"Aku tidak begitu tahu pasti alasannya mengapa. Tapi, munculnya aura gelap itu menandakan kalau waktumu tidak banyak. Kau harus menuntaskan masalahmu di dunia ini secepatnya." Lagi - lagi Mina mengatakan hal yang mengerikan dan membuat Arsen bingung apa maksudnya.
"Apa maksudmu aku tidak punya banyak waktu?" Arsen bertanya skeptis.
Mina, hantu perempuan itu nampak berpikir bagaimana caranya agar Arsen mengerti dengan apa yang ia maksud.
"Jadi, kau harus mencari tahu penyebab kematianmu dan hal - hal mengenai kehidupanmu yang belum tuntas. Karena kalau tidak, kau bisa saja menjelma menjadi roh jahat dengan aura hitam pekat."
"Mana mungkin? Aku tidak percaya!" Arsen menolak mempercayai apa yang Mina katakan barusan.
"Bagaimana dengan kamu? Apa kau roh jahat? Kau pun sudah lama berada di dunia ini sebagai arwah, bukan begitu?" tanya Arsen pada Mina yang kini nampak mendudukan kembali dirinya di sisi pembatas gedung.
"Aku?" tanya hantu perempuan itu seraya menunjuk dirinya.
"Ya, kau!" balas Arsen dengan cepat.
"Aku sama sepertimu. Aku sedang mencari tahu apa - apa yang berhubungan dengan kematianku. Kau pikir untuk apa aku mendatangi gedung tua yang usang ini?" Mina bercerita mengenai dirinya.
"Apa kau juga memiliki aura hitam yang ku maksud?" tanya Arsen dengan penasaran.
Mina menggelengkan kepala.
"Tidak. Hmm... lebih tepatnya belum. Aku punya teman yang sudah mengalaminya. Ia menceritakannya padaku. Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, ia tidak tahu apa penyebabnya dan mengapa demikian." Arsen mengangguk mengerti.
Diskusi panjang antara kedua arwah itu berujung pada kerjasama. Bahwa mereka akan saling membantu satu sama lain sebelum terjadi hal - hal yang mengerikan seperti yang Mina jelaskan.
Menjadi roh jahat?
Tidak! Arsen tidak mengiginkan itu terjadi.
Mereka tidak mau! Mereka akan menuntaskan semuanya dan kembali ke sisi Sang Pencipta dengan tenang. Bukan berkeliaran di dunia manusia sebagai roh jahat.
"Bentar, kalopun benar kayak gitu? Apa alasannya coba?"
Sian bertanya skeptis dengan wajah tidak percayanya. Bagaimana bisa ia mempercayai hal semacam itu?
Untuk dapat mempercayai hal - hal samacam di mana ia dapat melihat dan berkomunikasi dengan seorang arwah, hantu, atau setan atau apalah namanya--saja, Sian masih harus meyakinkan dirinya berkali - kali dan tak jarang ia harus berdebat dengan akal sehatnya sendiri.
Lalu, sekarang apa? Arsen mengatakan hal - hal aneh dan tak lazim yang Sian tahu, dan memaksanya untuk percaya.
"Gue bakalan bantu lo, tenang aja. Tapi, gue juga butuh waktu buat mulai misi kita yang lo tahu sendiri gak gampang. Ok, katakanlah waktu lo gak banyak. Tapi tetap aja, gue harus nyelesaiin kuliah gue dulu."
Arsen menghela napas seraya menganggukkan kepala. Ia paham kalau Sian punya kehidupannya sendiri, punya masalah dan urusan yang musti ia selesaikan.
Untuk itu, ia memutuskan untuk tidak mendebat Sian karena itu bisa saja membuat pria itu makin enggan untuk membantunya.
"Lo tenang aja. Pekan depan gue wisuda kok. Jadi, mulai dari pekan ini gue akan nyiapin segala keperluannya dan kalai gue punya waktu luang, gue bakalan bantu lo semaksimal mungkin. Biar lo gak jadi ...," ucapan Sian terjeda saat ia lupa akan apa yang ingin ia katakan.
"Roh jahat," sambung Arsen yang membuat Sian ber-oh ria.
"Nah, itu. Biar lo gak jadi roh jahat, roh halus atau apapun itu." Sian berujar seraya beranjak dari posisi duduknya di bibir kasur.
Entah kenapa, akhir - akhir ini ia jadi jarang tidur siang. Padahal tidak ada lagi tuntutan tugas atau jadawal ngampus apapun.
"Gue tidur siang dulu. Udah beberapa hari ini gue gak tidur siang," ujarnya seraya melangkah ke kamar mandi.
Arsen mengerutkan keningnya saat menatap Sian melangkah ke kamar mandi.
Mau tidur kok, malah ke kamar mandi? Arsen membatin, namun sejurus kemudian ia baru sadar kalau Sian selalu melakukan ritual cuci tangan dan cuci kaki sebelum tidur. Entaj saat akan tidur siang atau di malam hari.
Untuk ukuran kebersihan, Sian pantas mendapatkan gelar pria pembersih yang pernah Arsen temui selama ia hidup. Ah iya, sekarang ia sudah tidak hidup. Mau dikatakan mati, ia belum bisa pergi ke dimensi orang mati. Jadi, katakanlah kalau ia sudah tidak hidup atau sedang diambang kehidupan.
"Lo kalo bosen sendirian gak ada kerjaan, mending lanjutin naskah novel di laptop gue," celoteh Sian seraya melankah ke kasur dan mendaratkan tubuhnya di atasnya kasur empuknya dengan pelan.
Menarik napas dalam - dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. Sementara Arsen, ia sudah berada di kursi yang menghadap ke meja belajar Sian. Bahkan jemarinya sudah bergerak lincah di atas keyboard laptop berwarna putih dengan tatapan fokus pada layarnua yang menyala.
Sian yang mendapati itu, hanya menatapnya dengan cengo. Ia bahkan belum benar - benar menyelesaikan kalimatnya. Arsen sudah berada di kursi itu bahkan belum sampai hitungan menit.
"Dan jangan lupa, matikan lampu kamar gue kalo lo udah selesai, ok?" seru Sian dari kasurnya seraya menunggu jawaban Arsen.
"Kenapa gak langsung dimatikan saja sekarang?" balas Arsen seraya menjeda sejenak aktivitas jarinya di atas keyboard berwarna putih itu.
"Kalo dimatikan sekarang, kamu ngetiknya dalam keadaan gelap, cuma lampu tidur yang nyala. Menatap layar laptop ataupun ponsel bahkan membaca buku sekalipun, kalau dalm keadaan gelap, itu tidak diperbolehkan. Karena bisa merusak sistem penglihatan," jelas Sian panjang lebar seraya memposisikan selimutnya dengan benar.
Arsen mengangguk - anggukkan kepala tanda ia sudah mengerti apa yang Sian jelaskan. Jujur saja, tanpa Sian jelaskan ia sudah tahu. Akan tetapi, yamg Arsen pikirkan sekarang adalah, bukankah ia bukan manusia?" Apa aktivitas itu juga mempengaruhi penglihatannya?
"Ya udah, gue tidur ya. Sebelumnya gue mau bilang, thankyou udah mau bantuin naskah gue. Padahal gue belum bisa berbuat banyak buat bantu lo," ungkap Sian dengan tulus meski wajahnya seringkali tidak menampakkan ketulusan pada Arsen.
Arsen hanya diam. Ia masih sibuk dengan tulisannya. Namun, ia juga mendengaekan ucapan Sian barusan dengan baik.
Beberapa menit berlalu. Lampu kamar Sian masih nampak menyala. Arsen menolehkam wajahnya dan mendapati Sian sudah terlelap dalam tidurnya.
Arsen beralih pada layar laptop yang masih menyala. Lalu menggerakkan jarinya untuk menekan tombol save.
Kemudian beranjak dari kursi dan melangkah ke arah sakelar lampu kamar Sian, lalu mematikan lampu kamar dengan menekan sakelar itu ke arah berlawanan.
Ruangan nampak gelap dengan penerangan minim yang berasal dari lampu tidur yang Sian letakkan di atas nakas di dekat meja belajar.
Sebuah cahaya dari ufuk barat di mana Arsen berdiri, tiba - tiba muncul tanpa tanda - tanda dan tanpa dapat ia pastikan apa sebabnya.
Cahaya itu datang bersamaan dengan suara - suara bising yang membuatnya reflek menutup kedua lubang telinganya dengan kuat seraya memejamkan mata kuat - kuat.
Mati suri adalah pengalaman pribadi seseorang yang telah meninggal secara klinis, sebelum akhirnya hidup kembali. Dalam dunia neuroscience dan kedokteran modern abad ke-20, hal ini disebut sebagai NDE (Near-Death Experience). Pernapasan, detak jantung, dan fungsi otak mungkin masih terjadi, tetapi mereka hanya dapat dideteksi oleh sarana kedokteran canggih.
Dengan alasan kemanusiaan, dokter biasa melakukan CPR upaya untuk membuat jantung dan paru orang yang telah dianggap meninggal dunia kembali berdetak sehingga orang tersebut hidup kembali. Keadaan tubuh seseorang yang mengalami mati suri secara klinis pada umumnya sudah meninggal atau dalam keadaan koma.
Pengalaman NDE ini masih menjadi misteri besar karena sulit dijelaskan secara logika ilmiah karena rohnya keluar dari tubuh. Yang bersangkutan dapat melihat tubuhnya sendiri yang meninggal, tergeletak di rumah sakit atau terjebak di dalam mobil karena kecelakaan hebat, misalnya.
Lalu, sang dokter menjelaskan lebih lengkap mengenai kasus mati suri dalam pandangan dunia medis.
Mati suri adalah sebuah fenomena ketika seseorang hidup kembali setelah dinyatakan meninggal dunia dalam rentang waktu tertentu. Meski tergolong sangat jarang terjadi, fenomena ini bukanlah suatu hal yang asing di dalam dunia medis.
Dalam istilah medis, kejadian mati suri kerap kali disamakan dengan Lazarus syndrome atau the Lazarus phenomenon, yaitu kondisi kembalinya fungsi jantung dan pernapasan yang sempat terhenti (return of spontaneous circulation) setelah resusitasi jantung paru atau CPR dihentikan.
Tindakan CPR ini biasanya dilakukan pada orang yang mengalami henti jantung, koma, atau tidak bisa bernapas spontan.
Biasanya orang yang mengalami mati suri akan kembali ”hidup” setelah dinyatakan meninggal dalam waktu sekitar sepuluh hingga tiga puluh menit. Namun, pada kasus yang sangat jarang terjadi, ada juga orang yang bisa kembali hidup dalam waktu beberapa jam setelah ia dinyatakan meninggal.
Selain karena Lazarus syndrome, mati suri juga kerap dikaitkan dengan pengalaman mendekati kematian alias near death experience (NDE). Kondisi kritis ini akan membuat seseorang berada dalam kondisi koma, sulit bernapas, atau bahkan sangat lemas sehingga sekilas seperti sudah meninggal.
Namun, ketika kondisinya membaik, dia akan kembali bisa bernapas, bergerak, tersadar dari koma, dan detak jantungnya kembali kuat. Inilah yang kerap dianggap pengalaman mati suri.
Banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami yang namanya mati suri.Salah satu diantaranya adalah hiperkalemia.
Hiperkalemia adalah kondisi ketika jumlah elektrolit kalium meningkat terlalu tinggi. Kondisi ini bisa membuat fungsi jantung, paru-paru, serta saraf dan otak terganggu. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa membuat seseorang mengalami henti jantung dan koma, sehingga seolah-olah meninggal dunia.
Kejadian mati suri dalam dunia medis memang bisa terjadi. Oleh karena itu, sebelum menyatakan pasien meninggal, dokter dan petugas medis akan menunggu dan mengawasinya hingga sekitar sepuluh sampai dengan lima belas menit setelah menghentikan tindakan CPR.
Jika memang tidak ada perubahan dan pasien tetap menunjukkan tanda-tanda kematian, dokter baru akan menyatakan bahwa pasien telah meninggal.
Dalam Hadits Qudsi dijelaskan, kematian merupakan pintu penghubung antara dunia dan akhirat. Setiap orang yang mati melewati pintu tersebut, sedangkan kehidupan, yaitu kondisi ketika jasad atau tubuh dengan roh masih melekat.
Lalu, dalam Al-Qur'an juga dijelaskan, mati suri berarti salah satu ujung tali roh terlepas, tetapi dia masih hidup karena ujung lainnya masih terikat. Itu yang membuat dia bisa kembali hidup. Mirip dengan orang tidur. Sebagaimana diketahui, roh ibarat tali yang punya dua ujung terikat pada tubuh. Jika salah satu ujung terlepas dari badan, hal itu memungkinkan manusia untuk melayang-layang dengan apa yang disebut dengan mimpi atau mati suri.
Saat dokter sibuk menjelaskan, seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari sang dokter dan seorang wanita yang nampak sedih itu, memekik dan mengalihkan semua atensi orang - orang yang ada di ruangan itu.