kata Wira pelan, tanpa diminta. "Adikku. Sanggar menahannya enam bulan lalu. Setiap minggu mereka kirim foto. Setiap minggu satu jari berkurang kalau aku tidak memberi informasi." Ia mengangkat wajah, dan matanya basah. "Aku tidak menjualmu karena uang, Ardi. Aku menjualmu karena aku pengecut yang tidak bisa membiarkan adikku mati sendirian."
Ruangan hening. Damar, yang berdiri di sudut, merasakan amarahnya luruh menjadi sesuatu yang lebih berat. Ia tahu rasa itu. Sandera keluarga sebagai pengungkit—itu cara yang sama yang dipakai untuk menjeratnya sejak awal, lewat ibunya di Klaten.
"Di mana adikmu ditahan?" tanya Damar.
Wira menatapnya, terkejut. "Apa?"
"Aku tanya di mana adikmu ditahan," ulang Damar. "Kamu sudah bikin orang mati. Itu gak bisa dihapus. Tapi kalau kamu kasih tahu di mana adikmu—kami akan coba keluarkan dia. Bukan buat kamu. Buat dia."
Wira menangis tanpa suara, lalu menyebutkan sebuah nama fasilitas.
Setelah ia dibawa pergi, Ardi berdiri lama menatap dinding kosong. "Selama delapan tahun aku percaya orang yang salah," katanya. "Bagaimana aku bisa memimpin koalisi kalau aku bahkan tidak bisa melihat pengkhianat di sebelahku?"
"Karena kamu manusia," kata Damar. "Dan Pram menyerang lewat hal-hal manusiawi—cinta, takut, keluarga. Itu bukan kelemahanmu. Itu yang dia jadikan senjata karena dia sendiri gak punya." Ia menepuk bahu Ardi. "Kamu mau bukti kamu bisa dipercaya? Kamu baru saja membongkar agen Pram di barisan sendiri tanpa menumpahkan darah orang tak bersalah. Itu lebih dari yang Pram bisa lakukan dengan ribuan orangnya."
Sekar masuk, membawa laptopnya, wajahnya tegang dengan sesuatu yang baru. "Barisan kita lebih bersih sekarang," katanya. "Tapi ada perkembangan yang lebih besar."
"Apa?" tanya Damar.
Sekar meletakkan laptop di meja. Di layar, sebuah pesan terenkripsi, baru masuk lewat saluran lama yang Sekar kira sudah mati selamanya.
Pengirimnya: Ningrum.
Pesannya satu baris.
"Aku ingin bicara. Sendirian. Aku tahu di mana Pusat."