Hari sudah berganti, langit yang sama sudah berubah warna dan cerita. Namun Marshal belum merasakan bahwa pelangi akan hadir menghiasi kehidupannya. Hati dan pikirannya masih kelabu dan gerimis. Misteri itu belum benar-benar berakhir.
Marshal harus menata kembali hatinya untuk menghadapi pertempuran, entah kalah atau menang yang terpenting ia harus tetap berusaha meski tenaganya hanya tersisa satu tetes. Ia akan terus menghadapi makhluk kejam penguasa istana kegelapan itu.
Dari jauh, dari tempatnya berbaring, Marshal memperhatikan punggung Aurelia yang masih tertidur. Gadis itu satu-satunya teman yang tersisa. Sejak semalam ia terus berpikir, di mana ia akan menitipkan Aurelia agar gadis itu tidak ikut pergi ke rumah Pak Kades.
Marshal melihat tubuh Aurelia mulai bergerak, lalu membalik