Setiap insting di tubuh Damar berteriak bahwa ini jebakan.
Ningrum. Perempuan berjas abu-abu yang menyandera ibunya di Klaten. Yang menyeretnya ke Sarang. Yang berkata "Sanggar tidak pernah mengembalikan apa yang sudah jadi miliknya." Yang nyaris memecah timnya dengan ilusi rasa takut dalam konfrontasi terakhir, sebelum kesunyian Sekar mematahkannya.
Dan sekarang perempuan itu meminta bertemu. Sendirian.
"Tidak," kata Ardi tegas. "Itu bunuh diri. Dia perekrut tingkat tinggi Sanggar. Ini umpan untuk menarikmu keluar."
"Mungkin," kata Sekar pelan. Tapi nadanya tidak yakin. "Atau mungkin tidak."
Damar menoleh padanya. "Kamu kenal dia. Lebih dari kami semua. Apa yang kamu lihat?"
Sekar menatap pesan di layar lama sekali. "Waktu konfrontasi terakhir, aku mematahkan ilusinya dengan kesunyian. Tapi sebelum itu—aku sempat melihat sesuatu di matanya. Sekejap. Bukan kekejaman. Kelelahan." Ia menggeleng pelan. "Aku menggali masa lalunya dulu, sebelum semua ini. Ningrum bukan lahir jadi monster, Damar. Catatan lamaku menyebut dia salah satu korban paling awal Proyek Benih. Direkrut paksa. Dijadikan alat persis seperti yang dia lakukan ke orang lain sekarang. Kebencianku padanya tidak menghapus itu."
"Jadi kamu mau aku temui dia?"
"Aku mau kamu hati-hati," kata Sekar. "Tapi aku juga ingat sesuatu yang kamu lakukan ke Baja. Ke Lintang. Bahkan ke Wira tadi malam." Ia menatap Damar. "Kamu punya kebiasaan menanam keraguan di hati orang yang Pram kira sudah jadi senjatanya. Mungkin kamu sudah menanamnya di Ningrum waktu konfrontasi itu, dan kamu gak sadar."
Mereka bertemu di tempat terbuka—lapangan parkir gedung perkantoran tua yang ditinggalkan, di siang bolong, agar tak ada bayangan tempat bersembunyi. Damar berdiri sendiri di tengah, tapi tidak benar-benar sendiri: Sekar berjaga di gedung seberang, siap menjatuhkan kesunyian; Lintang bersamanya, siap menekuk ruang menutup jalan kabur; Ardi dengan timnya mengepung dari jarak jauh.
Ningrum datang berjalan kaki. Sendirian, seperti janjinya. Jasnya tidak lagi rapi—kusut, kerah robek kecil, dan untuk pertama kali Damar melihatnya, sanggul rambutnya yang biasa ketat sempurna kini berantakan. Perempuan yang dulu mengendalikan setiap ruangan yang ia masuki kini tampak seperti seseorang yang sudah lama tidak tidur.
"Kamu datang sendiri," kata Ningrum. Ada keterkejutan tulus di suaranya. "Setelah semua yang kulakukan padamu. Pada ibumu."
"Sekali ini, aku mau dengar dulu," kata Damar dingin. "Bicara."
Ningrum menarik napas. "Pram tidak mempercayaiku lagi. Sejak kamu menolak tawarannya, ia jadi paranoid—membersihkan barisannya sendiri, menyingkirkan siapa pun yang ia rasa lemah. Dan ia tahu aku gagal merebutmu. Berkali-kali." Ia mengangkat dagu, sisa-sisa kesombongan lama. "Aku tahu cara berakhirnya orang yang gagal di Sanggar. Aku sudah lihat terlalu banyak."
"Jadi ini soal menyelamatkan dirimu," kata Damar.
"Mungkin. Awalnya." Ningrum menatap tanah. "Tapi ada sesuatu yang kamu katakan padaku waktu kita terakhir bertemu. Kamu bilang aku juga korban. Bahwa aku tidak harus jadi tangan orang yang menghancurkanku." Suaranya melemah. "Aku merancang penculikan dengan menyandera keluarga. Aku tahu persis caranya, karena dulu mereka menyandera keluargaku untuk mengikatku. Aku jadi persis hal yang dulu menghancurkanku. Dan aku terlalu takut untuk berhenti—sampai kamu menunjukkan ada orang yang bisa punya kekuatan dan tetap menolak jadi monster."
Damar tidak berkata apa-apa. Garis-garis biru di lengannya tetap tenang.
"Aku tidak minta pengampunan," kata Ningrum. "Tidak ada cukup pengampunan untuk apa yang sudah kulakukan. Tapi aku bisa memberimu sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun di pihakmu." Ia mengeluarkan dari saku jasnya sebuah perangkat kecil—chip hitam tak lebih besar dari kuku. "Lokasi Pusat. Jantung Proyek Benih. Tempat Pram mengendalikan pemicu global dan setiap implan di tengkuk para Generasi Pertama yang dia rekrut. Termasuk implan yang dulu ada di tengkuk anak itu." Matanya bergerak ke Lintang.
Damar menatap chip itu. Lalu menatap mata Ningrum—mencari kebohongan, ilusi, jebakan.
Yang ia temukan hanya kelelahan. Dan sesuatu yang ia kenali: orang yang ingin, untuk sekali dalam hidupnya, melakukan satu hal yang benar.
"Kenapa," tanya Damar pelan. "Kenapa sekarang."
"Karena," kata Ningrum, dan suaranya hampir pecah, "kalau aku mati nanti, aku ingin mati sebagai sesuatu selain alat Pram. Sekali saja. Sebelum akhirnya."
Damar mengulurkan tangannya, dan Ningrum meletakkan chip itu di telapaknya.