Jalan ke Klaten tidak berubah, dan itu yang membuat dada Damar sesak. Sawah yang sama menghampar hijau di kanan kiri. Warung yang sama menjual es teh di tikungan. Anjing kampung yang sama menggonggong malas pada pikap yang lewat. Seolah dunia di sini tidak tahu bahwa di luar sana jutaan orang terbangun dengan kekuatan, bahwa anak dari kampung ini sempat jadi buruan nomor satu di negeri.
Sekar yang menyetir. Lintang duduk di tengah, hidungnya menempel ke kaca, menonton sawah dengan mata anak kota yang jarang melihat begitu banyak hijau. Damar diam di kursi penumpang, telapak tangannya basah.
"Kamu sudah mengalahkan Baja," kata Sekar tanpa menoleh dari jalan. "Kamu sudah mengalahkan Gelombang. Kamu mengosongkan Pram. Dan kamu gemetar gara-gara mau ketemu ibumu."
"Pram tidak pernah menyuapiku waktu aku demam," gumam Damar.
Pikap berhenti di mulut gang. Damar turun sendirian. Ia memang minta begitu. Sekar dan Lintang menunggu di kendaraan, dan Lintang—yang biasanya protes ditinggal—untuk sekali ini diam, seolah mengerti ada pintu yang harus dilewati seorang anak sendirian.
Rumah itu masih sama. Pintu hijau dengan cat mengelupas. Damar berdiri di depannya, dan untuk sesaat ia bukan lelaki berkekuatan yang mengubah jalannya sejarah. Ia anak lulusan SMK yang pulang setelah lama hilang kabar, takut dimarahi, takut lebih dari itu—takut tidak dimaafkan.
Ia mengetuk.
Langkah pelan dari dalam. Pintu terbuka. Dan di sana, berkerudung cokelat seperti dalam rekaman sandera yang dulu Ningrum putar untuk meremukkan hatinya, berdiri ibunya. Lebih tua dari yang Damar ingat. Lebih kurus. Tapi hidup. Selamat. Mata tua itu menatapnya, dan sekian detik tidak ada yang bergerak.
"Mar," kata ibunya. Hanya itu. Nama panggilannya, satu suku kata, suara yang ia kenal sebelum ia kenal kata apa pun di dunia.
Lalu Damar runtuh. Lelaki dua puluh tiga tahun yang menjatuhkan organisasi rahasia internasional itu jatuh berlutut di teras tanah, memeluk kaki ibunya, dan menangis seperti bocah yang tersesat di pasar.
"Maaf, Bu," ia tersedu. "Maaf aku nggak pulang. Maaf mereka datang ke sini gara-gara aku. Maaf Ibu sampai... gara-gara aku..."
Tangan tua itu mengelus kepalanya, sama persis seperti Damar mengelus kepala Lintang. "Berdiri, Le. Tanahnya kotor."
Di dalam, di ruang tamu sempit dengan foto Damar berseragam SMK di dinding, ibunya membuat teh dan menggoreng pisang seolah anaknya cuma pulang dari rantau biasa. Damar bercerita. Tidak semuanya—ada hal yang tak perlu ditanggung seorang ibu. Tapi cukup. Tentang Sekar yang menyelamatkannya. Tentang Lintang. Tentang kenapa ia tak bisa pulang lebih cepat: setiap kali ia mendekat, bahaya mendekat pula.
"Ibu lihat kamu di TV," kata ibunya pelan, menyodorkan pisang goreng. "Mereka bilang kamu jahat. Mereka bilang kamu bahaya."
Damar menunduk. "Aku memang bahaya, Bu."
"Bukan itu yang Ibu lihat." Suara perempuan tua itu mengeras sedikit, suara yang dulu menghadang preman pasar yang menggusur lapaknya. "Ibu lihat anak yang Ibu besarkan. Anak yang waktu kecil nangis karena nggak sengaja nginjak semut. Ibu nggak peduli kata TV. Ibu kenal anak Ibu sendiri."
Sesuatu yang sudah lama tegang di dalam dada Damar—sejak pagi yang salah itu, sejak bohlam pertama meletup—akhirnya kendur. Bukan karena dunia memaafkannya. Karena satu perempuan tua di rumah pintu hijau tidak pernah, sedetik pun, percaya ia monster.
Sebelum magrib, Damar memanggil Sekar dan Lintang masuk. Ibunya menatap Sekar lama, lalu tersenyum. "Yang ini yang jaga kamu?"
"Iya, Bu," kata Damar, telinganya memerah.
"Bagus." Perempuan tua itu menggenggam tangan Sekar dengan kedua tangannya. "Terima kasih sudah jagain anak Ibu pas Ibu nggak bisa."
Lalu matanya jatuh pada Lintang, yang berdiri canggung di ambang pintu. Tanpa bertanya apa-apa, ibunya membuka lengan. "Sini, Nak. Pasti capek di jalan. Mau pisang goreng?"
Lintang menatap Damar, lalu menatap perempuan tua itu, dan untuk anak yang ibunya pernah disandera, yang tumbuh dalam ketakutan, undangan sesederhana itu meruntuhkan benteng. Ia berlari ke pelukan itu.
Malam turun di Klaten. Di teras rumah pintu hijau, empat orang duduk: seorang ibu, anaknya yang pulang, perempuan yang menjaganya, dan seorang bocah yang menemukan keluarga di tempat tak terduga. Untuk pertama kalinya sejak segalanya pecah, Damar tidak merasakan dorongan untuk lari, melawan, atau menyerap apa pun.
Ia hanya duduk. Di rumah. Dan itu cukup.