Saat seseorang yang awalnya sangat peduli dan memperhatikanmu tiba - tiba berubah menjadi sebaliknya, tak acuh dan tidak ingin tahu apapun tentangmu. Saat itulah kamu sudah seharusnya berpikir dan melakukan introspeksi diri.
Sian, pria itu melakukan hal yang sama. Ia bertanya - tanya dan mulai mencari jawabannya atas perubahan sikap yang ditunjukkan seorang gadis yang ia sayangi.
Karena tidak ada alasan yang paling masuk akal, kecuali insiden di mana Arsen merasukinya dan menggunakan tubuhnya untuk hal - hal yang bertentangan dengan apa yang ingin Sian lakukan.
Bagaimana tidak, Sian tahu betul kalau hubungannya dengan kakak kedua Tri, yang bernama Diana, itu sangat biasa dan tidak ada hal yang spesial sama sekali. Bahkan Sian tidak punya kontaknya Diana di daftar kontak ponselnya.
Lalu, di suatu hari yang Sian sadari kalau Arsen, si arwah menyebalkan dan menyedihkan itu sudah melakukan hal yang tidak Sian sadari sebelumnya dan parahnya, Arsen melibatkan Sian dalam kekacauan yang ia sebabkan.
"Aku akan berbicara langsung dengan menggunakan tubuhmu, untuk menjelaskan yang sebenarnya pada adik kecilku itu."
Sian berdecih. Arsen pikir semudah itu melakukannya. Seolah - olah kasus di mana seseorang dirasuki oleh arwah dan bersikap sebagai orang lain, itu adalah hal lumrah terjadi di jagad negeri Krypton ini
"Kamu pikir gampang buat jelasin semuanya? Hanya dengan kamu masuk ke tubuh aku lalu datang ke dia dan jelasin semuanya, itu gak menjamin dia bakalan percaya."
Berapa banyak orang - orang yang percaya dengan kejadian dan kasus semacam itu di dunia ini? Hal - hal yang nyata dapat dilihat dan dirasakan saja, manusia seringkali mendustakannya apalagi hal - hal yang gak bisa diindera dan tidak ilmiah seperti apa yang Sian alami.
Kemajuan ilmy teknologi dan pengetahuan membuat manusia mulai berpikir bahwa hal - hal yang boleh dan bisa dipercayai dan diakui, itu, adalah hal yang terbukti secara ilmiah secara empiris.
"Iya, aku tahu.Gak mudah buat menjelaskan semuanya. Tapi, kita gak akan pernah tahu kalau kita gak pernah mencobanya, kan?" ujar Arsen dengan optimis.
Sian menghela napas berat dan panjang. Meski ia sedang tidak dalam mode seoptimis Arsen, setidaknya ia setuju dengan kalimat bijak yang Arsen lontarkan barusan. Meskipun, kalimat itu sudah sangat mainstream di telinga Sian, ia tetap menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
"Baiklah. Kamu benar. Kita gak akan pernah tahu kalau kita gak pernah mencoba melakukannya. Jadi, gue minta lo siapin kalimat yang tepat, jelas, dan tidak bertele - tele agar Tria ataupun kakaknya Di, dapat menerima pernjelasan kamu dengan baik." Sian berujar dengan sarkas seraya beranjak menuju kamar mandi.
Ia mulai membasuh wajahnya di wastafel lalu menatap ke dalam cermin yang memantulkan sosok wajahnya.
Padahal Sian bukan anak indih*me ya. Tapi kenapa bisa ia berurusan dengan arwah seperti Arsen.
Apa mereka berdua punya hubungan di masa lalu yang tidak Sian ingat?
Mau dipikirkan bagaimana pun, Sian tetap tidak habis pikir. Kenapa problematika kehidupannya harus bersinggungan dengan makhluk dari dimensi lain.
"Dan satu lagi, Axen si editor dari Ways Publisher itu, sudah menagih naskah novel gue. Jadi, gue gak mau tahu, lo juga harus bantuin gue buat nyelesaiin naskah itu."
Seharusnya Sian tidak perlu repot - repot menjelaskan kalau naskah itu sudah ditagih oleh Axen. Toh, Arsen akan tetap membantunya menyelesaikan naskah novel yang Sian garap. Karena Arsen tahu diri, kalau ia sudah terlalu banyak menyusahkan manusia yang ada di hadapannya kini.
Sian menghampiri meja belajarnya. Lalu membuka tas laptop berwarna abu dan mengeluarkan benda berbentuk kotak berwarna putih dari sana.
Membuka layarnya dan menyalakan benda itu hingga layarnya menampilkan foto pemandangan gunung dan langit saat sunrise.
"Karena gue udah capek banget. Gue mau istirahat lebih dulu dan lo bisa melakukan tugas lo di meja ini," tunjuk Sian dengan matanya pada meja belajar yanh ada di hadapannya kini.
"Tapi ingat, jangan melakukan apapun yang mencurigakan apalagi yang dapat membuat keluarga gue terganggu. Seperti mendatangi kamar adek gue dengan alasan konyol kayak waktu itu. Paham?"
Meski merasa bersalah karena kesalahannya kembali diungkit, Arsen tetap menganggukkan kepala setuju.
"Bisa dimengerti?" ulang Sian untuk meyakinkan dirinya kalau Arsen tidak akan berbuat hal - hal yang menimbulkan kegaduhan di malam hari.
"Understand," jawab Arsen seraya menunjukkan jempol tangannya.
***
Malam itu, Sian memutuskan untuk tidur setelah menyudahi obrolannya dengan Arsen.
Saat pria itu terlelap dalam tidurnya. Arsen mulai melanjutkan aktivitas menulis naskah Sian yang sempat terhenti karena sang penulis kelelahan dan memilih tidur segera.
Sebenarnya, Arsen tidak merasa kalau ide cerita Sian ini unik dan menarik. Pasalnya, ide cerita lelaki dewasa yang menyukai perempuan yang jauh lebih muda darinya, itu, sudah begitu banyak bertaburan.
Arsen memang tidak mengetahui banyak hal apa - apa yang terjadi sebelum kematiannya. Hanya saja, ia memutuskan untuk mempelajari literasi dan sering membuka aplikasi Ways lewat ponsel milik Sian.
Dan seeprti yang ia bilang. Ide cerita yang Sian sajikan sudah sangat mainstream dan juga menjamur di aplikasi itu.
Entah pembacanya memang pada menyukai ide cerita seperti itu atau karena ide cerita seperti itu sangat umum untuk ditulis. Tidak membutuhkan riset yang terlalu berat.
Arsen meringis tiap kali menemukan kesalahan penggunaan kata -di yang tidak sesuai pada tempatnya.
Arsen sempat menggeram seraya menatap Sian yang sudah terlelap dengan begitu nyenyak hingga terdengar suara mendengkur.
Bagaimana bisa pria itu mengaku menyukai literasi, sementara penggunaan kata -di saja ia tak paham.
di sajikan? Ah, Arsen rasanya ingin menangis melihat naskah yang ada di hadapannya saat ini.
disekitar? Yang benar saja. Ia benar - benar tak habis pikir. Jangan - jangan, Sian memang tidak mengerti bagaimana penggunaan kata -di yang benar.
Jangan - jangan Sian lulus mata pelajaran Bahasa Krypton dengan menyogok gurunya.
Selama Arsen merevisi naskah itu, ia tak sempat merevisi alur, penokohan dan lain sebagainya. Pasalnya, secara teknis saja, tulisan Sian sudah begitu banyak salahnya. Dimulai dari kesalahan kecil sampai kesalahan yang fatal.
Tak hanya penggunaan kata -di yang benar. Sian juga kerap kali melakukan typo yang sangat fatal. Typo yang tidak hanya sekadar typo, tetapi typo yang bahkan mengubah arti keseluruhan kata bahkan kalimat. Satu lagi, terlalu banyak kata yang tidak baku di dalam penulisan naskah ini.
Arsen lagi - lagi menghela napas panjang lalu mengembuskannya dengan berat. Beberapa kali ia memijat pelipisnya yang terasa berkedut kedut hingga menyebabkan sensasi nyeri.
Sepertinya, revisi naskah malam ini akan menjadi revisi yang panjang lagi melelahkan.
***
Hari yang ditunggu - tunggu Sian, yaitu hari di mana ia akan menjelaskan pada dua orang perempuan yang terlibat dalam kesalahpahaman yang disebabkan oleh Arsen.
Ya, Sian tentu tidak lepas tangan begitu saja. Ia tentu masih harus mengatur jadwal untuk bertemu dengan Tri maupun kakaknya. Meski pada akhirnya Arsen juga akan mengeksekusi proses meluruskan kesalahpahaman ini.
Sian tetap harus bertindak dan tentu saja ia juga harus memperhitungkan kalimat, kata dan istilah apa yang nantinya akan digunakan Arsen ketika menjelaskan pada kedua perempuan itu.
"Ingat, sebelum gue suruh lo masuk ke tubuh gue, jangan coba - coba buat masuk!" pesan Sian sebelum ia melangkah mendekati cermin seraya menatap tampilannya saat ini.
"Jadi? Kita ketemuannya di rumah mereka?" tanya Arsen seraya melangkah mendekati Sian yang kini sibuk menatap cermin yang ada di hadapannya saat ini. Memastikan kalau penampilannya tidak aneh dan norak.
"Iya. Biar kalo lo lagi ngambil alih menjelaskan sama mereka berdua dan kalo mereka syok, atau jerit - jerit ketakukan atau gak percaya, setidaknya kita gak bikin rusuh kalo kita ketemuannya di kafe atau tempat nokrong lainnya." Sian menjelaskan panjang lebar sebelum beranjak dari depan cermin.
Melangkahkan kaki menuju rak sepatu yang ada di dalam kamarnya. Ia aka. mengenakan sepatunya yang bersih belum dipakai setelah ia cuci. Sebab, sepatunya yang biasa ia pakai sedang basah karena kehujanan dan ia lupa menjemurnya.
Sneakers hitam dengan lis putih itu nampak cocok dengan tampilannya hari ini.
"Ini udah mau jam sembilan pagi lewat lima belas menit, itu artinya kita hanya punya waktu lima belas menit lagi untuk sampai di rumah mereka." Sian berujar seraya ke luar dari kamarnya. menutup pintu kamar dengan pelan lalu melangkah menuju ruang tamu dan mendapati ibunya sedang duduk bersama ketiga adik perempuannya di sana.
Keempat perempuan yang Sian cintai itu sedang menyantap buah bersama. Lalu, semua atensi mengarah padanya yang sudah siap dengan setelan saat ia akan ke luar rumah.
"Rapi banget bang, mau ke mana nih?" tanya bu Amina seraya memindai penampilan putranya dari atas ke bawah.
Sian tersenyum lalu melangkah mendekati sang ibu.
"Mau ke rumah Tri, bu. Ada yang mau Sian diskusiin," balas Sian seraya meraih punggung tangan sang ibu lalu menciumnya.
"Kalau gitu, abang pergi dulu, ya. Soalnya janjiannya jam setengah sepuluh," ungkapnya seraya meraih satu buah apel merah dari keranjang buah yang ada di hadapan ketiga adik perempuannya.
Ketiganya menatap Sian dengan lekat. Sependek pengetahuan mereka, Sian tidak akan mengenakan setelah terbaiknya kalau bukan untuk menemui seseorang yang dianggapnya penting dan spesial.
Kana sontak menoleh ke samping. Hingga tatapannya beradi dengan tatapan kedua adiknya yang juga menampilkan ekspresi keppo dan bertanya - tanya. Apa gadis bernama Tri dan abangnya sudah benar - benar resmi menjalin hubungan?
"Assalamu'alaikum," pamit Sian seraya menyerahkan punggung tangannya ke hadapan ketiga adik perempuannya yang nampak melongo namun tetap menyalami tangan abang mereka seperti biasanya.
Sian sudah berlalu ke luar rumah. Sementara ketiga adiknya itu, masih sibuk bertanya - tanya seraya saling melempar tatapan.
"Kalian kenapa?" tanya bu Amina yang membuat ketiganya mengalihakan tatapan pada ibu mereka secara bersamaan seraya tersenyum mencurigakan.
"Kok, ngeliatin abangnya gitu banget?" komentar bu Amina seraya menatap ketiga putrinya itu dengan heran.
Perasaan, ia tidak melihat sesuatu yang aneh dari penampilan putranya.
Ketiganya kompak geleng - geleng kepala seraya menampilkan senyuman kuda.
***
Di jalan, Sian nampak mengobrol dengan seseorang meski di belakangnya tidak ada siapa - siapa.
Karena saat ini, ia merasakan kalau Arsen berada di belakangnya. Sedang mendemo Sian karena penampilannya hari ini.
"Kenapa lo malah protes soal outfit gue sih?"
“kamu gak sadar adikmu menatap penampilanmu dengan aneh?” tanya Arsen seraya menatap lurus ke depan. Sudah cukup lama ia tidak menikmati pemandangan kota Argon di pagi hari.
Sian, pria itu hanya mengerutkan kening seraya berpikir, memangnya apa yang salah dengan penampilannya hari ini?
Ia merasa kalau pakaian yang ia kenakan hari ini tidak aneh, norak ataupun kusut. Sebab memang ia sudah menyiapkannya dari semalam. Tidak, bahkan ia sudah cukup lama mempersiapkan diri untuk menyambut hari ini.
Hari di mana ia akan berhadapan dengan dua orang perempuan. Oh tidak! Sian tidak sedang ingin melakukan kencan atau semacamnya. Justru ia akan melakukan hal yang paling sulit dibandingkan dengan berkencan dengan dua perempuan sekaligus.
Sepanjang perjalanan, baik Sian maupun Arsen, mereka sama – sama sibuk dengan isi kepala masing – masing.
Sian sibuk memikirkan bagaimana respon kedua perempuan yang akan ditemuinya hari ini, jika ia menjelaskan apa yang selama ini ia pendam sendiri dalam waktu yang cukup la ma.
Ya. Tidak ada yang tahu soal Arsen, kecuali dirinya. Tidak ada yang tahu kalau Sian berteman bahkan menjalin kerja sama dengan arwah bernama Arsen. Sosok yang mengaku kalau ia adalah kekasih dari seorang Diana, kakak perempuan dari gadis yang disukainya.
Perjalanan yang Sian harapkan tidak ada kendala ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Ia terjebak macet di salah satu titik yang tidak begitu jauh dari lokasi rumaah gadis yang akan ditemuinya. Meski begitu, ia tidak ingin mengambil risiko. Ia bisa saja terlambat dan itu akan membuat gadis itu menunggunya lebih lama lagi.
Karena lalu lintas tak kunjung lenggang, Sian meutuskan untuk menghubungi Tri bahwa ia mungkin akan terlambat karena terjebak macet dan belum ada tanda –tanda akan terbebas dari kemacetan.
Ia nampak sibuk merogoh ponsel yang ada di dalam saku celana yang dikenakannya untuk mengabari Tri, gadis yang ternyata sudah lebih dulu mengirimkan pesan padanya.
[Nanti kalau sudah sampai rumah, langsung masuk aja karena pintunya udah kebuka. Dan kalau ketemu mama atau papaku, bilang aja mau ketemu kak Diana. Karena kalo bilangnya mau ketemu aku, pasti mereka bakalan nanya yang aneh – aneh. Jadi, bilang aja gitu dan hati – hati di jalan.]
Sian menatap layar benda bebentuk pipih itu seraya tersenyum. Membuat Arsen yang tepat di belakangnya menatap pria itu melalui kaca spion motor itu dengan tatapan heran.
Belum juga Arsen merasuki tubuhnya, kenapa juga Sian sudah senyam – senyum tidak jelas layaknya orang kerasukan.
“kamu udah kayak orang kerasukan saja. Senyam – senyum tidak jelas, ada apa sih?” komentar Arsen seraya memanjangkan lehernya untuk melihat apa yang sedang dibaca oleh temannya itu sampai – sampai tersenyum sendiri seolah habis mendapat pesan cinta saja.
Akan tetapi, sebelum berhasil membaca dengan jelas apa yang ada pada layar ponsel Sian, pria itu sudah lebih dulu mengunci layar benda berbentuk pesegi itu dan suara klakson dari kendaraan yang ada di sekitarnya sudah saling bersahutan.
Pasalnya jalanan sudah mulai berangsur – angsur lenggang seiring dengan melajunya kendaraan – kendaraan roda dua dan roda empat yang berada di depan kendaraan Sian.
“ternyata sudah banyak sekali yang berubah dari kota Argon.” Arsen bergumam takjub seraya menatap beberapa bangunan dan juga jejeran pohon – pohon rindang yang berada di sisi jalanan ibu kota Krypton itu.
Jelas saja begitu banyak yang berubah dari kota Argon. Pemimin negaranya saja sudah berganti beberapa kali dan kebijakan yang diberlakukan pun sudah banyak yang diperbaruhi dan diubah.
Melihat dari keasrian kota Argon yang semakin menonjol, Arsen berpikir kalau pemimpin negara itu cukup aware akan lingkungan dan alam sekitar.
“lo kayak gak pernah ngeliat ibu kota aja,” sergah Sian saat menyadari kalau sejak tadi, sosok yang ada di belakangnya itu hanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut jalan layakmya anak suku pedalaman yang jauh dari pusat kota Argon.
Kedatangan Sian dan Arsen ternyata disambut baik oleh kedua orang tua Tri. Kedua menyapa lelaki yang mereka ketahui adalah pacar anak bungu mereka itu dengan sangat welcome dan ramah tamah.
“Langsung ke tooftop aja. Tri sama kakaknya udah di atas. Nanti tante bawain makanan buat menemani diskusi kalian,” tutur mama Tri dengan ramah seraya tersenyum lebar, sementara pria berusia empat puluhan yang ada di sampingnya itu hanya menatap Sian dengan ekspresi yang malah sebaliknya.
“Tunggu!” Sian yang mulanya ingin berpamitan ke atas, kini menghentikan langkah kakinya dan menunggu kalimat apa yang dilontarkan papa dari gadis yang yang disukainya itu.
“Kamu gak berpikir untuk menikahi anak saya dalam waktu dekat, bukan?” tanya papa Tri dengan tatapan skeptis dan wajahnya yang garang.
Sian menelan saliva dengan susah payah sebelum berhasil membuka mulut untuk menjawab pertanyan horror yang dilontarkan pria besar tinggi dan berjanggut tipis di hadapannya itu.
Bagaimana bisa, pria dengan wajah garang yang ada di hadapannya kini, menanyakan hal semmacam itu padahal dirinya dengan gadis itu sedang dalam hubungan yang tidak baik – baik saja.
“Eng – gak kok, om. Saya ke sini mau diskusi sama kak Diana dan Tri,-“
“Diskusi soal apa?” sahut pria itu dengan nada ketus dan tatapan yang skeptis.
Mau tidak mau, Sian harus mencari alasan yang masuk akal dan bisa dipercaya oleh pria yang ada di hadapannya ini. Akan tetapi, belum juga ia menemukan alasan yang tepat dan logis itu, wanita yang adda di samping pria itu membuka suara dan menyelamatkan Sian dari situasi yang sangat tidak menguntungkannya itu.
“Paaa... udah ah. Orang anaknya mau diskusi soal pelajaran dan bisnis juga!”
“Udah. Nak Sian silahkan ke atas dan maaf karena menunda pertemuan kalian,” tutur wanita cantik meski sudah berumur—itu dengan ramah seraya mempersilahkan Sian untuk melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Saat langkah Sian menyentuh lantai atas rumah itu, saat bersamaan ia menghela napas lega seraya mengusap dadanya dengan cepat.
“Kamu udah kayak habis diintrogasi sama calon mertua ya.”
Sian menoleh dan mendapati Arsen yang mengekorinya di belakang. Jujur, Sian hampir lupa kalau ia tidak sendirian datang ke sini, melainkan bersama seorang arwah yang akan membantunya meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
***
Entah kenapa, ketiga orang yang kini nampak saling mencuri – curi pandang itu, hanya terdiam selama beberapa saat sampai Arsen menyenggol lengan pria tepat duduk di sampingnya itu dengan kuat.
Sian menoleh dan mendapati Arsen yang kini menatapnya dengan wajah ditekuk,
“kalian bertiga mau diskusi, apa lomba diam – diaman, sih?” kesal Arsen karena tak kunjung mendengar salah satu dari ketiga manusia di sana membuka suara. Sian terkesiap seraya berdehem untuk mentralkan suasana yang sempat akward.
“Ah iya, silahkan, diminum dulu jusnya,” tawar Diana pada pria yang menghadap ke arah adik bungsunya itu. Sementara Tri, gadis hanya tersenyum seraya ikut membuka suara dan menawarkan Sian makanan ringan dan juga setoples cookies buatan mamanya yang sebenarnya ia khawatir kalau – kalau rasanya akan aneh.
“terimakasih,” ucap Sian seraya menganggukkan kepala.
Sementara Arsen, pria itu nampak mengedarkan pandangan ke sekililing rooftop yang didesign dengan konsep minimali dan juga love nature sekali.
Banyak bunga dengan berbagai jenis dan warna bahkan pohon berukuran sedang yang sengaja ditaruh di beberapa sudut yang nampak memang aesthethic dan sedap dipandang oleh mata.