Setelah sempat terdiam selama beberapa saat, Sian memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Karena ia pikir kalau pembicaraan kali ini akan memakan waktu dan juga menguras emosi dan kewarasan, pria itu nampak menghela napas panjang sebelum benar – benar membuka suara.
“Jadi, aku ke sini buat jelasin kesalahpahaman yang terjadi sama aku dan kak Diana,” ungkap Sian dengan hati – hati seraya menoleh pada perempuan yang ia maksud. Sementara Tri, gadis itu nampak mendengarkan dengan saksama.
Meski di dalam hatinya mulai terdengar riuh, ia mencoba untuk bersikap biasa saja dan juga dewasa dalam menyikapi permasalahan yang terjadi di antara mereka.
“maksud aku,” Sian mulai becerita seraya menatap kedua perempuan yang ada di hadapannya itu secara bergantian.
“aku mau bilang kalau aku gak punya hubungan apa – apa sama kakak kamu,” tuturnya secara menatap lekat pada gadis yang kini nampak menatapnya dengan wajah dingin.
“lalu, bagaimana dengan pelukan yang terjadi di kafe hari itu?”
Di luar dugaan, ternyata Tri mengetahui banyak hal yang Diana pikir gadis itu tidak tahu apa – apa soal itu. Diana, perempuan itu nampak terkejut dengan apa yang disampaikan adik bungsunya itu.
Pantas saja, beberapa hari terakhir ini, adiknya itu nampak berbeda. Lebih sering diam dan menutup diri darinya. Sementara Sian, pria itu nampka tidak begitu kaget, karena jelas, ia ke sini untuk menjelaskan pada gadis itu bahwa ia tidak bermaksud melakukan itu.
“Aku liat dan denger semuanya,” imbuh Tri seraya tersneyum tipis. Membuat perempuan yang duduk bersebelahan dengannya itu terdiam dan merasa bersalah.
“baiklah, akan aku jelaskan. Kenapa hari itu aku menemui kak Diana dan kenapa hari itu aku berbicara seperti yang kamu dengar dan kenapa aku memeluk kak Di. Aku akan menjelaskan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman lagi.”
Sian nampak gugup namun ia tetap berusaha untuk menyiapkan kalimat dan istilah yang paling baik dan juga mudah dipahami oleh kedua perempuan itu.
Pertama – tama Sian menjelaskan kalau apa yang akan dia utarakan barangkali tidak dapat diercayai oleh keduanya.
“Aku tahu ini terdengar gak masuk akal, tapi aku benar – benar dapat melihat Arsen atau yang kalian maksud dengan Nik. Dia datang dan singkat cerita dia bilang kala dia ingat semua kenangannya sama kalian terutama dengan kak Diana. Dan waktu itu, saat aku menghubungi dan meenemui kak Diana dan juga pelukan yang tejadi di saat itu, sebenarnya itu bukanlah aku, melainkan Arsen yang merasukiku dang melakukan semuanya.”
Diana dan Tri, keduanya nampak terdiam selama beberapa saat. Seperti yang Sian katakan kalau apa yang barusan mereks dengar sangat sulit untuk dicerna dan diterima oleh akal sehat dan logika manusia di zaman modern seperti saat ini. Bagaimana bisa seseorang dirasuki oleh hantu?
“bagaimana kalau kamu Cuma mengada - ngada? Bisa aja, kan, kamu Cuma ngarang cerita?” Tri, gadis bertanya skeptis seraya menatap Sian dengan wajah tidak percayanya. Semtara Diana, perempuan itu nampak masih terdiam dalam waktu yang cukup lama. Entah karena tidak percaya dengan apa yang Sian katakan atau mungkin karena ia terlalu syok dengan apa yang barusan ia dengar. Seseorang yang sampai detik masih sangat ia rindukan dan namanya masih terukir jelas di dalam hati dan ingatannya.
Bagaimana bisa ia lupa, Nik adalah kenangan yang akan abadi dalam memori dan hatinya. Ironisnya, Nik juga adalah luka terbesar yang ada di dalam hati dan ingatanya. Mengingat Nik itu sama dengan membuka kembali memori ingatan kebersamaan mereka di masa lalu dan juga membuka kembali luka yang memang belum sembuh dan mungkin akan selalu berbekas di hatinya.
“Aku bisa buktiin kalau aku gak mengada – ngada dan aku harap kalian siap dengan apa yang akan aku jelaskan selanjutnya. Karena apa yang akan kukatakan selanjutnya barangkali akan sulit kalian terima. Akann tetapi, aku harap kalian mau membiarkanku menyelesaikan penjelasanku sampai akhir,” ungkap Sian dengan wajah seriusnya yang membuat Tri penasran akan apa yang akan dijelaskan pria di hadpannya itu selanjutnya.
***
“kalian kenapa diem – dieman?” Mama Tri dan Diana itu datang seraya berujar dengan ramah. Ia nampak bingung melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Kedua putrinya nampak tegang dan Sian, pria itu nampak tersenyum canggung seraya mengucapkan terimakasih atas makanan yang telah ia bawkan untuk mereka bertiga.
“enggak apa – apa kok, ma.” Diana berujar seraya bangkit dari posisi duduknya dan membantu sang mama meletakkan piring maknan dan juga minuman yang barusan dibuatkan sang mama.
“maksih bu sudah repot – repot membawakan minuman.” Sia berujar dengan ramah seraya tersenyum manis. Wanita dipanggil mama oleh Di dan Tri itu pun sangat senang.
“enngak ngerepotin kok. Ibu senang bikinin makanan kesukaan anak – anak dan calon mantu ibu,” balas wanita itu seraya menatap ke arah anak bungunya yang nampak menatapnya dengan sebal.
“mama apaan sih,” gumam gadis itu seraya menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan kikuk.
Mamanya berlalu setelah menyuruh mereka untuk menilmati kue brownies cokelar buatan sang mama.
Setelah kepergian mama, ketiganya nampak kembali terjebak dalam keheninga sebelum akhirnya Dian membuka suara karena ia sudah menahannya sejak tadi.
“kalau memang kamu Nik, coba katakan, apa makanan kesukaan aku?” tanya Diana menantang pria yang ada bersebrangan meja dengannya itu.
Sian atau lebih tepatnya Nik yang berada di dalam tubub Sian, itu tersenyum seraya menatap perempuan yang dicintainya itu dengan lembut dan penuh cinta.
“kamu paling suka makan gado –gado. Tapi, itu kalau kamu lagi gak laper – laper amat. Karena kalau kamu sedang laper, itu kamu lebih suka makan nasi dengan lauk ayam panggang lengkap dengan sambal dan juga lalapan,” jawab pria itu dengan santai seraya tersenyum senang.
Sementara Diana, perempuan itu terdiam dengan ekspresi tidak percaya dan tatapan yang mulai sendu.
Apa mungkin, Niknya benar – benar ada di sini, di hadapannya dan menatapnya dengan penuh cinta?
Ia ingin mempercayai semua ini, namun di sisi lain, ia tidak ingin dilukai oleh kenyataan saat apa yang ada pada kenyataannya tidak sesuai dengan harapan dan ekpektasinya.
Bagaimana kalau semua ini hanya mimpi belaka?
"Dii.. ini aku, Nikmu. Aku tahu kamu yang sangat suka boneka padahal kamu alergi dan ering bersin - bersin kalau didekatnya dengan boneka apapun itu. Aky tahu kamu yang sulit tidur karena terbiasa begadang sejak kita kuliah," celoteh pria yang ada di hadapan dua orang perempuan berbeda usia itu dengan begitu pecraya diri dan dengan wajah ya g berseri - seri.
Bagaimana tidak, hari ini sudah Arsen tunggu - tunggu sejak lama. Ia sangat merindukan perempuanyang kini menatapnya dengan mata berkaca - kaca itu, jauh sebelumnya.
***