Mayor Ardi adalah orang pertama yang masuk ke ruang inti, senjata diturunkan, wajah ditutupi debu dan lelah. Di belakangnya berbaris pasukan koalisi—campuran satuan khusus pemerintah dan beberapa Generasi Pertama bebas yang telah bergabung dalam perlawanan. Mereka berhenti melihat pemandangan itu: Pram terkuras di dinding, kolom Pemicu berdenyut, dan Damar berlutut menyentuhnya.
"Damar Prasetyo," kata Ardi, dan untuk pertama kalinya tidak ada perintah dalam suaranya, hanya seorang lelaki yang juga kelelahan. "Kamu menghentikannya. Kamu menghentikan Pram."
"Belum selesai," kata Damar. "Selama ini masih nyala, semuanya belum selesai."
Ardi mendekat, matanya pada kolom. "Kami menganalisis transmisi dari fasilitas ini sebelum masuk. Kami tahu apa yang dilakukannya. Dan kami tahu—" ia menelan ludah, "—kami tahu kamu bisa mematikannya."
"Lalu?" tanya Sekar, berdiri, menempatkan dirinya sedikit di antara Damar dan pasukan.
"Lalu kami minta kamu melakukannya," kata Ardi. Pelan, tapi tegas. "Damar, dengar dulu. Dunia di luar sana hancur. Kerusuhan. Jam malam di setiap kota. Orang takut tetangganya sendiri. Generasi Pertama main hakim sendiri, pemerintah lain memburu mereka tanpa ampun. Setiap hari ada yang mati. Selama kekuatan ini ada, perang ini tidak akan pernah berhenti. Matikan Pemicu. Cabut semuanya. Kembalikan dunia seperti semula. Itu satu-satunya jalan menuju damai."
"Damai untuk siapa?" Sebuah suara lain. Si pengendali gravitasi, mantan garda Pram, melangkah maju. "Mudah buat kalian yang lahir tanpa kekuatan untuk minta kekuatan dihapus. Kekuatan ini satu-satunya hal yang membuat sebagian dari kami tidak lagi tak berdaya. Aku dulu bukan siapa-siapa. Sekarang aku—" suaranya pecah. "Jangan ambil itu dari kami karena kalian takut."
Dan kemudian datang suara-suara lain. Dari radio Ardi yang masih menyala, dari perlawanan, dari Generasi Pertama yang telah bergabung—mereka mendengar kabar bahwa Pemicu jatuh, dan mereka memohon. Jangan matikan kami. Kami baru saja belajar siapa kami. Anak perempuanku akhirnya merasa istimewa untuk pertama kalinya. Jangan rampas itu.
Tapi di antara suara radio yang sama, ada yang lain pula. Seorang perempuan dengan suara serak: Tolong matikan. Suamiku berubah jadi monster setelah pagi itu. Aku ingin dia kembali jadi suamiku. Seorang lelaki tua: Aku kehilangan dua anak dalam kerusuhan karena kekuatan-kekuatan ini. Cabut semua. Cabut sekarang. Kembalikan dunia yang kukenal.
Suara yang menuntut. Suara yang memohon. Keduanya benar. Keduanya manusia. Dan tak satu pun dari mereka tahu bahwa nasib mereka kini bergantung pada satu kurir pengangguran yang tangannya gemetar di atas kolom kaca.
Mayor Ardi melihat keraguan di wajah Damar dan melunak. "Aku tidak bisa memaksamu," katanya. "Aku punya perintah dari atas untuk merebut atau menghancurkan benda ini. Tapi aku sudah cukup lama melihat apa yang terjadi kalau orang dipaksa. Jadi aku tidak akan menodongkan senjata padamu lagi, Damar. Bukan setelah semua ini. Aku cuma minta kamu pilih dengan jujur."
Damar menutup matanya. Tangannya masih di kolom, dan ia bisa merasakan setiap benang itu, jutaan, berdenyut, hidup. Ia merasakan benang Lintang—anak yang menemukan keberaniannya lewat kekuatan itu, yang tadi mengalahkan garda elite, yang berkata dia bukan jahat, dia cuma disuruh. Ia merasakan benang Sekar—satu trik, satu kekuatan, yang telah menyelamatkannya berkali-kali, yang barusan meredam seluruh ruang untuk memberinya satu detik yang menentukan.
Bagaimana ia bisa mencabut itu?
Tapi ia juga teringat ibunya di Klaten, berkerudung cokelat, menjual gorengan, yang tidak punya kekuatan apa pun dan yang nyaris mati karena kekuatan orang lain. Ia teringat sekutu netral yang tewas melindungi Lintang. Ia teringat Ningrum, yang juga korban, yang mati membuka gerbang ini. Begitu banyak yang hancur karena pagi yang salah itu.
"Sekar," kata Damar, membuka mata. "Lintang. Apa pun yang aku putuskan—aku perlu tahu. Apa kalian menyalahkanku?"
Sekar menggeleng. "Kami menyerahkannya padamu. Bukan karena kami tidak peduli. Karena kami percaya kamu satu-satunya orang yang akan memikirkan semua orang, bukan cuma satu sisi."
Lintang menggenggam tangannya lebih erat. "Aku ikut Kakak. Pakai kekuatan atau enggak. Aku tetap ikut."
Damar menarik napas dalam. Seperti di tepi hutan Sarang, dulu, ketika ia mengangkat tangannya dan memilih tidak ada sisi.
Hanya saja kali ini, tidak ada helikopter, tidak ada lampu sorot. Hanya kolom yang berdenyut, dan jutaan jiwa di ujung jarinya.