“Tarra! So sorry, tapi aku mau putus!” Asmo berujar kepada pacarnya saat ini. Di masa ini, memang pacarnya adalah Tarra.
Tarra hanya diam tak berekspresi. Tatapannya jelas seperti sudah menduga hal ini sebelumnya. Wanita itu menghela napasnya sambil membalas tatapan pacarnya yang mungkin sekarang akan segera disebut sebagai mantannya. Dia sudah tahu soal hal ini sebelumnya, karena itulah resiko berpacaran dengan playboy akut. Tapi, setelah itu, dia mengangkat tangannya dan menghadiahkan tamparan kepada Asmo.
“Setelah apa yang aku kasih ke kamu, bisa- bisanya kamu bilang begini? It’s okay! I know it before! Tapi, kamu gak akan pernah tenang setelah ini!” ujarnya memberi peringatan. Dia pun meninggalkan Asmo di café tempat mereka ketemuan. Pria itulah yang mengajaknya bertemu malam ini. Tapi ternyata, dia malah memberi tahu keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka.
Asmo masih mematung sambil memegang pipi kananya yang ditampar oleh Tarra. Ini bukan yang pertama kali. Dia selalu mendapatkan hal itu setiap kali dia memutuskan para wanitanya. Bisa dibilang, Asmo sudah kebal dengan semua ini. Pria itu menghela napasnya merasa lega. Dia sudah tak terikat dengan perempuan mana pun lagi. Tak ada yang akan menghalangi dirinya untuk mendekati Keke. Dengan tekad, dia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi.
‘Ke, aku akan membuktikan kalau aku pantas bersamamu!’ batinnya. Dia langsung pulang untuk menunggu hari esok. Besok akan menjadi hari baru lagi untuk memulai perjuangannya.
***
“Sial! Kartu ini malah sudah diblokir!” kesal Glasya baru saja pulang dari mall. Inginnya tadi belanja banyak, tapi kartu ATM unlimited itu malah sudah terblokir. Yang ada, dia pulag dan terduduk lemas di sofa ruang tamu rumahnya.
Glasya tak menyangka, kalau Raymond malah memilih jalan ini dan sepertinya tak ada harapan untuk bertemu lagi dengan pria itu. Dia sangat yakin, kalau setelah ini Raymond takkan mencarinya lagi dan semua yang terjadi waktu itu hanyalah hal biasa yang harus segera dilupakan. Sungguh! Glasya merasa sia- sia dengan usahanya. Memang berlebihan, tapi begitulah caranya untuk mendapat perhatian dari pria tampan itu.
Keke baru saja turun dari kamarnya. Dia heran dengan ekspresi kakaknya yang kelihatan muram. Baru saja dia selesai belajar dan kini kakaknya membuatnya agak heran. Keke tanpa ragu melangkah dan duduk di sebelah kakaknya. Dia tahu, kalau sudah seperti ini, kakaknya butuh teman bercerita. Dia ingin mendengarkan apa yang kini dirasakan kakaknya. Mungkin saja, dia bisa membantu.
“Ada apa?” tanya Keke mengalihkan lamunan Glasya.
“Eh? Itu, pria yang kemarin kaka temui di bar sudah menemui kakak dan meminta kartu ATM-nya. Kakak sebenarnya menahan ini supaya ada alasan bertemu lagi, eh dia langsung blokir.” Glasya menjelaskan situasinya kepada Keke.
“Kakak terlalu lancang! Terkadang, seorang pria tidak suka kalau perempuan berlaku demikian. Harusnya, kakak bersikap lebih sopan.” Keke memberi nasihat. Mendegar itu, Glasya mendengus kesal. Perkataan Keke ada benarnya! Tapi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Yang ada, Glasya hanya menyesal dan merasa malu. Dia tak tahu harus memasang wajah seperti apa kepada Raymond kedepannya.
“Kakak sebenarnya melakukan itu karena kakak menilainya sepihak. Dia mengaku temannya Asmo, jadi kakak merasa harus memberikannya pelajaran,” ujar Glasya agak membela dirinya. Glasya merasa, kalau dia juga tak salah sepenuhnya.
“Apa hubungannya, Kak? Itu sama sekali bukan urusan kakak,” balas Keke benar- benar tepat sasaran. Perkataan Keke tak bisa disangkalnya lagi dan akhirnya dia memilih diam.
Dia terdiam merenungi apa yang saja kebodohan yang dia lakukan. Mulai dari dia mengambil dompet pria itu saat mereka b******u dan caranya mengambil dua kartu penting dari Raymond. Saat pria itu meminta, dia malah tak mau mengembalikannya dan bersikap menyebalkan. Glasya baru menyesalinya sekarang dan mengacak surainya. Keke hanya menatap dia kakaknya yang pasti memikirkan semua kebodohan yang dilakukannya.
Tak lama, Keke teringat akan sesuatu. Kakaknya menyebut nama Asmo yang adalah teman dari pria yang dikenal kakaknya. Asmo tadi berniat untuk mengantarkannya pulang dan hal ini agak mengganggu bagi Keke. Dia tak bisa menahan diri dan akhirnya buka suara untuk cerita kepada Glasya.
“Tadi, pria bernama Asmo itu ingin mengantarkanku pulang. Dia entah datang dari mana dan turun dari mobilnya. Aku jadi heran, dia berlaku seakan mengenal tentang diriku.” Keke bercerita. Mendengar itu, Glasya terbelalak tak percaya! Dia merasa ada sebuah kejanggalan dalam situasi mereka.
Dia jadi berpikir, kenapa Asmo bisa tahu namanya dan tahu di mana fakultasnya di kampus. Bahkan, dia yang memberi tahu Raymod soal keberadaannya di kampus. Glasya gak pernah ingat kalau dia pernah mengenalkan dirinya kepada Raymond. Dan keanhan lain lagi adalah karena Asmo tahu nama adiknya dan memeluk Keke kemarin. Semua situasi janggal ini membuat Glasya merasa, kalau Asmo sepertinya mencari tahu semua informasi soal mereka dengan sebuah maksud.
Ditambah lagi, adiknya bercerita kalau Asmo berniat mengantar Keke pulang. Memangnya, pria itu tahu dari mana alamat mereka? Jiwa ingin tahunya mulai bekerja. Dia ingin mendalami kasus ini, karena nalurinya sebagai calon pengacara.
“Ke, tolong hati- hati! Dia itu bukan orang baik! Sepertinya, dia banyak tahu soal kita. Dia sepertinya menargetkan kamu!” ujar Glasya memberi peringatan kepada adiknya.
“Iya, Kak! Aku akan berhati- hati.” Keke mengangguk. Dia merasa, kalau peringatan Glasya memang ada benarnya dan dia harus berhati- hati dengan Asmo.
***
Universitas Nasional
Suasana di ruang kelas ini sudah ribut kembali, karena dosen sudah keluar dan para mahasiswa yang berada di tingkat akhir sedang berbincang dengan teman mereka. Terlihat, kalau Raymond kini berbincang bersama Asmo soal beberapa hal. Terlihat, keduanya sangat serius dengan hal yang mereka bicarakan.
“Jadi, papamu marah karena itu?” tanya Asmo.
“Ya, gitulah! Dia malah berpetuah supaya aku tidak cerobohlah dan lain sebagainya! Perempuan itu memang membuatku sakit kepala. Dan sialnya, dia masih menarik hatiku.” Raymond curhat kepada sahabatnya itu.
“Udahlah! Tapi, kamu masih mau mendekati Glasya gak? Aku rasa, hubungan kalian ada baiknya untuk diteruskan,” saran Asmo.
Mendengar itu, Raymond malah memberikan tatapan malas kepada Asmo. Dia memang suka kepada Glasya karena kecantikannya. Hanya saja, dia kesal mengingat bagaimana tingkah menyebalkan dari Glasya. Dan lagi, dia heran aja, kenapa Asmo kini mulai menyibuki urusan pribadinya. Selama kenal Asmo, sahabatnya itu hanya akan sibuk dengan dirinya sendiri dan wanitanya. Raymond merasa ada yang aneh dengan apa yang sebenarnya dipikirkan Asmo saat ini. Seakan, dia mengetahui sesuatu.
“Kenapa? Kenapa aku mesti sama dia?” Raymond bertanya. Asmo pasti memiliki sebuah alasan dalam setiap perkataannya. Dan pertanyaan itu tentu membuat Asmo terdiam. Raymond dapat menangkap ekspresi Asmo dan dugaannya kalau Asmo menyembunyikan sesuatu semakin besar.
“Ya… itu karena eum… dia perempuan yang berhasil mencuri perhatianmu dalam sekejap. Ya, aku merasa kalau kalian cocok! Itu saja!” Asmo memberi alasan yang sewajar- wajarnya supaya Raymond tak mencurigai dirinya. Asmo sudah menjelajah waktu, jadi kalau seadainya semua berubah, pasti akan kacau balau. Asmo tahu, kalau Raymond dan Glasya memang sangat berjodoh. Mereka adalah pasangan bucin yang memang seharusnya bersatu.
“Apa yang kau sembunyikan?” tanya Raymond menyelidik sahabatnya itu. Alasan seperti itu tak masuk akal menurutnya. Asmo yang dia kenal tak pernah mengurusi soal dirinya, apalagi percintaannya. Ini terlalu mencurigakan untuknya!
“Tidak ada!” Asmo berkeras. Terus saja Asmo beralasan, daripada dia dibilang sudah kehilangan kewarasannya. Salahnya sendiri, karena dia terlalu ceplas- ceplos soal apa yang dia ketahui di masa depan. Harusnya, dia biarkan saja semuanya mengalir seperti seharusnya. Asmo baru sadar, kalau dirinya terlalu bodoh!
“Terserahmu sajalah!” Raymond malas menyambung pembicaraan ini.
Dia tahu, kalau Asmo takkan mengaku dan menjelaskan kebenarannya. Dia pun memilih keluar dari ruang kelasnya dan meninggalkan Asmo. Mungkin, dia ingin melakukan sesuatu dengan temannya yang lain. Tapi, saat keluar, dia dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis. Ya, itu Glasya! Dia melayangkan tatapan heran pada Glasya karena tak mengerti apa alasannya ke sini.
Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Raymond bisa memerhatikan, kalau gadis itu mengambil dua kartu yang ditebaknya adalah kartu tanda pengenalnya dan mungkin kartu ATM-nya. Gadis itu tak menatapnya tajam dan judes seperti semalam. Dia menundukkan kepalanya dan memberikan dua kartu itu kepada Raymond. Tampaknya, dia merasa bersalah.
“Saya minta maaf! Saya kembalikan apa yang sudah saya ambil dari anda,” katanya dengan nada penyesalan. Mendengar itu, Raymond menyeringai dan memikirkan sebuah ide licik untuk membalas perbuatan Glasya padanya. Gadis yang sudah menghantui pikirannya dan membuat masalah dengannya. Dia megambil kedua kartu itu dan menyimpannya di dompet.
“Saya gak bisa memaafkanmu!” ujar Raymond dengan nada sok dingin. Glasya langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Raymond heran. Padahal, dia sudah merendahkan dirinya supaya masalah ini tak berlanjut lagi. Singkatnya, dia ingin berdamai denga Raymond. Glasya ingin marah, tapi dia menghitung dalam hatinya untuk mengendalikan emosinya. Dia tak boleh ceroboh lagi! Entah kenapa, dia tak ingin Raymond menganggapnya sebagai perempuan bar- bar, walau itu juga tak salah.
“Apa yang harus saya lakukan supaya kita berdamai?” tanyanya berusaha melembutkan nada bicaranya.
Mendengar nada bicara Glasya yang sepertinya berusaha tenang, membuat Raymond menaikkan alisnya dan menyeringai lagi. Dia mengangkat tangan kanannya dan meraih bahu gadis di depannya itu. Tatapan Glasya kini tertuju ke tangan Raymond yang berada di bahunya. Dia tak mengerti apa maksud pria di hadapannya ini. Tapi, satu hal yang bisa dia tangkap. Raymond sepertinya merencanakan sesuatu hal yang licik.
“Jadi pacarku!”
Dua kata itu keluar dari bibir tipis Raymond. Sontak saja, Glasya melebarkan matanya karena tak menduga pria itu akan berkata demikian padanya. Di depan kelasnya dan di depan semua teman pria itu. Asmo juga ada di belakang Raymond dan menyaksikan semua ini. Glasya membatu dengan hal yang terlalu tiba- tiba ini. Dia ingin marah, tapi hatinya melarang dan menyuruh dia menerima permintaan Raymond.
‘Wait? Otak si Raymond masih di tempatnya kan? Tadi katanya Glasya menyebalkan, sekarang kenapa dia malah nembak?’ batin Asmo sebagai salah satu penonton live dari momen ini. Memang, seorang Raymond Mahesa tak bisa ditebak dengan mudah.
“Ka- kalau begitu, anda akan maafkan saya?” tanya Glasya memastikan lagi.
Mendengar perkataan Glasya, Asmo malah semakin gak mengerti dengan apa yang terjadi. Normalnya, gadis itu akan marah dan bersikap bar- bar. Tapi, sepanjang ingatannya, dia tak pernah marah pada Raymond, sejak pacaran sampai menikah, Itu seingatnya! Tapi, momen ini sebenarnya malah bagus untuk mengembalikan jalan cerita ke tempatnya.
“Dengan syarat, kamu harus jadi pacar yang penurut. Tunjukkan penyesalan dan aku akan memaafkanmu.” Raymond membuat syarat dengan seenak hatinya. Suasana seperti ini memang sama sekali di luar dugaan dan alurnya sudah lari dari yang seharusnya. Kalau begini, apa Glasya mau menerima Raymond, Asmo jadi ragu sendiri.
“Baiklah!” jawab Glasya dengan mudahnya.
“HAH?!” Asmo ternganga mendengar jawaban Glasya yang enteng sekali. Ternyata, kembali dari masa depan membuat banyak hal jadi aneh. Setidaknya, begitulah yang dipikirkan oleh Asmo saat ini.