PRANATA CORP
Seorang pria pirang tinggi berjalan dengan langkah cepat ke arah sebuah ruangan. Tak ada yang menghalanginya seakan dia sudah biasa datang ke sini. Dia dengan lancangnya, langsung membuka pintu ruang kerja dari pimpinan Perusahaan itu dan menghampirinya dengan raut wajah marah dan kesal.
‘BUGHH!’
Baru saja datang, pria itu sudah menghadiahi sang pimpinan perusahaan dengan bogeman mentah. Asmo yang adalah pimpinan perusahaan itu terkejut dan menatap orang itu dengan tak terima. Pria itu adalah Raymond Mahesa, sahabat karibya. Dia heran dan memicingkan tatapannya kepada Raymond.
“Apa masalahmu?!” tanyanya dengan nada kesal pada Raymond.
“Masalahku? Kau menyakiti Keke dan kalian akan segera bercerai, bukan? Glasya baru saja memberi tahuku kalau Keke sedang mengurus perceraian. Kapan kau akan sadar, Sialan?!” Raymond memberi tahu segala kekesalannya pada Asmo.
Memang, dia bukan siapa- siapanya Keke. Tapi, saat istrinya menangis dan mengadu padanya, emosinya langsung meluap ke ubun- ubun. Sahabatnya juga harusnya sadar soal kelakuannya selama ini. Shintike selama ini sudah sangat bersabar dan baik padanya. Sebagai seorang kakak ipar, dia cukup mengenal wanita itu. Dia terkadang merasa kasihan dengan nasib Keke yang harus terus menahan rasa sakitnya karena bersama pria sebrengsek Asmo.
“Justru bagus dia mau bercerai denganku! Aku dan dia takkan terikat hubungan bodoh ini lagi. Aku akan bebas! Dan dirinya tak perlu lagi merasakan sakit hati karena kelakuanku. Mond, kau sudah mengenalku sejak dulu, harusnya kau mengerti,” balas Asmo dengan santainya. Dia sama sekali tak sadar dan merasa tak bersalah sudah menyakiti Keke. Raymond hanya bisa geleng- geleng kepala dengan sikap Asmo yang sama sekali tak mau berubah.
“Apa salahnya kalau kau mempertahankan dirinya? Dia itu wanita yang baik yang sudah mau sabar meladeni kegilaanmu! Tapi, kalau dipikir lagi memang harusnya bajiingan sepertimu tak layak mendapatkan cinta!” Raymond lagi- lagi mencoba menyadarkan sahabatnya itu. Tapi, dia akhirnya menyerah kalau teringat soal buruknya seorang Asmo soal wanita. Perceraian memang jalan terbaik dan Keke akan segera bebas memilih jalannya.
“Jangan menghakimi! Semua wanita dengan sukarela memberikan cinta mereka padaku! Bukan hal sulit bagiku untuk mendapatkan cinta! Aku bukan sepertimu yang terpaku pada seorang wanita saja! Aku ingin bebas seperti seekor burung yang mengepakkan sayapnya!” Asmo lagi- lagi berujar santai dan penuh kepercayaan diri.
“Terserah apa maumu! Aku pastikan, kau akan menyesali semua ini!” Raymond langsung berbalik dn keluar dari ruang kerja sahabatnya itu. Asmo hanya menyunggingkan senyum meremehkan.
“Cih! Menyesal katanya!” Dia mendecih dengan nada remeh.
Mansion
Keke sudah sampai ke rumahnya. Dia masuk ke dalam menuju ke kamarnya. Wanita itu langsung mengambil kopernya dan membereskan semua barang- barangnya. Dia sudah meletakkan surat gugatannya di meja tamu dan tinggal ditandatangani oleh Asmo. Sebelum itu, Keke memilih untuk keluar dari rumah ini. Rumah yang dia kira akan menjadi masa depannya. Tapi sayang, mimpi buruknya dimulai di rumah ini. Keke terduduk sambil mengingat, bagaimana dulu Asmo memberikannya harapan setinggi langit. Dan dengan bodohnya, dia percaya.
Flashback
“Kamu cantik sekali!” puji Asmo padanya. Keke hanya membalas pria itu dengan tatapan datar. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah papanya memutuskan untuk menjodohkan mereka.
“Anda mengatakan hal itu kepada setiap perempuan, bukan?” balas Keke dengan ad datar. Dia sudah tahu kalau Asmo adalah seorang pemain wanita, walau Glasya sudah bilang kalau dia mau insaf.
“Kamu benar! Tapi, kali ini aku serius! Walau wajahmu sedemikian datar dan jutek, kamu sangat cantik! Aura kamu berbeda dengan perempuan yang pernah aku temui. Kamu spesial!” jawab Asmo memuji Keke setinggi langit. Keke yang mendengar itu berdebar walau dia tak menunjukkan ekspresi apapun.
“Anda berlebihan!” Keke menyangkal semua pujian Asmo walau pujian itu sempat menyentuh hatinya.
Asmo hanya memberikan senyuman manisnya yang membuat perempuan mana pun tak bisa menolaknya. Tatapan hangatnya begitu menyentuh hati dan menghangatkan hati Keke saat ini. Walau pribadinya agak dingin dan terkesan datar, Keke juga punya perasaan. Hatinya sangat lembut dan dia sangat baik hati jika sudah kenal baik dengannya.
“Mungkin, kamu tak percaya untuk saat ini. Saya harap, kamu bisa benar- benar mencintai saya saat kita menjalani pernikahan kita. Aku yakin, pernikahan kita akan menjadi mimpi kita berdua,” ucap Asmo memberikan harapan setinggi langit. Keke ingin tak percaya, tapi hatinya terus mendorong dirinya untuk termakan rayuan buaya satu ini.
“Baiklah! Aku akan menerima perjodohan ini. Mohon bantuannya!” Keke menerima perjodohan ini. Perjodohan yang membawa dirinya ke jenjang pernikahan dengan Asmo. Pernikahan mimpi buruk yang tak pernah dia duga sebelumnya.
End of Flashback
“Aku sangat bodoh!” rutuk Keke pada dirinya sendiri. Wanita itu meraih sebuah diari di mejanya dan menuliskan sesuatu di dalamnya. Saat menulis, air matanya terus mengalir sebagai ungkapan kesedihannya. Keke memang punya kebiasaan untuk menulis diari sebagai tempat dia menuangkan segala perasaannya.
Semua sikap Asmo padanya selama ini tak pernah dia ceritakan kepada keluarganya. Bahkan, Glasya baru tau semua masalahnya tadi siang saat mereka bertemu di pengadilan negeri. Diam adalah cara dia untuk menyelesaikan masalah dan berharap Asmo bisa mengerti dirinya suatu hati. Tapi sayangnya, pria itu sama sekali tak peduli dan terus saja menyiksa perasaanya.
Selama dua tahun menikah, entah sudah berapa banyak perempuan yang menjadi teman tidur suaminya. Sudah berapa kali pria itu membawa perempuan panggilan dan keduanya bermain gila di kamar mereka. Setiap dia memohon supaya suaminya berubah, Asmo tak mau mendengarkannya dan selalu meninggalkannya sendirian. Dia sama sekali tak dipedulikan oleh pria itu. Di mata Asmo, dia bagaikan barang yang sudah dibeli dan bisa diperlakukan dengan seenak hatinya. Sungguh ironis kenyataan pahit pernikahan mereka.
“Suamiku, aku tak pernah membencimu! Tapi, aku harap kau akan menyesali semuanya! Kau benar- benar menyiksaku…hikss!” Keke berharap suatu saat nanti Asmo akan menyesali semua kesalahannya. Dia yakin, karma akan berlaku dan Asmo akan merasakan sakit yang lebih daripada luka yang dia torehkan di hati Keke yang sangat lembut itu.
Setelah selesai menulis diarinya, Keke langsung menghapus air matanya dan beranjak untuk mandi. Sebelum pergi, dia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Tak berapa lama, dia selesai dan sudah berpakaian rapi. Dia berjalan ke laci nakas ranjang dan mengambil kotak cincin pernikahan mereka. Dia membuka lalu memandangnya sebentar kemudian menutupnya lagi.
‘Setidaknya, ini akan menjadi kenang- kenangan yang mengingatkan kalau dia pernah mengucapkan sumpah pernikahan,’ batin Keke memutuskan mengambil kotak cincin itu dan menaruhnya ke dalam kopernya. Meski pernikahannya adalah mimpi buruk, Keke selalu menganggap sebuah hubungan penting!
“Bodohnyaa aku yang ternyata masih punya rasa pada sibrengsek itu!” rutuknya lagi pada dirinya sendiri sambil merasa bodoh.
‘CEKLEK!’
Pintu kamar terbuka dan menampakkan Asmo yang ternyata sudah pulang dari tempat kerjanya. Tanpa dia sadari, ternyata hari sudah sore menjelang malam. Ini memang sudah waktunya bagi Asmo pulang bekerja. Keke langsung berbalik dan tatapan mereka bertemu. Wanita itu langsung kikuk dan membereskan barang- barangnya dengan cepat.
“Aku akan segera pergi!” kata Keke langsung mengankat kopernya.
“Kau akan ke mana?” tanya Asmo ingin tahu.
“Bukannya, anda sama sekali tak peduli? Kelanjutan dri kehidupan saya adalah urusan saya, Tuan Pranata.” Keke memberikan jawaban sinis kepada Asmo.
“Aku bukannya peduli padamu! Tapi, apa kata orang kalau setelah ini kau hidup susah? Aku tidak mau disebut sebagai pria yang menelantarkan istrinya! Bawa ini dan semua hakmu!” Asmo menyodorkan sebuah kartu black card unlimited kepada wanita itu.
“Tidak! Aku datang ke sini tanpa membawa apapun kecuali bajuku, dan keluar tanpa mengambil apapun darimu! Aku akan segera memulai hidup baru yang aku yakini akan bisa membawaku kepada kebahagiaan yang sesungguhnya!” Keke menolak denga tegas.
Dia sangat miris kembali teringat kalau dia menikah dengan Asmo setelah tamat kuliah. Dia tak sempat meraih cita- citanya sebagai seorang desainer dan harus terjebak sebagai ibu rumah tangga. Asmo memang tak melarangnya bekerja, hanya saja, dia terlalu berfokus pada pria tak tahu diri itu sampai lupa pada dirinya sendiri. Sungguh pengorbanan yang luar biasa dari Shintike untuk pernikahan mimpi buruknya ini.
“Kalau tak mau, aku juga tak memaksa!” Asmo hanya menggidikkan bahunya. Dia kembali memasukkan black card itu ke dompetnya dan membiarkan Keke pergi.
“Hati- hati! Di luar bahaya!” Asmo sedikit mengingatkan wanita itu.
“Aku tahu! Terima kasih! Aku anggap ini sebagai sebuah perhatian darimu!” balas Keke lalu benar- benar keluar dari mansion ini. Wanita itu menyalakan mobilnya dan pergi. Asmo melihat semunya dari balkon atas rumahnya.
“Hahh! Akhirnya, semua kegilaan ini selesai juga!” Dia menghela napasnya lega lalu duduk di ranjangnya. Dia melihat sebuah diari masih ada di sini. Dia meraihnya dan melihat ada nama Keke di situ.
‘Ini miliknya!’ pikir Asmo langsung menebak kalau diari ini adalah milik istri yang akan segera jadi mantan istrinya itu.
“Cih! Dia sengaja meninggalkannya supaya aku membaca semua curahan hatinya dan menyesal? Shintike, kau salah orang!” remeh Asmo sambil melempar diari itu ke sembarang arah.
Dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah mandi, pandangannya kembali pada diari itu. Dia sangat penasaran dengan isinya, tapi dia tak mau membukanya. Walau dia adalah pria bajiingan yang hobi main perempuan, perasaannya sangat lembut. Dia tak tega kalau melihat Keke menangis. Makanya, setiap selesai berdebat dan mendengarkan isakan Keke, dia memilih pergi. Dia tak ingin tersentuh oleh air mata dari istrinya itu.
“Aku akan kembalikan ini padamu, Shintike!” ujarnya mengambil diari itu da turun ke bawah untuk mengambil mobilnya. Dia keluar dari mansion dan menyusuli istrinya, tapi dia berhenti seketika.
“Tapi… dia pergi ke mana?” gumam Asmo baru terpikir. Keke sama sekali tak memberi tahu apapun soal ke mana tujuannya. Pria itu langsung mengambil ponselnya dan mencari nama istrinya di dalam. Dan ya, Keke langsung mengangkat telponnya seperti biasa.
“Ada apa?” tanya Keke dari sana.
“Ada di mana kau sekarang? Diarimu ketinggalan!” Asmo tanpa basa- basi menanyakan posisi istrinya.
“Diariku? Baiklah, aku ada di dekat air mancur saat ini. Aku akan menunggumu! Buku itu sangat berarti bagiku,” balas Keke dan Asmo langsung memutuskan sambungan telponnya. Dia segera menghidupkan mobilnya dan pergi ke tempat yang dimaksud sang istri.