Marshal tidak merasa melajukan motornya ketika dirinya melihat beberapa temannya sedang berbaris di tepi jalan. Wajar jika ia merasa bingung, ketika Pak Kades menepuk bahunya di saat ia sedang menenggelamkan seluruh kesedihannya.
"Ayo kita masuk!," Ajak Pak Kades.
"Iya Pak," jawab Marshal sambil memarkir sepedanya di depan rumah Pak Kades.
Sebelum masuk, Marshal menyempatkan diri melihat ke seberang jalan. Membuka memori saat ia pertama kali bertamu ke rumah Pak Kades bersama semua temannya. Saat itu ia sangat penasaran dengan tatapan Pak Kades kepada Anisa, ia penasaran dengan arti tatapan lelaki yang sudah kehilangan anaknya tersebut.
Saat itu juga, Marshal belum mengantongi nama gadis yang terus muncul itu sebagai nama Anisa. Semuanya hanya tinggal kenangan, dan ia sangat berharap b