Marshal terlalu fokus mempelajari aksara bahasa jawa itu, ia mengabaikan perutnya yang lapar, serta ia tidak menyadari bahwa sejak tadi sepasang mata telah mengintai dirinya di balik jendela.
"Lengkung satu, lengkung dua, kasih sret di atas, bentuk yang begini namanya ha. Aduh susah amat, bisa botak beneran aku belajar huruf aneh ini," gerutu Marshal pelan sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal.
Marshal meletakkan sebentar kepalanya di atas tumpukan kertas, dengan niat melepas lelah dan berharap ia tidak tertidur.
Ternyata rasa lelah lebih mendominasi tubuhnya, jadilah tanpa sadar Marshal sudah terbawa ke alam mimpi. Ia tertidur beralaskan kertas, seperti Si Kutu Buku yang tidak pernah bisa lepas dari buku-bukunya.
Marshal tidak tahu, Aurelia mengambil satu persatu kertas yang berserakan di sekitarnya. Hingga ponsel yang tergeletak di bawah siku hampir diambil Aurelia, Marshal tetap terlelap.
"Hentikan," ucap Hasan menghentikan Aurelia.
Hasan tidak tahu Pasti alasan gadis itu membereskan kertas-kertas yang berserakan di sekitar Marshal, terlihat aneh saja bagi Hasan melihat Aurelia tetiba perhatian dan sok khawatir dengan keadaan Marshal sejak kemarin.
"Aku hanya ingin merapikan saja. Tidak lebih dari itu kok," ucap Aurelia sambil menarik tangannya dengan keras dari genggaman tangan Hasan. Ia abai pada perintah lelaki itu, kertas yang berserakan itu tetap ia rapikan sambil sedikit merekam apa yang sudah ditulis oleh Marshal.
Hasan kembali menarik tangan Aurelia dengan keras, ia geram melihat gadis yang memakai blus bermotif bunga-bunga itu tidak mau menghentikan aktifitasnya untuk merapikan barang-barang milik Marshal.
"Au," pekik Aurelia kesakitan. Tatapan penuh kemarahan ia hadiahkan pada Hasan. Ia merasa terancam, sebab ada orang lain yang melindungi Marshal, kesempatan dirinya untuk mengetahui rahasia yang dimiliki oleh Marshal pun semakin sedikit.
"Aku bilang letakkan," ucap Hasan memperingatkan lagi.
Dengan kesal dan terpaksa, Aurelia membanting buku berjudul Pepak Basa Jawa itu ke lantai hingga buku itu mental mengenai wajah Marshal yang sedang terlelap.
"Aduh," pekik Marshal spontan. Ia pun terbangun tanpa tahu benda apa yang sudah mendarat di wajahnya.
Marshal mengusap pipinya yang terasa sakit, sambil perlahan membuka mata. Ia heran kenapa Aurelia berada di sana dengan Hasan. Ia juga nampak terkejut melihat Hasan sedang memegang tangan Aurelia.
"Kalian pacaran kok di sini to?," protes Marshal yang masih enggan membuka matanya, nyawanya belum seratus persen pulih. Suara gaduh antara Hasan dan Aurelia telah mengusik tidurnya.
"Pacaran di luar saja, aku ingin melanjutkan tidur," ucap Marshal dengan nada yang sangat lemah. Ia lalu membaringkan kembali tubuhnya setelah sebelumnya ia menarik bantal yang tertata rapi di pojokan.
"Kembalilah tidur, biar aku yang merapikan semua bukumu," ucap Hasan yang masih belum melepaskan tangan Aurelia.
Sedangkan gadis itu terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Hasan, namun tidak bisa. Tangan Hasan terlalu kuat untuk ia lumpuhkan.
Terpaksa ia menunggu Hasan selesai membereskan semua buku Marshal, lalu memasukkan ke dalam tas beserta ponsel milik lelaki berambut gondrong itu dan kembali menutup tas itu. Hasan meletakkan tas Marshal tepat di samping temannya itu berbaring.
Setelah memastikan semua barang Marshal masuk ke dalam tas, Hasan segera menarik paksa tangan Aurelia keluar. Ia sengaja menggelandang gadis itu sedikit menjauh dari teras rumah agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh teman mereka yang sedang bersantai di teras.
Cara Hasan menarik Aurelia keluar, membuat teman mereka kaget, pasalnya dua orang itu tidak pernah terlihat sedang melakukan pendekatan, juga tidak terlihat akrab. Wajar jika mereka melongo, dengan ekspresi penuh heran.
"Lepaskan!," pinta Aurelia sambil berusaha menarik paksa tangannya dari tangan Hasan.
Ternyata, Hasan masih tetap tidak mau melepaskan tangan gadis itu. Ia tatap mata gadis itu dengan penuh kekesalan. Ia benar-benar tidak tahu gadis seperti apa yang sekarang berdiri di depannya itu.
Semula, Hasan menyangka Aurelia adalah gadis yang sama sekali tidak tertarik dengan dunianya Marshal. Ia menyangka Aurelia adalah gadis yang hanya tertarik soal nilai akademik, hidupnya tertata rapi tanpa terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak penting bagi kelangsungan akademiknya.
Demikian juga dengan perihal sebuah pertemanan, Aurelia hanya akan berteman dengan teman yang bisa ia ajak berpikir serius untuk kebaikan masa depannya. Hasan mengira, bahwa Aurelia adalah gadis yang tidak butuh sosok teman seperti dirinya dan Marshal yang jelas terlihat oleh matanya bahwa hidup mereka berdua tiada guna dan tujuan. Seperti itulah Hasan menilai Aurelia.
Makanya, ketika Marshal mengutarakan niatnya untuk meluluhkan hati Aurelia, Hasan hanya meledeknya dengan senyuman, sebab sudah jelas bahwa gadis itu bukanlah gadis yang mudah dilumpuhkan hanya dengan satu tarikan pelatuk di tangannya.
Dan beberapa hari terakhir, Aurelia menunjukkan sikap lain. Ia tetiba saja perhatian, dan terus mengawasi gerak langkah Marshal. Lalu, gadis itu juga menjadikan alasan khawatir pada Marshal sebagai kedok bahwa ia ingin mengorek rahasia dari Sang Primadona Kampus itu.
"Aku bilang lepaskan!," pinta Aurelia dengan mata melotot. Kemarahannya semakin memuncak. Napasnya memburu dengan begitu cepat.
"Tidak," jawab Hasan tegas.
"Apa yang kamu mau?," ucap Aurelia yang kemudian membuang muka. Ia tak lagi membalas tatapan Hasan, bukan karena ia tidak berani menghadapi lelaki itu tetapi ia berusaha mengendalikan perasaannya agar tidak membenci Hasan terlalu banyak di kemudian hari.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?. Itu kebalik. Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu terus saja mengintai Marshal?." Hasan mendekatkan bibirnya tepat di telinga Aurelia.
"Aku tidak mengintai. Itu semua aku lakukan hanya sebatas kepedulianku pada teman. Tidak lebih, dan tanpa ada maksud terselubung," ucap Aurelia membela diri.
"Bohong. Aku tahu siapa kamu. Cepat katakan." Hasan masih terus mendesak Aurelia.
Dan gadis itu juga tetep keukeh dengan pendiriannya, ia tidak akan membuka mulut meski harus sakit hati dengan tuduhan yang macam-macam dari Hasan.
"Terserah kamu beranggapan apa tentang aku, yang jelas aku sudah mengatakan yang sesungguhnya tentang niat baikku," terang Aurelia dengan penuh penegasan.
"Bagaimana jika aku bercerita pada Marshal tengang semua sikapmu padanya," tantang Hasan. Ia masih terus mengorek kejujuran hati Aurelia.
"Silahkan. Aku tidak takut." Aurelia kembali memberi Hasan tatapan penuh kekuatan dan tantangan.
Hasan benar-benar takjub melihat gadis di depannya itu sangat berpegang teguh pada pendiriannya, Aurelia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut di depan dirinya yang mungkin saja bisa menyakiti bagian tubuhnya yang indah. Gadis di depannya itu bahkan berani menantangnya.
"Kalau Marshal tahu niatmu, dan memberi sebuah penawaran yang mungkin selama ini kamu cari. Bagaimana?." Hasan masih terus mencari tahu isi hati Aurelia.
Sejenak Hasan melihat Aurelia tampak berpikir untuk menerima tawaran darinya, tensi kemarahan yang sedari tadi meninggi terlihat mulai normal. Hasan bahagia untuk itu, ia merasa sedikit berhasil membelokkan hati Aurelia.
Gadis itu memang sempat goyah, tapi Aurelia segera tersadar, ia tidak boleh tergoda dengan mulut manis para lelaki, apalagi anak buah seorang playboy seperti Marshal. Ia harus menghindari itu.
"Ah tidak. Aku tidak boleh goyah. Aku harus berdiri sendiri. Aku mampu," gumam Aurelia di dalam hati.
"Sekali lagi aku tegaskan, bahwa aku tidak punya niat apa pun terhadap Marshal. Niatku tulus karena ingin berteman dengannya. Bukankah selama ini itu yang diharapkan Marshal dariku," ucap Aurelia. Kali ini, ia memberi Hasan tatapan mata yang sangat dingin.
"Oke. Aku pegang omongan kamu."
Pada akhirnya, Hasan menyerah. Ia lepaskan tangan Aurelia yang mungkin sudah terasa sakit dan panas.
"Sstt. Sstt. Sstt."
Aurelia mengesas. Ia mengusap lengannya yang sakit, dan terlihat warna merah di pergelangan tangannya.
Hasan merasa kasihan, namun enggan memberikan rasa empatinya pada gadis itu setelah apa yang sebelumnya ia lakukan pada Aurelia.
Gadis itu segera berbalik, ia berjalan masuk ke dalam dengan tetap memegang pergelangan tangannya. Ia tidak menunjukkan wajah bahagia atau pun bersedih. Ia tidak mau Nakula, Imam, Husna dan Amora menyalahkan Hasan atas apa yang terjadi padanya. Ia tidak mau ada pertengkaran dan permusuhan terjadi di antara teman-temannya.
Di balik jendela, rupanya Marshal sudah bangun dari tidurnya. Ia sempat memperhatikan pertikaian kecil antara Hasan sahabatnya dengan Aurelia Si Gadis Angkuh itu.
Dari jauh, Ia melihat sebuah usaha yang dilakukan oleh Hasan untuk membujuk Aurelia tidak berhasil. Tapi ia tidak tahu untuk hal apa Hasan bernego dengan gadis itu. Dan Marshal semakin penasaran setelah Aurelia melewatinya begitu saja tanpa melihat atau bahkan mengucapkan satu kata.
"Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?. Dan apa yang selama ini sudah disembunyikan Aurelia?," gerutu Marshal pelan.
Sembari menunggu Hasan masuk, Marshal meneruskan mencari arti dari aksara jawa tersebut.
"Lengkung satu, tambah garis lurus di bawah ke kanan terus diberi garis miring kecil di ujungnya. Mirip kail jadinya, tapi memang begini kok. Nah yang ini bunyinya BA. Lalu lingkaran besar dan garis miring kecil di atasnya ini untuk apa ya?," ucap Marshal tampak kebingungan.
Marshal terus mencari dan mencari, memang susah tapi ia berhasil melakukan itu. Sebuah kata telah terbaca, ia memandang dua kata yang telah ia tulis di sebuah email yang ia kirim kepada ibunya tersebut. Marshal berusaha mencari maksud dari dua kata yang tidak terlihat aneh dan tidak berbau mistis, tapi tidak ketemu.
Marshal mengelus kepalanya yang terasa sangat berat, otaknya semakin terasa pusing memikirkan kenapa dua kata itu yang tertulis di batang pohon bambu. Sebisa mungkin ia tidak melafalkan dua kata itu, ia takut bahwa dua kata itu adalah mantra yang bisa membahayakan nyawa banyak orang.
"Marshal, kau tidak apa-apa?," tanya Hasan yang merasa khawatir setelah ia masuk dan melihat Marshal memberi sedikit pijatan pada kepalanya.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Oh iya, barusan aku melihat kamu dan Aurelia tampak mendebatkan sesuatu. Apa itu?." Marshal balik bertanya karena ia penasaran.
"Aku curiga dengan perubahan sikap Aurelia padamu. Jadilah aku menyuruh dia untuk bicara, apa yang sebenarnya ia cari darimu," jawab Hasan.
"Lalu?. Dia memberi jawaban apa?."
"Ia hanya menjawab, bahwa itu dilakukannya hanya sebagai bentuk kepedulian pada teman. Itu saja. Aku tidak bisa membuat dia jujur. Aku masih curiga sama perubahan sikap dia. Bener gak sih?," celoteh Hasan.
"Sudahlah, gak usah memikirkan Aurelia lagi. Kita fokus tugas KKN saja sebagai tugas utama kita, serta tugas sampingan kita. Kamu masih ingatkan?," ucap Marshal.
"Kamu sudah menemukan arti dari dua kata aksara jawa itu?," tanya Hasan penasaran.
Marshal menganggukkan kepalanya dengan rasa lega, satu lagi pekerjaannya telah selesai. Satu teka-teki telah terpecahkan.
"Apa?,"
Marshal menunjukkan isi dari email yang telah dikirim ke ibunya, namun dalam mode tunggu.
"Sshhtt. Jangan diucapkan. Aku mohon kamu bisa menjaga ini dari siapa pun?," pinta Marshal. Dan Hasan tidak bertanya lagi.
Marshal hanya mulai tidak percaya dengan teman-temannya. Makin ke sini, semua temannya itu terlihat hanya mementingkan kepentingannya sendiri.
"Oke. Kita bahas untuk acara esok," ajak Marshal selaku pembuat program lomba untuk anak-anak.
"Tapi besok kan ada acara Mangkurawe Marshal?." Hasan mencoba mengingatkan Marshal bahwa besok mereka pasti sangat sibuk mempersiapkan acara rutinan desa Awu Awe.
"Acaranya malam. Kita lombanya pagi. Lalu sebelum ada kita di sini, warga juga sudah terbiasa mempersiapkan acara Mangkurawe ini bukan?," ucap Marshal memberi jawaban yang logis pada Hasan agar sahabatnya itu tetap mendukung keputusannya.
"Kamu tidak bilang Nakula?."
"Habis ini. Setelah aku makan. Perut aku lapar gaes," canda Marshal