Cahaya biru itu menelan tubuh Pram seluruhnya. Ketika meredup, lelaki tua kurus itu tidak lagi terlihat tua. Kulitnya berpendar dengan garis-garis yang sama persis seperti milik Damar—tapi seratus kali lebih terang, seratus kali lebih padat, seakan seluruh Pemicu mengalir ke dalam satu tubuh.
"Inilah yang kusimpan," kata Pram, suaranya kini bergema, beresonansi dengan dengung ruang. "Bukan satu kekuatan. Aku mengambil sedikit dari setiap benang. Api. Ruang. Getaran. Bayangan. Dan ya—penyerapan, sepertimu. Aku arsiteknya, Damar. Kenapa aku puas dengan satu kunci kalau aku bisa memegang semua gemboknya?"
Ia mengangkat tangan, dan dari telapaknya melesat busur api yang sama dengan si garda penyembur tadi—tapi sebesar pintu. Damar menarik listrik dari kabel-kabel di dinding, sekuat yang ia bisa, garis biru menyala dari pergelangan sampai bahu, lalu melepaskan ledakan biru untuk menahannya. Dua energi bertabrakan di tengah ruang dengan dentuman yang mengguncang lantai. Pecahan kaca berhamburan. Damar terlempar mundur, punggungnya menghantam dinding melingkar, napasnya tercekat.
"Itu cuma satu kekuatanku," kata Pram, melangkah pelan, tidak terburu-buru, seperti orang yang tahu pertarungan ini sudah ditakdirkan menang. "Aku punya selusin lagi. Kamu cuma punya satu, dan satu itu pun rancanganku."
"Damar!" Sekar berteriak dari mulut tangga.
"Tetap di sana!" balas Damar, bangkit. Rusuknya nyeri. Energi di tubuhnya menggelegak, menuntut dilepaskan, dan ia harus menahannya agar tidak meledak tak terkendali.
Pram melangkah maju, dan setiap langkahnya udara berkerut—tekukan ruang, kekuatan Lintang, dipakai oleh tangan yang jauh lebih tua dan kejam. Lantai di bawah kaki Damar mulai menjepit, menekan dari segala arah, persis seperti yang dilakukan garda muda pada Lintang tadi. Damar merasa tulang rusuknya berderak.
Ia melakukan apa yang Lintang ajarkan tanpa sadar mengajarinya. Ia tidak melawan tekukan dengan kekuatan. Ia menyerap energi tekukan itu—menariknya keluar dari ruang, menelannya. Tekanan lenyap. Damar berdiri tegak, terengah, garis birunya makin terang.
"Bagus," kata Pram, dan ia benar-benar tampak senang. "Kamu belajar di tengah pertarungan. Itu yang kuharapkan dari kunci. Tapi kamu tidak bisa menyerap secepat aku bisa melepas."
Pram melepaskan semuanya sekaligus—api dari kanan, getaran yang meretakkan dinding dari kiri, tekukan ruang dari depan, dan bayangan-bayangan yang menerkam dari segala sudut. Damar tidak bisa menahan semuanya. Api menjilat lengannya, getaran menjatuhkannya berlutut, dan untuk sesaat dunia menjadi cahaya dan nyeri.
Lalu, dari mulut tangga, datang kesunyian.
Sekar membuka kemampuannya seluas yang ia bisa—bukan meredam Pram, tapi meredam seluruh ruang. Getaran Pram kehilangan dengungnya. Resonansi yang meretakkan dinding tiba-tiba kehilangan suaranya, dan tanpa suara, getaran itu kehilangan sebagian kuasanya. Pram tersentak, terganggu.
Dan dari sisi Sekar, sebuah tangan kecil terangkat. Lintang. Anak itu tidak mendengarkan perintah untuk mundur sepenuhnya. Ia berlutut di anak tangga, wajah menegang, dan menahan tekukan ruang Pram dari jauh—bukan untuk menyerang, hanya menahan, melawan tekanan yang hendak meremukkan Damar. Sepuluh tahun, melawan sang arsitek, gemetar tapi tidak menyerah.
"Lintang—" Sekar mencengkeram bahunya, tapi tetap menahan kesunyiannya.
"Aku bisa," desis Lintang, keringat di pelipisnya. "Sebentar saja. Kakak butuh sebentar."
Detik itu cukup. Damar bangkit dari lututnya. Lengannya melepuh, napasnya tersengal, tapi matanya jernih.
"Kamu pikir aku akan menang dengan lebih kuat darimu," kata Damar, terhuyung maju. "Aku tidak akan pernah lebih kuat darimu. Kamu punya semuanya."
"Lalu kenapa kamu masih berdiri?" tanya Pram, dan untuk pertama kalinya ada kegusaran di suaranya.
"Karena aku tidak sendiri," kata Damar. Ia menoleh sekilas ke Sekar di tangga, yang mukanya pucat oleh kelelahan tapi tetap menahan kesunyian itu. Dan ke Lintang di belakang Sekar, tangan terangkat, menahan tekukan ruang Pram dari jauh, melawan, sepuluh tahun melawan sang arsitek. "Kamu merancang kekuatan. Tapi kamu lupa merancang orang yang mau berdiri di belakang seseorang."
Damar mengulurkan tangannya ke arah Pram, dan untuk pertama kalinya sejak pagi yang salah itu, ia membuka dirinya sepenuhnya—bukan untuk meledak, tapi untuk menyerap.