Badai tidak berhenti dengan tepuk tangan. Ia mereda, dan yang tersisa adalah genangan, atap yang bocor, dan orang-orang yang harus memutuskan cara membangun ulang.
Tiga bulan setelah Pusat jatuh, Damar duduk di ruangan yang tak pernah ia bayangkan akan ia masuki: sebuah aula rapat resmi, meja panjang, bendera di sudut, dan belasan orang berdebat tentang nasib Generasi Pertama. Dulu orang-orang seperti ini mengarahkan lampu sorot helikopter ke wajahnya dan menyebutnya Ancaman Nasional Tingkat Merah. Sekarang mereka menggeser kursi untuknya.
Mayor Ardi yang membawanya ke meja itu. Bukti yang dikumpulkan tim—pengakuan dokter pembuat implan, rekaman Pram, dokumen Proyek Benih—telah membersihkan sebagian institusi dari agen-agen korporasi. Tapi membersihkan bukan menyembuhkan. Di aula itu masih ada wajah-wajah yang menatap Damar seperti menatap bom yang belum meledak.
"Usulnya sederhana," kata Ardi, berdiri. "Kita berhenti memburu. Kita mulai mendata, secara sukarela, bukan paksa. Generasi Pertama yang ingin hidup tenang dibiarkan tenang. Yang ingin membantu diberi jalan untuk membantu. Yang menyalahgunakan kekuatan diadili—seperti manusia mana pun yang melanggar hukum. Bukan karena mereka berkekuatan. Karena mereka melanggar hukum."
"Dan kalau salah satu dari mereka bisa memadamkan listrik satu kota?" seseorang di ujung meja menyela. Matanya tertuju pada Damar tanpa malu-malu.
"Maka dia menanggung tanggung jawab sebesar kekuatannya," jawab Damar. Suaranya tenang. Ia sudah belajar bahwa tenang lebih menakutkan bagi orang-orang ini daripada ledakan. "Aku bisa menjatuhkan helikopter dengan satu tangan. Aku tidak melakukannya, malam itu di Sarang, waktu kalian mengepungku. Aku mengangkat tangan. Aku memilih. Yang kuminta cuma satu: beri kami pilihan yang sama. Jangan rampas pilihan itu lebih dulu, lalu menyalahkan kami karena tak punya."
Ruangan hening. Sekar, dari kursi pengamat di dinding, mencatat tiap kata. Bukan untuk arsip negara. Untuk dunia. Ia masih jurnalis, di dalam, selamanya jurnalis; siaran yang ia putar tentang Proyek Benih telah membuka kebenaran ke publik, dan ia tidak akan membiarkan kebenaran berikutnya dikubur dalam ruang tertutup.
Kerangka itu lahir pelan, dengan banyak pertengkaran. Sebuah badan gabungan—negara dan Generasi Pertama duduk bersama—dengan Mayor Ardi sebagai jembatan. Bukan karena Ardi sempurna; ia perwira yang dulu seragamnya sama dengan yang memburu Damar. Tapi ia satu-satunya yang dipercaya kedua sisi, dan kepercayaan itu dibangun dengan darah dan jebakan yang ia selamati bersama mereka.
"Mereka takut padamu," kata Ardi suatu sore, di teras pos koalisi, sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. "Itu tidak akan hilang dalam setahun. Mungkin tidak dalam sepuluh."
"Aku tahu." Damar menatap kota di bawah lembah. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu, dan ia bisa merasakan arus di tiap kabel, riak listrik yang dulu menggodanya untuk diserap. Sekarang ia membiarkannya mengalir. "Kalau aku jadi mereka, aku juga takut padaku."
Ardi tertawa pelan, tawa yang lelah. "Itu sebabnya kamu yang harus berdiri di depan. Orang yang takut pada kekuatannya sendiri adalah satu-satunya yang aman memegangnya."
Tidak semua mulus. Di kota-kota, kerusuhan masih meletup. Sebagian Generasi Pertama, lama ditindas, membalas dengan amarah; sebagian warga biasa, lama ketakutan, menyerang lebih dulu. Damar dan timnya berkeliling, bukan sebagai pasukan, tapi sebagai penengah—memadamkan, secara harfiah dan kiasan, percikan sebelum jadi kebakaran. Lintang belajar menutup jalan di antara dua massa yang hendak bentrok, menekuk ruang jadi dinding lunak yang tak melukai siapa pun. Sekar meredam pidato pembakar massa jadi sunyi sampai orang-orang mendengar napas mereka sendiri dan ingat mereka manusia.
Suatu malam, setelah hari yang panjang, mereka bertiga duduk di atap pos. Lintang sudah tertidur di pangkuan Sekar.
"Ini bukan akhir, ya," kata Damar.
"Bukan." Sekar mengusap rambut Lintang. "Tapi ini yang pertama kalinya kita bangun pagi tanpa harus lari."
Damar menatap langit. Di suatu tempat di sebuah sel, Pram menunggu pengadilannya sebagai manusia biasa. Di suatu tempat di Klaten, ibunya menjual gorengan, selamat, menunggu. Damar belum pulang. Ia belum berani.
"Ada satu badai lagi yang harus kuhadapi," katanya pelan. "Yang paling membuatku takut dari semuanya."
Sekar menatapnya, mengerti tanpa diberi tahu. "Ibumu."
Damar mengangguk. Tangannya, yang bisa mengosongkan seorang dalang, gemetar sedikit. "Aku tidak tahu harus bilang apa pada orang yang membesarkanku sendirian, setelah semua yang dia lihat di TV tentang anaknya."
"Bilang yang sebenarnya," kata Sekar. "Kamu pulang. Itu sudah cukup."