Gerbang Pusat masih menganga di tempat Ningrum merobohkannya dengan nyawanya. Damar tidak punya waktu untuk berduka. Ia menyimpan kesedihan itu di suatu tempat di dadanya, seperti menyimpan baterai cadangan, dan berlari masuk bersama Sekar dan Lintang ke koridor putih yang membelah perut gunung.
"Mereka tahu kita di dalam," kata Sekar, napasnya pendek. "Ningrum bilang garda Pram menunggu di lapis ketiga."
Lapis ketiga adalah ruang besar setinggi tiga lantai, lantai beton dingin, dinding dipenuhi panel kaca yang memantulkan lampu putih keras. Dan di sana mereka berdiri—garda elite. Bukan tiga puluh dua mata kosong seperti di Sarang dulu. Hanya empat orang. Tapi keempatnya berdiri tegak, sadar, dan rapi seperti senjata yang baru diasah.
Yang pertama membakar udara di sekitar tangannya menjadi pijaran putih. Yang kedua membelah dirinya jadi enam bayangan yang berjalan ke samping. Yang ketiga, perempuan tinggi, mengangkat tangan—dan separuh ruangan tiba-tiba miring, gravitasi seperti tertarik ke dinding kiri. Yang keempat hanya seorang lelaki muda dengan tangan di saku, dan udara di belakangnya berkerut seperti panas di atas aspal.
Damar mengenali kerutan itu. Itu kerutan yang sama dengan milik Lintang.
"Pengendali ruang," bisik Lintang. Suaranya tidak gentar, hanya kecil.
"Kamu tidak harus—" mulai Damar.
"Aku harus." Lintang melangkah maju, sepuluh tahun, kaus kebesaran, dagu terangkat. "Kakak yang lain. Aku yang ini."
Tidak ada waktu berdebat. Yang membakar menyerang lebih dulu, melemparkan busur api ke arah Sekar. Sekar tidak menghindar—ia membuka mulut tanpa suara dan ledakan api itu menjadi bisu, kehilangan deru, dan dalam keheningan tiba-tiba itu si penyembur api kehilangan irama. Damar menjangkau panel listrik di dinding lewat rangka logam lantai, menariknya ke dalam tubuh, dan melepaskan ledakan biru terukur yang melempar lelaki itu menabrak panel kaca.
Si penggandaan datang dari enam arah sekaligus. Damar tidak bisa melawan enam. Tapi Sekar bisa. Ia membalik kemampuannya, melipatgandakan langkah kaki keenam bayangan jadi raungan dari segala penjuru, sampai si penggandaan sendiri tak tahu mana dirinya yang asli.
"Yang asli napasnya beda!" teriak Sekar, suaranya menembus kekacauan yang ia ciptakan sendiri. "Yang gandaan nggak bernapas, Damar—cari yang dadanya naik-turun!"
Damar menyipitkan mata di tengah enam sosok yang berputar. Lima bergerak terlalu mulus, terlalu sempurna. Satu—yang di kiri—dadanya kembang-kempis cepat karena lelah. Damar menyentuh yang itu, menyedot energi penggandaannya—dan kelima bayangan lain mengempis lenyap sekaligus, seperti balon ditusuk jarum.
Lintang dan lelaki muda itu berhadapan di tengah ruangan yang miring.
Lelaki itu menekuk lantai di bawah kaki Lintang, mencoba meremukkannya jadi bola seperti yang dulu Lintang lakukan pada tong sampah. Lintang merasakannya—tekanan dari segala arah, menjepit dadanya. Ia mengingat malam-malam mimpi buruk, ketika Damar memeluknya dan berbisik, kamu yang pegang kekuatanmu, bukan sebaliknya.
Lintang tidak menekuk balik. Ia melepaskan tekukannya sendiri di titik yang sama, melawan arah, dan dua distorsi ruang bertabrakan di udara seperti dua tangan saling mendorong. Kaca-kaca di sekeliling pecah berderak.
"Kamu lebih tua dariku," kata Lintang, gigi terkatup, "tapi kamu masih takut. Aku ngerasain takutmu di ruang ini."
Lelaki itu tersentak. Sedetik—hanya sedetik—konsentrasinya goyah. Lintang menarik seluruh tekukan ruang ke satu titik kecil di antara mereka, lalu melepasnya seperti melepas karet. Gelombang ruang itu menampar lelaki muda ke dinding dan membuatnya jatuh, sadar tapi tak mampu bangun, kekuatannya padam karena kelelahan.
"Kamu menang," kata Damar, terengah, di sisi Lintang.
Lintang menatap lelaki yang terkapar itu. Ia tidak tersenyum. "Dia bukan jahat. Dia cuma disuruh." Ia menelan ludah. "Sama kayak aku dulu."
Si pengendali gravitasi, yang terakhir berdiri, menatap keempat rekannya yang tumbang. Ruangan perlahan kembali datar. Lalu, mengejutkan, ia menurunkan tangannya.
"Kalau kalian mau bunuh Pram," katanya, suara serak, "aku tidak akan menghalangi. Dia menanam sesuatu di tengkukku. Kalau dia mati, mungkin aku bisa tidur tanpa mimpinya."
Sekar dan Damar bertukar pandang. Lapis ketiga jatuh.
Di ujung koridor, sebuah pintu baja melingkar mulai terbuka dengan dengung rendah, menampakkan tangga turun ke kegelapan. Dari bawah, cahaya biru pucat berdenyut, seperti jantung.
Damar tahu Pram menunggu di bawah sana.