Universitas Nasional
Fakultas Hukum
“Glasya, tolong nanti datang ke ruangan ibu! Nanti, ibu akan menjelaskan beberapa poin untuk penelitianmu. Di antara teman- teman kamu, nilai kamu yang terbaik di angkatan ini. Ibu kagum padamu!” pui sang dosen sebelum keluar dari ruang kelas Glasya.
Glasya Odelia adalah mahasiswi jurusan hukum semester ke- 5 dan selalu meraih nilai terbaik. Selain pintar, dia juga adalah mahasiswi paling cantik dan seksi. Banyak mahasiswi yang iri padanya dan banyak mahasiswa yang menyatakan cinta untuknya. Tapi, sejauh ini dia sama sekali tak berpacaran karena larangan sang ayah. Dia tak mau hal- hal di luar dugaan terjadi, maka dia memilih untuk menurut.
Tapi, saat salah satu teman mengajaknya ke bar, entah kenapa dia tergoda. Dia sebenarnya sudah mulai lelah dengan status jomblonya. Parahnya lagi, teman- temannya menganggap dia cupu karena masih perawan. Lucu, bukan? Tapi, Glasya benar- benar terpengaruh dan bahkan nekad untuk melepas keperawannya semalam. Sayangnya, pria yang ditemuinya menunda hal itu dan membuat dirinya memilih untuk pulang juga.
“Hah! Kapan aku bertemu dengan kamu lagi, Raymond?” gumamnya sekeluar dari ruang kelasnya. Dia berharap, bisa bertemu Raymond yang tampan suatu hari nanti. Dia ingin dekat dan merasakan apa itu pacaran.
‘Tapi, belum tentu dia orang baik, sih! Benar juga, kata Keke,’ pikir Glasya lagi. Dia baru sadar, kalau kelakuannya sama sekali tak dipikirkan. Dia bahkan sama sekali tak mengindahkan nasihat dari adiknya. Tapi untunglah, dia masih bisa sadar sebelum benar- benar kehilangan segalanya. Karena terlalu banyak berpikir, Glasya tidak sadar ada sebuah tangan yang menahannya.
“Wait!”
Suara seorang pria mengalihkan perhatiannya. Gadis itu menoleh dan melihat pria yang semalam ditemuinya di bar datang ke dekat ruang kelasnya dan kini menahan tangannya. Dia mengerjapkan matanya mencoba untuk memastikan kalau dia sama sekali tak salah lihat. Pria itu memasang wajah sombongnya, bukan wajah terpesona seperti tadi malam.
“GLASYA! Itu nama kamu ya?” tanya Raymond sambil menekankan nama gadis itu. Tentu saja, Glasya terkejut bukan main saat pria ini mengetahui namanya.
‘Aku sama sekali tidak memberi tahu namaku padanya,’ heran Glasya dalam hatinya. “Terkejut ya? Tapi, temanku yang memberi tahuku soal namamu. Sepertinya, kalian sudah saling kenal sebelumnya,” ujar Raymond lagi.
“Temanmu? Yang mana?” tanya Glasya bingung.
“Asmo Deus. Kau kenal dia?” Raymond menyebut nama Asmo dan membuat Glasya terbelalak. “Asmo? Dia temanmu? Aku kenal dia, tapi kami tidak pernah bertegur sapa sebelumnya. Dari mana dia tahu namaku?” Glasya tak kalah heran. Tentu, dia kenal Asmo karena pria itu sudah terkenal sebagai playboy kelas kakap di Universitas ini. Tapi, dia gak ingat pernah kasih tahu namanya ke Asmo. Ketemu langsung juga cuma semalam sepanjang masa kuliahnya.
“Begitu ya? Eum… sebenarnya aku ingin kamu balikin kartu ATM-ku. Ternyata, kamu lancang juga!” ujar Raymond tanpa basa- basi.
“Kalau aku gak mau, gimana?” Glasya menolak sekaligus memberikan tatapan menantang kepada Raymond.
‘Sial! Dia berteman dengan si Asmo itu! Pasti, tingkahnya gak jauh beda! Aku akan kasih dia pelajaran, biar tobat sekalian!’ batin Glasya asal nuduh.
“Lah? Itu kan punya saya? Nanti, kamu mau saya laporkan?” kesal Raymond mendengar jawaban yang tak dia inginkan dari Glasya. Gadis itu benar- benar memancingnya. Dia tak menyangka, walau perawakan Glasya sangat cantik seperti bidadari, gadis itu punya sisi yang kayaknya agak mengesalkan.
“Laporkan saja! Gak takut! WEK!” Glasya gak peduli dan malah memeletkan lidahnya di depan Raymond. Setelah itu, dia meninggalkan Raymond yang terdiam karena sikap Glasya yang menyebalkan.
Setelah Glasya berlalu, dia langsung berjalan dengan kesal menuju mobilnya di parkiran. Dia tidak mau capek- capke mengejar Glasya karena gadis itu mengarah ke ruangan dosen. Asmo yang melihat temannya yang kembali dengan tampang kesal, langsung terkejut. Ini benar- benar di luar dugaannya. Harusnya, Raymond senang bertemu dengan Glasya, bukannya terlihat kesal.
“Ternyata, dia sama sekali tak seperti yang kupikirkan. Sikapnya sangat menyebalkan!” ujar Raymond sambil duduk di dashboard mobilnya.
“Menyebalkan gimana? Kartunya udah dia balikin belum?” tanya Asmo bertubi- tubi. Dia tak menyangka, Rayond bisa berekspresi seperti ini setelah jumpa dengan gadis yang dikaguminya semalam. Dalam ingatannya, Raymond akan menganggap semua sifat Glasya itu lucu dan menarik. Tapi, kenapa sekarang berbeda?
‘Bahaya, nih! Rasanya, aku seperti akan mengubah masa depan!’ batin Asmo mulai panik.
“Aku ingin blokir, tapi papaku pasti marah!” Raymond menjawab.
“Lah? Dia belum balikin tuh kartu? Kok bisa ya, si Glasya bersikap seperti itu?” Asmo terheran- heran dengan perubahan ini. Baru sehari lebih dia kembali dari masa depan, tapi dia sudah mengubah hubungan manis yang seharusya dijalani Raymond dan Glasya.
“Dah lah! Bilang saja, kalau aku dirampok! Huft! Aku balik dulu!” ujar Raymond memilih untuk tidak terlalu memikirkan masalah ini. Dia sudah menemukan jalan keluarnya dan memilih melupakan masalahnya. Ah, dia juga ingin menghapus soal Glasya, tapi sayangnya dia masih kepikiran soal gadis itu. Walau sikapnya menyebalkan, dia masih saja membayang di benak Raymond.
‘Dia sama saja dengan perempuan lain!’ batin Raymond kesal sambil menjalankan mobilnya meninggalkan Asmo di parkiran. Sahabatnya itu malah garuk- garuk kepala karena bingung dengan semua yang terjadi.
‘Kok jadi gini, sih? Sial!’ kesal Asmo karena tindakannya yang terlalu gegabah semalam mengubah apa yang terjadi hari ini. Dia pun berjalan menuju mobilnya untuk pulang juga. Dia ingin membicarakan beberapa hal dengan sahabatnya itu, tapi sayangnya Raymond sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk diajak bicara. Mukanya sedang kesal, sama pula seperti hatinya. Yang ada, dia malah jadi korban amukan dari sahabatnya itu. Oh, Asmo sama sekali tak ingin hal itu terjadi.
Saat dijalan, Asmo melihat seorang gadis yang berjalan menuju halte bus. Pria itu baru saja melewati sebuah sekolah SMA di dekat kampusnya dan dia tahu siapa gadis itu. Langsung saja, dia berhenti sebelum gadis itu sampai di halte.
‘CKITT!’
Suara rem mobil menghentikan langkah gadis itu. Dia heran, kenapa ada mobil yang berhenti di dekatnya. Dia juga sama sekali tak mengenal mobil itu. Tapi, dia hanya memberikan tatapan datar, walau dia heran. Dia memang sangat pelit ekspresi.
“Shintike!” ujar Asmo yang baru keluar dari mobilnya. Pria itu langsung memamerkan senyum lebarnya dan memberi tatapan berbinar- binar kepada gadis itu. Keke hanya terdiam! Dia heran dengan tingkah pria itu yang sok kenal dan sok dekat dengannya.
‘Apa lagi urusan orang ini?’ pikir Keke dalam hatinya. Dia masih tak bisa lupa, kalau semalam pria itu lancang memeluknya. Dia tak masalah, karena pria itu sudah minta maaf. Tapi sekarang? Dia tak mengerti apa maksud dari keramahan Asmo padanya.
“Kamu baru pulang sekolah ya?” tanyanya sok perhatian menurut Keke. Padahal, Asmo memang tulus perhatian padanya.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Kamu pulang jalan kaki atau naik bus?” tanyanya lagi.
“Naik bus,” jawab Keke sangat seadanya.
“Ah, begitu ya? Kamu keberatan kah, kalau aku antarkan?” tawar Asmo seramah mungkin terselip harapan di dalamnya.
“Keberatan! Saya tidak kenal dengan anda juga! Memangnya, anda tahu rumah saya dari mana?” tolak Keke terus terang dan menghujani Asmo dengan banyak pertanyaan. Mendengar itu, Amsmo terdiam sambil menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tahu, dia bertindak terlalu cepat dan terburu- buru. Tapi, dia tak bisa menahan diri dan perasaannya. Dia ingin berada di dekat Keke dan mendapatkan lagi cinta dari gadis itu.
‘Tapi, aku lupa kalau dia memang orang yang selalu menutup diri,’ batin Asmo baru teringat akan sifat Keke.
“Maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya, Asmo Deus Pranata!” Asmo memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan secara resmi.
“Anda sudah memberi tahu nama anda sebelumnya! Tapi, anda kenal saya dari mana?” balas Keke tanpa membalas uluran tangan Asmo.
“Eumm… itu, karena ada di name tag kamu!” Asmo menunjuk sebuah name tag yang digunakan oleh Keke. Untung, dia tak habis akal untuk memberi jawaban pada Keke. Dia tidak ingin gadis itu mencurigai dirinya. Tapi, malah hal itu yang membuat Keke semakin curiga. Gadis itu mengernyitkan dahinya. Dia semakin tak mengerti apa maksud dan tujuan Asmo mendekatinya.
“Maaf sebelumnya, tapi dari nama anda, sudah kelihatan bagaimana sikap dan perilakunya. Asmodeus dalam mitologi adalah iblis yang penuh napsu! Apa anda ingin menjadikan saya sebagai korban anda untuk memuaskan keinginan tak senonohmu itu?” sindir Keke membuat Asmo terbelalak. Dia baru sadar, kalau Keke bisa berkata menusuk pas di tempatnya.
“Haha! Tapi, saya juga tak tahu kenapa orang tua saya memberi nama ini untuk saya. Tapi, saya tetap menghargainya kok! Dan saya mendekati kamu bukan untuk maksud yang buruk. Entah kenapa, sejak perjumpaan kita, saya merasa tertarik padamu! Saya ingin kenal kamu lebih baik lagi, itu saja.” Asmo memberi penjelasan supaya Keke tidak berburuk sangka padanya.
Niatnya tulus dan dia ingin Keke juga merasakannya. Dia ingin menebus kesalahannya dan tak ingin hidup dalam rasa bersalah. Dia ingin membahagiakan gadis yang ada di hadapannya ini dengan sepenuh hati. Tapi, bagi Keke semua perkataan Asmo hanyalah bualan belaka. Dia adalah orang yang paling susah percaya kepada orang lain, terlebih lagi, kakaknya sudah memberi tahu bagaimana prilaku Asmo. Dia semakin ingin menjaga jarak dan kalau bisa menjauh.
“Anda tak perlu berkenal baik dengan saya! Saya tidak tertarik!” tolak Keke tegas sambil meneruskan langkahnya. Kebetulan, bus sudah berhenti di halte dan dia dengan cepat naik ke dalam bus. Melihat sikap tak acuh dari Keke, pria itu terdiam. Dia memegang dadanya dan seketika merasa sesak. Dia teringat dengan apa yang dulu pernah dilakukannya kepada Keke dalam ingatannya soal pernikahan mereka.
“Suamiku, kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?” tanya Keke kala melihat Asmo sedang b******u dengan perempuan lain di ranjang mereka. Hatinya sangat sakit dan napasnya terasa sesak. Mereka sudah menikah setahun lebih, dan ini kali pertamanya Asmo membawa selingkuhannya langsung ke rumah mereka. Pria itu tersenyum meremehkan sambil beranjak dari ranjangnya.
“Kenapa? Kamu gak suka? Atau… kamu mau bergabung?” tanya Asmo dengan nada meremehkan pada istrinya. Keke menatap tak percaya dengan cara suaminya memberi jawaban setelah tertangkap berselingkuh di depan matanya. Ingin rasanya dia menangis, tapi dia menahan air matanya.
“Kenapa?” tanya Keke meminta penjelasan lagi.
“Karena aku sudah muak denganmu! Kalau kamu tidak ingin mempertahankan hubungan kita, silakan saja angkat kaki dari rumahku! Jangan ganggu kebebasanku! Kau mengerti?” jelas Asmo sambil memberikan tatapan sedemikian tajam kepada istrinya. Keke menggeleng tak percaya dengan jawaban suaminya. Dia menatap kesal pada perempuan panggilan suaminya itu. Lalu, dia keluar dari kamar mereka dengan perasaan sakit hati luar biasa.
“Aishh! Kenapa aku bersikap seperti itu padanya? Apa sekarang, aku kena karma? Atau, aku memang tidak berhak bersama dengannya?” Asmo bertanya- tanya sendiri. Dia kini bimbang dengan tujuannya untuk mendekati dan membahagiakan Keke. Tapi, teringat akan apa yang dilakukannya dalam ingatannya di masa itu, dia jadi meragukan dirinya sendiri. Dia takut, kalau dia akan mengulangi kesalahan yang sama kepada Keke.
‘Aku harus mulai dari awal! Aku harus memutuskan semua pacar- pacarku!’ tekad Asmo. Di masa ini, dia punya banyak pacar dan harus menyelesaikan hubungannya dengan mereka semua. Dia akan fokus kepada Keke dan merubah dirinya yang memang tak tahu diri ini.