Love Hotel
Seorang pria baru saja selesai bermain dengan partnernya. Dia kini mengenakan bajunya dan duduk di pinggiran ranjang. Dia mengambil sebatang tembakau lalu menyalakannya. Pria itu mengisapnya lalu menghembuskan asapnya. Wanita yang menjadi partner bermainnya duduk sambil memandangi pria rupawan yang baru saja ‘bermain’ dengannya tadi. Dia tersenyum sambil duduk dan bersandar di bahu pria itu.
“Istrimu… pasti sedang menunggumu. Ini sudah tengah malam,” ujarnya sambil memegang tangan kanan pria itu yang tersemat cincin nikah.
“Siapa yang peduli dengan wanita kolot itu? Kau tahu aku kan, Seere? Bagiku, ikatan seperti ini hanyalah sebuah omong kosong!” balas pria itu membuat wanita bernama Seere itu menyeringai. Dia tahu dengan siapa dirinya ‘bermain’ ranjang saat ini! Asmo Deus Pranata, pria yang terkenal sebagai playboy dari bangku kuliah. Kebetulan, dia adalah teman kuliah sekaligus rekan kerjanya Asmo.
“Dia sangat malang!” ejek Seere teringat akan istri dari Asmo.
Dia kenal wanita itu. Dia selalu dibawa ke acara resmi dan bersikap sangat elegan. Wajahnya cantik, tapi dia tahu, wanita itu menyimpan banyak beban. Bagaimana tidak, dia menikah dengan ba.jingan gila seperti Asmo. Kalau Seere, dia hanyalah seorang wanita bebas. Mungkin, itu juga efek karirnya sebagai seorang model. Sampai sekarang, dia juga tak mau terikat dalam hubungan pernikahan.
“Baiklah! Aku harus pulang! Kau juga, Seere! Besok ada pemotretan untuk brand perusahaanku!” Asmo langsung beranjak dari duduknya dan membereskan dirinya. Seere hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya sebagai tanda sampai jumpa kepada Asmo. Pria itu tersenyum miring, lalu mereka berpisah. Cukup sudah cerita mereka sampai di sini.
Asmo adalah pria brengseek tak tau diuntung! Dia adalah tipe pria yang mendekati wanita, mengambil hatinya lalu mencampakkannya. Dia suka memetik unga yang indah, lalu menginjak- injaknya setelah bosan. Hal yang sama juga dilakukannya kepada istrinya Shintike Theresia atau kerap disapa Keke. Dia memberikan cinta dan kasih sayang kepada istrinya itu, namun hanya sehari saja setelah pernikahan mereka. Setelah itu? Dia selalu berlaku sesukanya. Dan sialnya, dia sama sekali tak bisa dihentikan!
Mansion
Pria itu sampai di rumahnya. Dia masuk dan menghidupkan lampu ruang tengah yang sudah gelap. Jelas saja, lampu sudah dimatikan karena sudah tengah malam. Pria itu kemudian terdiam! Lagi- lagi, dia mendapati pemandangan yang sama! Istrinya yang menunggunya sepulang kerja. Wanita itu bahkan sampai ketiduran.
“Kenapa dia masih saja bodoh?” gumamnya pelan. Pria itu hanya melirik sebentar tanpa berniat menggendong istrinya hanya sekedar untuk meletakkannya di kamar. Dia tak peduli! Dia meneruskan langkahnya dan mengabaikan wanita malang itu.
“Baru pulang?”
Ternyata, Keke masih bangun. Wanita itu langsung menyapa Asmo dan menanyakan soal dirinya yang lagi- lagi pulang sampai tengah malam. Ini bukan pertama kali! Sudah sering, tapi Keke lelah bertengkar hanya karena masalah ini. Dua tahun dia selalu mendapat perlakuan begini dan dia sangat kebal!
“Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?” sinis Asmo sambil berbalik dan menatap sinis ke arah Keke. Dia tak suka kalau istrinya mulai lagi! Memang, akhir- akhir ini mereka tidak bertengkar, hanya saja dia malas bicara dengan Keke. Dia sudah muak dan bosan dengan wanita itu.
“Apa arti saya bagi kamu? Dua tahun kita menikah, kamu tidak menunjukkan perubahan sedikit pun. Apa ikatan ini tak ada artinya bagimu?” tanya Keke dengan nada datar walau hatinya sakit. Dia lelah terus berjuang sendirian. Dia ingin memastikan, apa yang harusnya dia lakukan saat ini.
“Arti dirimu? Tidak ada! Sudah berkali- kali aku bilang, kalau kamu sudah bosan, berikan aku surat cerai! Aku akan tanda tangani dan selalu menghadiri setiap persidangan. Sekali lagi aku tegaskan, jangan khawatir soal harta gono- gini! Aku akan kasih yang banyak deh! Aku bosan dengan hubungan bodoh ini!” balas Asmo sambil melepas cincin nikahnya dan melemparnya sembarangan.
‘Ting!’
Suara cincin itu bergema di ruang tengah yang sepi dan memang isi mansion besar ini hanya sedikit orang. Di ruangan ini hanya ada mereka berdua saja. Asmo langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Keke yang memandang nanar ke arah cincin pernikahan yang dilepas Asmo dengan seenaknya. Wanita itu berjalan ke arah cincin itu dan meraihnya.
Dia masih memasag wajah datarnya, tapi air matanya terjun bebas dari pelupuk matanya. Dia memandang nanar pada cincin yang menjadi bukti lahiriah ikatan mereka selama dua tahun ini. Cincin yang mereka sematkan ke masing-masing jari setelah mengucapkan janji suci di depan altar. Tapi, semuanya sudah berakhir! Tak ada janji untuk sehidup dan semati. Tak ada janji untuk saling mencintai satu sama lain. Semuanya hnya omong kosong.
“Aku lelah!” gumam Keke pelan di tengah tangisnya.
Wanita itu berjalan ke kamarnya. Dia masih sekamar dengan Asmo, tapi pria itu sudah tidur lebih dahulu. Dia duduk di sebelah sisi ranjang sebelahnya sambil menatap nanar pada cincin miliknya dan Asmo. Perlahan, dia melepas cincin miliknya walau air matanya terus mengalir. Dia kemudian mengambil kotak cincin pernikahan mereka yang dia simpan di laci sebelah tempat tidur. Dia meletakkan sepasang cincin itu ke dalam sana.
‘Aku ingin mengakhiri semua ini!’ tekad Keke lalu keluar dari dalam kamar mereka.
Dia memilih untuk tidur di kamar lain seperti biasanya. Dia tak sanggup seranjang dengan pria ini yang sudah berulang kali menghianatinya dengan sengaja. Pria yang tega membawa wanita panggilan dan bermain gila di depan matanya. Keke merasa seperti perempuan bodoh yang tahan dengan semua kegilaan suaminya selama dua tahun.
Bukan tanpa alasan dia terus diam seperti itu. Dia menghormati ikatannya dengan Asmo. Baginya, pernikahan adalah sebuah hal yang sakral dan harus dipertahankan. Di sisi lain, dia pernah jatuh cinta kepada Asmo ketika pria itu menunjukkan sisi hangatnya. Pria itu pernah membuatnya melambung tinggi dan membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Dia memberikan segalanya pada pria itu di malam pertama mereka karena percaya padanya. Sialnya, harapannya itu hanyalah mimpi indah yang tak pernah bisa dia raih!
Setelah malam pertama mereka, Asmo selalu memperlakukannya sesuka hati. Pria itu suka main perempuan dengan bebas dan meminta maf setelahnya. Keke dengan polosnya memaafkan pria tak tahu diri itu. Lama- lama, Asmo semakin sesukanya dan sama sekali tak menghargai Keke. Pertengkaran terus terjdi setelahnya dan selalu menyisakan Keke yang menangis segugukan. Dia tak pernah dianggap sebagai istri!
Asmo hanya menganggapnya sebagai boneka hidup yang melakukan apapun yang dia mau. Jika Asmo meminta haknya sebagi suami, Keke sama sekali tak menahannya. Dia terus berharap, tapi sebagai manusia, kesabaran juga ada batasnya! Akhirnya, bercerai memang jalan keluar dari belenggu hubungan yang toxic ini.
***
“Asmo, aku sudah memutuskan kalau kita harus bercerai! Aku akan segera mengurus suratnya dan angkat kaki dari rumah ini.” Keke menyampaikan keputusannya saat tengah berada di meja makan bersama Asmo.
“Urus saja secepatnya! Akhirnya, setelah sekian lama, otakmu dipakai juga! Kenapa sih, kamu selama ini selalu bertahan dalam ikatan bodoh ini?” Asmo bertanya dengan nada agak penasaran dengan alasan Keke mempertahankan pernikahan mereka.
“Aku pikir, kamu bisa berubah dan kita bisa menjalani kehidupan pernikahan yang normal. Aku pikir, cintaku bisa keluar sebagai pemenang. Ternyata, kau lebih brengseek daripada dugaanku,” jawab Keke dengan nada datar.
Terkadang, Asmo sama sekali tak mengerti istrinya. Wanita itu terlihat arogan dan begitu dingin. Sejak pertama mengenalnya, Asmo berusaha menaklukkannya karena merasa penasaran. Walau terlihat dingin, ternyata pesonanya bisa membuatnya terpengaruh. Setelah mengambil kegadisan istrinya di malam pertama, rasa penasarannya sudah terpuaskan dan seperti biasa, dia langsung menganggap rendah istrinya. Baginya, Keke sama saja dengan perempuan yang dia temui.
Dia pikir, Keke adalah seorang wanita pemarah, tapi dia sangat sabar. Dia kira, Keke takkan sabar padanya, tetapi dia selalu mau meladeni Asmo. Keke memang punya karakter yang menarik. Dan entah kenapa, Asmo baru menyadari semuanya sekarang. Di saat Keke meminta untuk berpisah.
“Ya, aku brengseek dan aku bangga! Urus saja perceraikan kita ya! Aku harus berangkat bekerja. Aku pergi dulu!” Asmo pamit meninggalkan istrinya seusai sarapan. Keke hanya menghela napasnya panjang
‘Kenapa… aku merasa lega setelah meminta berpisah? Harusnya, aku melakukannya dari dulu!’ batin Keke merasa lega setelah memutuskan untuk bercerai.
Asmo bukan orang yang kasar yang mau menyakiti fisiknya. Pria itu lebih suka menyiksa batinnya dan hal itu adalah masalah serius tentunya. Keke juga sadar, sudah tak ada lagi cinta yang dia miliki untuk pria itu. Dia pun memakan sarapannya lalu bersiap ke pengadilan negeri untuk mengurus perceraiannya. Mimpi buruknya akan segera berakhir ternyata.
Pengadilan Negeri
Keke berulang kali memandangi surat gugatan perceraiannya. Besok, Asmo akan menerima surat gugatan darinya. Dia memutuskan untuk langsung pulang setelah mengurus gugtan perceraiannya. Dia ingin langsung membereskan barang- barangnya dan langsung angkat kaki dari mansion itu. Semua mimpi buruknya terjadi di mansionnya setelah pernikahannya. Dia menaiki mobilnya, namun seseorang menghalangi jalannya.
“Kakak?” gumamnya lalu keluar dari mobilnya.
“Keke, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya kakaknya yang kebetulan ada di sini. Kakaknya, Glasya Odelia, SH, MH adalah seorang pengacara sekaligus dosen hukum. Banyak alasannya untuk berada di tempat seperti ini.
“Aku mengurus perceraian,” jawabnya singkat, padat dan jelas. Glasya menatap tak percaya dengan keputusan adiknya itu. Dia tak mengira, kalau Keke harus mengakhiri pernikahannya, walau wajar dia mengambil keputusan ini.
“Kalian sudah saling setuju?” tanya Glasya hati- hati.
“Dia sangat senang,” jawab Keke lagi seadanya.
“Tapi, bagaimana masa depan kamu, Ke? Kamu harus menjadi seorang janda di usia semuda ini. Hidup kamu bisa hancur, Ke!” Glasya ingin Keke memikirkan lagi soal keputusannya untuk bercerai.
“Hidupku sudah hancur,” balas Keke dengan nada datar.
“Sialan! Asmo, akan kubunuh kau yang sudah menyakiti adikku!” kesal Glasya ingin menghampiri Asmo untuk memberi pria itu pelajaran. Namun, Keke menahan tangannya dan otomatis dia berbalik menatap adik perempuannya.
“Bukan Asmo yang menghancurkan hidupku! Tapi kamu, Kak!” ujar Keke membuat Glasya terbelalak. Dia tak menyangka Keke berkata seperti ini padanya.
“Kenapa kamu menyalahkan kakak?” Glasya tak mengerti kenapa adiknya malah menyalahkannya atas kegagalan pernikahannya. Glasya juga punya kehidupan pernikahan sendiri dan tak pernah mencampuri urusan pernikahan adiknya.
“Kakak lupa? Aku menikah dengan Asmo demi menyelamatkanmu dari perjodohan? Kamu sudah punya kekasih dan terus membujukku untuk menerimanya, padahal kau mengenal dan tahu sifatnya! Kenapa kau melakukan itu padaku, Kak? Aku menderita dan menahan segala rasa sakit, tapi kau malah enak- enakan dengan kekasihmu sampai menikah! Ah, hidup memang sangat tak adil ya?” jelas Keke panjang lebar sampai mengingatkan Glasya tentang awal mula semuanya.
Glasya terdiam dan menyadari semua yang sudah dia lakukan. Dia sadar, ini adalah kesalahannya. Keke bisa melihat penyesalan di wajah kakaknya, tapi dia diam saja. Dia melepaskan genggaman Glasya dan menaiki mobilnya. Dia menjalankan mobilnya dan meninggalkan kakak perempuannya yang masih terdiam dan tertegun. Keke sudah lelah hanya diam dan menahan segalanya. Biarlah, dia menyampaikan seluruh kekesalannya kepada kakaknya. Glasya memang patut disalahkan karena keegoisannya dan mengorbankan kehidupan adiknya.
‘Maafkan aku, Adikku.’ Glasya menyesali kesalahannya.