Ruang inti Pusat masih berdengung pelan saat semuanya selesai. Damar berdiri di tengah, garis-garis biru di lengannya meredup satu per satu seperti bara yang akhirnya menyerah pada subuh. Di lantai beton di depannya, Pram terbaring. Dada lelaki itu naik turun. Hidup. Tapi tatapannya kosong dengan cara yang Damar kenali—tatapan Baja di pintu Sarang malam itu, tatapan orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang ia kira bagian dari dirinya selamanya.
"Tidak ada lagi," kata Pram. Suaranya serak. Ia mengangkat tangan, menatap telapaknya sendiri seolah benda asing. "Kamu mengambil semuanya."
"Kekuatanmu," Damar mengoreksi. "Bukan nyawamu." Ia berjongkok, lutut menyentuh dingin lantai. "Aku sudah memutuskan itu sebelum masuk ke ruangan ini."
Di belakang Damar, langkah-langkah memenuhi koridor. Sekar masuk lebih dulu, jaket kulitnya robek di bahu, bekas luka di alis kanannya terangkat lega saat melihat Damar masih berdiri. Lintang menyusul, sepuluh tahun yang berlari menubruk pinggang Damar, dan untuk sesaat tidak ada arsitek, tidak ada proyek, hanya anak yang takut kehilangan satu orang lagi.
Mayor Ardi datang dengan satu regu. Mereka mengangkat Pram tanpa kekerasan—tidak perlu lagi. Pria yang merancang kebangkitan jutaan manusia kini diborgol seperti pencopet pasar, dan borgol itu cukup. Tidak butuh sel kering listrik. Tidak butuh ruang resonansi. Hanya plastik dan logam biasa untuk orang biasa.
"Dia akan diadili," kata Ardi. "Bukan menghilang di fasilitas rahasia. Diadili. Disiarkan. Semua orang akan tahu apa yang dia lakukan." Mayor itu menatap Damar lama. "Kamu yang membuat itu mungkin."
Damar tidak menjawab. Ia melihat layar-layar besar di dinding ruang inti, yang dulu menampilkan peta dunia bertabur titik—setiap titik satu fasilitas, satu Sarang, satu sel pengondisian. Titik-titik itu kini berkedip merah satu demi satu. Bukan karena ledakan. Karena Damar telah menetralkan pemicu paksaan; jaringan yang mengikat semua tempat itu putus dari kepalanya.
"Sanggar tanpa Pram," Sekar berbisik, membaca layar bersama Damar, naluri jurnalisnya menyala. "Lihat. Sel-selnya saling kehilangan komando. Tidak ada lagi yang mengirim obat. Tidak ada lagi 'penyesuaian'."
Pekan-pekan berikutnya membuktikan kata-kata Sekar lebih cepat dari dugaan siapa pun. Tanpa kepalanya, tubuh Sanggar membusuk dari dalam. Para penegak yang dulu ditakuti—yang patuh karena dibayar atau karena disandera—berhamburan begitu uang berhenti mengalir dan ancaman kehilangan giginya. Fasilitas demi fasilitas dibuka koalisi. Pintu-pintu sel terbuka. Generasi Pertama yang selama bertahun-tahun bermata kosong dan bergerak mekanis perlahan mengingat nama mereka sendiri.
Damar ikut ke beberapa pembebasan pertama. Ia harus. Pengondisian Sanggar memakai zat yang menumpulkan kehendak, dan ia satu-satunya yang bisa menyerap zat itu keluar dari tubuh mereka tanpa membunuh. Pekerjaan itu pelan, melelahkan, satu orang setiap kali, sampai garis biru di lengannya gemetar dan Sekar memaksanya berhenti dan makan.
"Kamu bukan mesin," kata Sekar suatu malam, mendorong sepiring nasi ke depan Damar di sebuah pos koalisi. "Pram pun bukan."
"Aku tahu." Damar menatap tangannya, tangan yang sama yang dulu meletupkan bohlam di kontrakan 3x3 di Jakarta Timur. "Itu yang menakutkan. Aku bisa mengosongkan siapa pun. Dan tidak ada yang bisa menghentikanku selain aku sendiri."
"Itu sebabnya kamu, dan bukan Pram, yang berdiri di akhir." Sekar tidak meredam suaranya kali ini. Ia ingin Damar mendengar tiap katanya jernih. "Kekuatan yang sama. Pilihan yang beda. Itu seluruh ceritanya."
Korporasi Pram dibongkar lapis demi lapis. Akuntan dan pengacara koalisi mengikuti jejak dana gelap yang dulu Sekar lacak sendirian sebagai jurnalis—dana yang membiayai Sanggar dengan satu tangan dan menyuplai teknologi ke satuan pemerintah dengan tangan lain. Setiap rekening yang ditutup menjatuhkan satu menara lagi. Riset bioenergi. Proyek Benih. Implan di tengkuk anak-anak. Semua punya nama, tanggal, dan tanda tangan sekarang.
Lintang berdiri di samping Damar saat layar terakhir di ruang Pusat akhirnya mati. Anak itu menyentuh tengkuknya sendiri—tempat implan dulu tertanam, sebelum mereka mencabutnya berbab-bab silam.
"Jadi sudah selesai?" tanya Lintang. "Tidak ada lagi yang menyuruh-nyuruh dari atas?"
Damar mengusap kepala anak itu. "Tidak ada lagi dalang, Lintang. Mulai sekarang setiap orang menggerakkan tangannya sendiri."
Tapi bahkan saat mengucapkannya, Damar tahu dunia tanpa dalang bukan dunia tanpa masalah. Ia tahu jutaan orang masih bangun tiap pagi dengan kekuatan yang tak mereka minta, takut pada cermin. Ia tahu negara di luar sana masih berdebat apakah mereka monster atau warga. Dalangnya jatuh. Panggungnya masih penuh.
Di pintu keluar Pusat, Mayor Ardi menunggunya dengan map tebal di tangan dan ekspresi yang lebih berat dari kemenangan.
"Kita meruntuhkan yang lama," kata Ardi pelan. "Sekarang ada pertanyaan yang lebih sulit, Damar. Yang baru—siapa yang membangunnya? Dan dengan aturan siapa?"
Damar menatap matahari yang mulai naik di balik pegunungan tempat semua ini bermula. Untuk pertama kalinya sejak pagi yang salah itu, tidak ada sirene. Tidak ada helikopter. Hanya pertanyaan, dan waktu untuk menjawabnya.