Tangga itu turun jauh, jauh lebih dalam dari yang Damar kira. Dinding beton berganti dinding logam, lalu logam berganti kaca tebal yang di baliknya mengalir kabel-kabel sebesar lengan, berpendar biru pucat. Damar bisa merasakan listrik di sana—begitu banyak, begitu padat, sampai kulitnya gatal dan garis-garis biru di lengannya menyala sendiri tanpa ia panggil.
"Jangan ambil dulu," bisik Sekar, melihat lengannya. "Kita belum tahu apa itu."
Ruang inti berbentuk bulat, seperti bagian dalam telur raksasa. Di tengahnya berdiri sebuah kolom transparan setinggi dua orang, penuh cairan jernih dan benang-benang cahaya yang berdenyut teratur—denyut yang Damar lihat dari atas tadi. Dari kolom itu menjalar ratusan kabel ke segala arah, menembus dinding, menuju seluruh dunia.
"Hati-hati," gumam Lintang, matanya mengikuti kabel-kabel yang menggeliat di balik kaca. "Ruang di sini... aneh. Kayak ada yang ngangkat semua benda dikit-dikit."
Damar merasakannya juga. Bukan ruang yang ditekuk Lintang. Sesuatu yang lebih tua, lebih besar, seakan seluruh gunung menahan napas di sekeliling kolom itu.
Dan di depan kolom, membelakangi mereka, berdiri seorang lelaki bertubuh kurus dalam kemeja sederhana yang digulung lengannya. Rambutnya beruban di pelipis. Ia tidak menoleh saat mereka masuk.
"Damar Prasetyo," kata Pram, suaranya tenang, hampir lembut. "Akhirnya. Aku menunggu hari ini lebih lama dari yang kamu bayangkan."
"Matikan itu," kata Damar. "Apa pun yang kamu lakukan ke orang-orang. Hentikan."
Pram berbalik. Wajahnya tidak seperti monster. Itu wajah seorang guru yang lelah, mata yang teduh, senyum tipis yang nyaris menyedihkan. "Itu yang ingin kutunjukkan padamu. Karena aku rasa, dari semua orang, hanya kamu yang akan mengerti beban yang sebenarnya."
Ia menyentuh kolom. Cahaya di dalamnya melambat.
"Ini Pemicu Benih," kata Pram. "Jantung dari segalanya. Dari sinilah pemicu genetik disebar ke seluruh dunia, dan dari sini ia dijaga tetap hidup. Setiap Generasi Pertama—setiap orang yang bangun dengan kekuatan pagi itu—terhubung ke benang ini. Termasuk gadis kecilmu. Termasuk perempuan yang berdiri di sampingmu."
Sekar mengeras. Lintang menggenggam ujung kaus Damar.
"Kamu pikir kamu datang ke sini untuk membunuh dalang dan menyelamatkan dunia," lanjut Pram. "Tapi izinkan aku jujur, karena kebohongan sudah terlalu banyak. Kalau kamu matikan Pemicu ini—dan kekuatan penyerapanmu memang bisa mematikannya, hanya kekuatanmu yang bisa—kamu tidak hanya menghentikan penyebaran." Ia menatap Damar lurus. "Kamu mencabut akarnya dari semua orang. Setiap Generasi Pertama akan kehilangan kekuatannya. Semuanya. Sekaligus."
Ruang inti hening. Hanya denyut kolom yang terdengar.
"Bohong," kata Sekar, tapi suaranya tidak yakin.
"Aku yang merancangnya," kata Pram pelan. "Untuk apa aku berbohong tentang ciptaanku sendiri di saat seperti ini?" Ia menoleh ke Lintang. "Anak ini. Tekukan ruangnya. Itu bukan miliknya—itu pinjaman dari benang ini. Cabut benangnya, dan dia kembali jadi anak sepuluh tahun biasa yang takut gelap. Mungkin itu kasihan. Mungkin itu kejam. Aku tidak tahu lagi."
Damar menatap kolom. Lalu menatap Lintang. Lalu Sekar—Sekar yang mengirim pesan pertama di pagi yang salah itu, Sekar yang menahan Baja dengan satu trik di gudang Jalan Mawar, Sekar yang punya satu kekuatan dan menggunakannya untuk menyelamatkan nyawanya berkali-kali.
"Kenapa kamu cerita semua ini?" tanya Damar. "Kalau aku benar-benar bisa matikan kekuatan semua orang, kamu seharusnya menyembunyikannya, bukan memberitahuku."
Pram tersenyum tipis, seperti guru yang senang muridnya bertanya hal yang tepat. "Karena aku tidak takut kamu mematikannya. Aku takut kamu memilih jalan yang lebih mudah—membunuhku, dan mengira masalahnya selesai. Tidak. Aku ingin kamu tahu beban penuhnya. Aku ingin kamu memilih dengan mata terbuka, bukan dalam ketidaktahuan. Itu satu-satunya kehormatan yang masih bisa kuberikan pada ciptaanku."
"Aku bukan ciptaanmu," kata Damar.
"Kamu kira aku akan mundur," lanjutnya, pelan, "karena kamu menakutiku dengan pilihan."
"Tidak," kata Pram, dan untuk pertama kalinya senyumnya menghilang. "Aku tahu kamu tidak akan mundur. Itulah yang membuatmu sempurna untuk apa yang kurancang. Kamu kunci itu, Damar. Aku yang membuatmu menjadi kunci."
Garis-garis biru di lengan Damar berdenyut lebih cepat. Di belakangnya, Sekar mencengkeram lengannya, dan ia tahu tanpa menoleh bahwa perempuan itu sedang berpikir hal yang sama dengannya: ini jebakan, dan jebakannya adalah kebenaran.