Saat telapak Damar menyentuh dada Pram, dunia menyusut menjadi satu titik.
Damar pernah menyerap dari kabel, dari motor, dari pagar listrik. Ia pernah menyerap kekuatan Baja sampai habis. Tapi tidak ada yang seperti ini. Energi Pram bukan satu arus—itu samudra, ratusan benang dari ratusan kekuatan, mengalir masuk ke tubuh Damar sekaligus. Api memenuhi nadinya. Getaran mengguncang tulangnya. Tekukan ruang mencoba meremukkannya dari dalam.
"Kamu tidak bisa menampungku," desis Pram, mencengkeram pergelangan Damar. Garisnya masih menyala, tapi mulai meredup. "Tubuhmu akan hancur. Aku adalah segalanya. Kamu hanya kunci."
"Aku tahu," kata Damar lewat gigi terkatup. Tubuhnya bergetar, garis birunya menyala sampai ke wajah, dan ia tahu Pram benar—ini terlalu banyak, energi ini menggelegak menuntut keluar, dan kalau ia tahan ia akan meledak bersama seluruh gunung.
Maka ia tidak menahannya.
Ia menyalurkannya. Seperti yang ia katakan—bukan sakelar, tapi tukang listrik. Ia membuka jalur lain. Energi yang masuk dari Pram, ia alirkan keluar lewat telapak tangannya yang lain, ke dalam kabel-kabel kosong di dinding, ke dalam Pemicu yang berdenyut, melepaskannya kembali ke tanah, ke batu gunung, ke mana saja asal tidak menumpuk dalam tubuhnya. Ia menjadi konduktor. Pintu masuk dan pintu keluar pada saat yang sama.
Pram menyadari terlambat. "Tidak—kamu tidak boleh—itu milikku, itu kurancang untuk—"
"Kamu rancang aku jadi wadah," kata Damar lewat gigi terkatup, lengannya bergetar. "Tapi wadah yang bocor di kedua ujung itu cuma pipa. Dan pipa nggak menyimpan apa-apa. Cuma mengalirkan."
Garis-garis di tubuh Pram meredup dari terang menjadi kelabu. Api di nadinya padam. Tekukan ruang di sekitarnya melurus. Getaran berhenti. Satu per satu, kekuatan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun, kekuatan yang ia rancang untuk dirinya sendiri, tersedot keluar lewat satu telapak Damar dan dibuang lewat telapak yang lain ke perut bumi. Tubuh kurus tua itu mulai gemetar, melemah, mengecil, sampai yang tersisa hanyalah seorang lelaki tua dengan kemeja yang digulung lengannya, berlutut di lantai beton, sama biasanya dengan kakek mana pun di pasar pagi.
Damar masih memegang dadanya. Garis biru di tangan Damar berdenyut—dan ia merasakannya. Di balik semua kekuatan itu, masih ada satu benang lagi. Hangat. Berdetak. Nyawa Pram sendiri. Ia bisa menariknya, semudah menarik yang lain. Sekali tarik, dan dalang ini takkan pernah bisa bangkit lagi. Tidak ada penjara yang bisa menahannya kabur, tidak ada pengadilan, tidak ada risiko. Hanya satu tarikan.
Sekar mengenali tatapan itu dari kejauhan, seperti ia mengenalinya saat sekutu netral mereka tewas dulu melindungi Lintang, saat Damar berduka dan amarahnya nyaris membuatnya menyeberang garis. "Damar," panggilnya, lembut, dari mulut tangga. "Aturan yang kamu buat sendiri. Di bengkel itu, waktu kamu latihan kendali pertama kali. Kamu yang bikin aturannya. Bukan dia."
Damar mendengar hitungan dosa-dosa Pram berdengung di kepalanya—sandera ibunya di Klaten, ibu Lintang di sel, anak-anak dengan implan di tengkuk, sekutu netral yang gugur, Ningrum yang mati di gerbang. Setiap nama itu seperti membisikkan tarik saja, tarik nyawanya, dia pantas. Jarinya berkedut di dada Pram.
Lalu ia mendengar napas Lintang, kecil dan cepat, di anak tangga. Anak yang ia janjikan untuk tidak menyakiti siapa pun yang sudah menyerah.
Damar menutup matanya. Lalu ia menarik tangannya lepas dari dada Pram.
"Tidak," katanya, suara serak. "Kamu merancang aku jadi senjata yang mengambil nyawa. Kunci yang membunuh." Ia mundur selangkah, terhuyung. "Aku menolaknya. Sama seperti aku menolak membunuh Baja. Kamu boleh ambil semua yang kamu rancang dariku, tapi tidak yang itu."
Pram menengadah dari lantai. Wajahnya yang dulu teduh kini hanya wajah orang tua yang kalah, mata berkaca-kaca—entah karena marah, entah karena sesuatu yang lebih sulit ia akui. "Kamu seharusnya menjadi sempurna," bisiknya. "Kenapa kamu malah... cukup manusia?"
Damar tidak menjawab. Ia jatuh berlutut di samping kolom Pemicu yang kini berdenyut tenang, kekuatan sang arsitek terkuras habis dan hilang permanen, seperti Baja, seperti yang pernah ia lakukan. Sang dalang sudah jadi manusia biasa.
Tapi Pemicu masih menyala. Masih terhubung ke seluruh dunia. Dan kini hanya Damar yang memegang kuncinya.