Damar tidak bergerak. Tangannya menggantung di sisi tubuh, garis biru menyala, dan di hadapannya Pemicu Benih berdenyut seperti memanggilnya.
"Pikirkan baik-baik," kata Pram, melangkah ke samping, memberi Damar pandangan penuh ke kolom. "Karena begitu kamu menyentuh ini, tidak ada jalan kembali. Itu kalimat yang sering dikatakan perempuanmu, bukan? Aku mendengarnya. Kami mendengar banyak hal."
Damar mengabaikan provokasi itu. Otaknya bekerja seperti saat ia memperbaiki instalasi listrik dulu—menelusuri kabel, mencari di mana arus mengalir, di mana letak korslet.
"Ada dua jalan di depanmu," kata Pram, dan kini ia bicara seperti benar-benar ingin Damar mengerti, bukan menjebaknya. "Jalan pertama: kamu matikan Pemicu. Dunia kembali 'normal'. Tidak ada lagi Generasi Pertama. Tidak ada Sanggar yang memburu, tidak ada pemerintah yang mengklasifikasi ancaman, tidak ada anak-anak diculik karena kekuatannya. Damai. Tapi kamu merampas sesuatu dari jutaan orang tanpa bertanya. Termasuk dari gadis itu, yang kekuatannya satu-satunya yang membuatnya merasa tidak tak berdaya."
Lintang menunduk. Tangannya terkepal.
"Jalan kedua," lanjut Pram, "kamu biarkan. Dan aku menyelesaikan apa yang kumulai. Aku menyeleksi. Yang layak tetap kuat. Yang tidak, disingkirkan. Dunia baru yang bersih, dibangun oleh yang terbaik dari spesies kita. Aku tahu bagaimana itu terdengar di telingamu. Tapi tanyakan pada dirimu—dunia yang lama, yang kamu tinggali, di kontrakan tiga kali tiga, menganggur, diabaikan—apakah itu lebih adil?"
"Jangan," kata Sekar, tajam. "Jangan dengarkan dia bicara seolah-olah dua pilihan itu satu-satunya yang ada." Ia melangkah maju, dan suaranya—suara jurnalis yang dulu mengejar perusahaan riset bioenergi sampai ke dana gelapnya—mengeras. "Aku kenal cara orang sepertimu kerja, Pram. Kamu bikin orang percaya cuma ada dua pintu, padahal kamu sendiri yang ngebangun temboknya. Bertahun-tahun aku ngubek-ngubek berkasmu. Proyek Benih. Eksperimen manusia. Kamu menyemai kekuatan ke jutaan orang tanpa izin, terus sekarang minta Damar yang nanggung dosanya."
Pram memandangnya dengan sesuatu yang nyaris seperti rasa hormat. "Kamu wartawan yang gigih. Sayang kamu tidak pernah menemukan satu hal: aku tidak pernah berencana jutaan yang bangun. Hanya ribuan. Yang terpilih. Pemicunya yang lepas kendali—menyebar lebih jauh dari yang kurancang. Itu kesalahanku. Dan kesalahan itulah yang ingin kuperbaiki lewat seleksi."
"Memperbaiki kesalahan dengan kesalahan lebih besar," kata Sekar. "Itu bukan perbaikan. Itu cuma kesombongan yang lebih rapi."
Damar memandang Pemicu. Lalu ia berkata, perlahan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun: "Aku lulusan SMK listrik. Tahu apa yang paling sering salah dipikirkan orang soal arus?"
Pram mengangkat alis.
"Mereka pikir cuma ada dua keadaan. Nyala atau mati. Satu atau nol." Damar mengangkat tangannya, menatap garis biru di kulitnya sendiri. "Padahal di antara nyala dan mati ada seribu hal. Ada redup. Ada teredam. Ada disalurkan ke tempat lain. Ada cuma satu jalur yang diputus, sementara yang lain tetap hidup."
Untuk sepersekian detik, sesuatu berkelebat di mata Pram—dan itu bukan ketenangan. Itu kewaspadaan.
"Kamu merancang aku jadi sakelar," kata Damar. "On atau off. Itu yang kamu mau. Tapi aku bukan sakelar, Pram. Aku tukang listrik."
Sekar tersenyum tipis di sampingnya, meski tangannya gemetar.
"Kalau begitu kamu belum mengerti seberapa dalam aku merancangmu," kata Pram, dan suaranya kehilangan kelembutannya. Ia mundur ke balik kolom, dan dari dinding-dinding melingkar ruang inti, panel-panel terbuka, menampakkan kabel-kabel yang menggeliat seperti urat. "Aku tidak hanya membuat Pemicu. Aku menyimpan sebagian untuk diriku sendiri. Kupikir aku tidak akan pernah memakainya. Kupikir kamu akan memilih dengan benar."
Udara di ruang inti mulai bergetar. Cahaya biru dari kolom melonjak, menjalar ke tubuh Pram lewat kabel-kabel itu, dan tubuh kurus lelaki tua itu mulai bersinar dari dalam.
"Lintang, Sekar—mundur ke tangga," kata Damar, melangkah maju, garis birunya menyala penuh. "Apa pun yang dia jadi, jangan dekat-dekat."
"Aku tidak akan meninggalkanmu," kata Sekar.
"Aku tahu." Damar tersenyum kecil, lelah, di tengah cahaya yang membesar. "Makanya aku minta. Bukan nyuruh."