Ibu Lintang pernah hampir tak punya wajah dalam ingatan anaknya. Berbulan-bulan di sel Sanggar, dijadikan pengungkit, dijadikan ancaman—nama "Ibu Lintang" lebih sering jadi alat tawar daripada manusia. Tapi sekarang, di sebuah rumah kontrakan kecil yang diatur koalisi di pinggir kota, perempuan itu kembali jadi seorang ibu, dan Lintang kembali jadi seorang anak.
Penyembuhan itu pelan. Damar tahu betul. Ia menyaksikan Lintang di malam-malam pertama setelah Sarang, ketika mimpi buruk membuat kekuatannya lepas dan ruang di sekitar tempat tidurnya menekuk, melengkungkan udara seperti panas di atas aspal. Damar dulu harus menyerap distorsi itu sampai anak itu tenang. Sekarang yang melakukannya adalah ibunya—bukan dengan kekuatan, hanya dengan tangan dan suara dan kehadiran.
"Dia tidak lagi memanggilmu di tengah malam?" tanya Damar suatu siang, berkunjung dengan sekantong jajan pasar.
Ibu Lintang menggeleng, tersenyum kecil. "Sekarang dia memanggilku. Itu kemajuan." Ia menatap anaknya yang bermain di halaman. "Dulu di sel, aku cuma bisa dengar dia di balik dinding. Aku menyanyi, supaya dia tahu aku masih ada. Sampai mereka menyuruhku diam." Suaranya bergetar, lalu pulih. "Sekarang aku boleh menyanyi sekeras apa pun."
Di halaman, Lintang sedang melatih kekuatannya. Tapi bukan seperti dulu—bukan meremukkan tong sampah jadi bola logam, bukan menekan tubuh lawan dari segala arah. Ia mengangkat sebuah daun kering, pelan, dan menekuk ruang di bawahnya supaya daun itu mengambang turun selembut kapas, mendarat di telapak tangan adik kecil tetangga yang menontonnya dengan mata berbinar.
"Lagi, Kak! Lagi!" anak tetangga itu memekik.
Lintang nyengir dan mengangkat segenggam daun, menjatuhkannya satu per satu dalam tarian lambat. Tawa anak-anak memenuhi halaman.
Damar menontonnya dari teras, dan sesuatu menghangat di dadanya. Ia ingat Lintang yang pertama ia temui—anak sepuluh tahun dengan mata terlalu tenang, dipaksa Sanggar melukai orang, percaya kekuatannya hanya bisa menyakiti. "Kakak orang pertama yang nggak coba balik nyakitin aku," kata anak itu dulu. Sekarang Lintang menjadi orang yang tidak menyakiti siapa pun.
"Kamu yang mengajarinya," kata Ibu Lintang pelan, mengikuti arah pandangan Damar.
"Dia yang memilih," jawab Damar. "Aku cuma menunjukkan bahwa pilihan itu ada."
Sore itu, Lintang menghampiri Damar, napas terengah dari bermain, peluh di dahi. "Kak Damar," katanya, "aku mau jadi kayak Kakak. Yang nolongin orang. Bukan yang ditakutin."
Damar berjongkok supaya matanya sejajar dengan mata anak itu. "Kamu tidak harus jadi seperti aku, Lintang. Kekuatan kita beda. Aku menyerap, kamu menekuk. Tapi—" ia mengetuk dada anak itu pelan, "—yang ini sama. Yang memilih nolongin atau nyakitin. Selama yang itu kamu jaga, kamu nggak akan pernah jadi yang ditakutin."
Lintang mengangguk serius, seserius bocah sepuluh tahun bisa. Lalu wajahnya berubah, tiba-tiba khawatir. "Tapi kalau ada Sanggar baru? Kalau ada Pram baru?"
Damar dan Ibu Lintang bertukar pandang. Pertanyaan itu—pertanyaan yang sama yang Mayor Ardi lemparkan di pintu Pusat. Dunia tanpa dalang bukan dunia tanpa bahaya.
"Kalau ada," kata Damar pelan, "kita tidak akan membiarkan mereka punya cara mengikat anak-anak seperti yang mereka lakukan padamu. Itu janji. Bukan cuma dariku." Ia menatap Ibu Lintang. "Dari kita semua."
Malam itu, sebelum pulang, Damar mendengar dari kamar Lintang suara yang dulu mustahil ada di rumah mana pun yang tersentuh Sanggar: ibu yang menyanyi untuk anaknya menjelang tidur, lembut, tanpa takut disuruh diam. Lagu lama, lagu kampung, lagu yang barangkali juga pernah dinyanyikan ibu Damar di rumah pintu hijau bertahun-tahun lalu.
Di luar, Sekar menunggu di pikap. Ia melihat wajah Damar saat lelaki itu naik. "Kenapa senyum-senyum?"
"Tidak apa-apa," kata Damar. Tapi senyumnya tidak hilang sepanjang jalan pulang. "Cuma... kadang aku lupa. Kita melawan Sanggar bukan supaya menang. Kita melawan supaya ada ibu yang boleh menyanyi lagi."
Sekar tidak menjawab. Ia hanya menjangkau, menggenggam tangan Damar di atas tuas persneling, dan menyetir pulang dalam diam yang nyaman—jenis sunyi yang ia pilih sendiri, bukan yang ia ciptakan dengan kekuatannya.