Sekar dan Lintang berlari menuruni sisa tangga begitu mereka yakin Pram tak lagi bisa bangkit. Lintang langsung memeluk pinggang Damar, kepalanya di rusuk yang nyeri itu, dan Damar membiarkannya, satu tangan mengusap rambut anak itu sementara tangan satunya masih menempel di kolom Pemicu.
"Kamu terluka," kata Sekar, berlutut, memeriksa lengannya yang melepuh.
"Masih hidup," kata Damar. "Itu sudah lumayan."
Pram duduk bersandar ke dinding, dijaga oleh garda elite yang tadi membelot—si pengendali gravitasi, yang kini berdiri mengawasi mantan tuannya dengan tatapan yang sulit dibaca. Lelaki tua itu tidak melawan. Tidak ada lagi yang bisa ia lawankan. Kekuatannya hilang, rencananya runtuh, dan satu-satunya orang yang ia rancang untuk mewujudkan dunia barunya malah menolaknya.
"Implan di tengkukku," kata si pengendali gravitasi tiba-tiba, pada Damar, suaranya datar. "Masih hidup. Aku masih bisa merasakan dengungnya. Selama Pemicu itu nyala, dia masih bisa memanggilku balik kapan saja, bahkan tanpa kekuatan." Ia menatap kolom dengan benci yang dingin. "Jadi apa pun yang kamu putuskan, putuskan cepat. Banyak dari kami yang masih punya tali di lehernya."
Damar mengangguk. Satu beban lagi ditumpuk di atas tumpukan yang sudah terlalu tinggi.
Damar menatap kolom di hadapannya. Pemicu Benih. Benang-benang cahaya biru di dalamnya berdenyut teratur, masing-masing—ia kini bisa merasakannya lewat sentuhan—terhubung ke satu jiwa di suatu tempat di dunia. Jutaan benang. Jutaan Generasi Pertama. Anak-anak, lelaki tua, ibu rumah tangga, kurir pengangguran di kontrakan tiga kali tiga.
Dan ia bisa merasakan, dengan kejelasan yang membuat dadanya dingin, bahwa Pram tidak berbohong. Kekuatannya bisa mematikan ini. Sekali tarik besar, seperti yang ia lakukan pada Pram, tapi disalurkan ke seluruh jaringan—dan setiap benang akan putus. Setiap kekuatan akan padam. Sekaligus. Di seluruh dunia.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Sekar pelan, melihat wajahnya.
"Semuanya," kata Damar. "Aku menyentuh ini dan aku bisa merasakan setiap orang yang seperti kita. Aku bisa merasakan benangmu, Sekar. Suaramu. Dan benang Lintang." Ia menunduk pada anak di pelukannya. "Kalau aku tarik semua, Pram benar. Kalian berdua jadi orang biasa lagi. Aman. Tapi... diam. Sunyi yang sebenarnya."
Lintang mendongak. "Kakak bakal tarik kekuatanku?"
Damar tidak langsung menjawab. Ia tidak mau berbohong pada anak itu, tidak pernah, sejak hari pertama di gudang Sarang ketika ia bilang kamu boleh simpan kekuatanmu.
"Aku belum tahu," katanya jujur. "Itu sebabnya ini berat."
Lintang menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Kalau Kakak yang putusin, aku nggak takut. Aku cuma takut kalau yang mutusin orang yang nggak kenal aku." Ia menyentuh tengkuknya sendiri, tempat dulu implan Sanggar tertanam sebelum mereka mengeluarkannya. "Aku udah pernah dipaksa. Aku nggak mau ada yang dipaksa lagi. Termasuk Kakak."
Kata-kata itu menancap di dada Damar lebih dalam dari getaran Pram tadi.
Dari atas, melalui koridor-koridor Pusat yang kini sunyi, terdengar suara yang berbeda—langkah kaki banyak, terorganisir, dan suara radio. Bukan Sanggar. Sekar mengenali pola itu.
"Pemerintah," katanya. "Mayor Ardi dan koalisi. Mereka berhasil menembus lapis luar."
Damar mengangguk pelan. Tentu saja. Begitu Pemicu jatuh, semua orang akan datang untuk merebut kendalinya. Pemerintah, sisa Sanggar, korporasi, siapa pun. Karena kini benda ini—dan dirinya yang memegangnya—adalah hal paling berkuasa di dunia. Satu sentuhan untuk menghapus seluruh Generasi Pertama, atau membiarkan mereka.
"Mereka akan minta aku matikan semuanya," kata Damar.
"Mungkin," kata Sekar. "Dan para Generasi Pertama yang lain akan minta sebaliknya."
Damar menatap tangannya yang masih menempel di kolom hangat itu. Seorang lelaki yang dulu kehilangan pekerjaan di bengkel, yang ibunya berjualan gorengan untuk menyekolahkannya, kini memegang nasib jutaan jiwa di telapak tangan yang melepuh.
"Aku tidak minta ini," bisiknya.
"Aku tahu," kata Sekar, dan ia menggenggam tangan Damar yang bebas. "Tidak ada dari kita yang minta apa pun pagi itu. Tapi sekarang pilihannya ada padamu."
Langkah-langkah itu makin dekat.