Gia dan Axen adalah dua orang dengan image ramah, cerdas dan juga friendly. Ya, seperti itulah penggemar mereka memandang keduanya.
Akan tetapi, siapa sangka kalau semua image yang disematkan pada keduanya itu sama sekali tidak linear dengan image mereka aslinya.
Benarlah kata orang, don't judge a book by it's cover. Jangan menilai orang, barang, atau sesuatu apapunitu hanya dari tampilan luarnya saja.
Kenapa? Karena tak sedikit yang berakhir menyesal karena tertipu oleh tampilan luarnya saja.
Beli buku, jangan hanya karena covernya eye chacting aja. Tapi juga dibaca blubrnya atau dicari review dan komentar pembaca buku itu di internet.
Tujuannya apa?
Jelas, supaya kita tidak kecewa nantinya. Jangan setelah dibeli, malah bukunya tidak kita baca sampai selesai karena setelah kita baca malah tidak sesuai dengan selera baca dan isinya tidak semenarik covernya.
Apalagi dalam mengenal dan menilai seseorang. Tentulah harus dilihat dari sikap dan tindak tanduknya serta tredrecordnya bagaimana.
"Jadi, itu, yang namanya Sian," Gia bergumam seraya menatap layar tv yang ada di hadapannya, namun pikirannya berada pada hari di mana ia bertemu dengan Diana dan pria bernama Sian itu.
Seorang pria yang nampak sibuk mengaduk mangkuk ramennya, itu, hanya bisa menganggukkan kepala tanpa mau repot - repot menbuka suara.
"Bagaimana naskahnya? Sudah ia kirimkan padamu?" Gia bertanya seraya mengalihkan tatapan matanya pada Axen.
Axen, pria itu hanya geleng - geleng kepala sementara tangannya sibuk mengapit ramen yang nampak lezat itu dengan sumpit berwarna hitam yang ada di tangannya saat ini.
Sejak pertemuan mereka dengan Sian waktu itu, pria itu tidak menghubunginya danu juga ia sedang dalam mood yang tidak baik untuk menagih –nagih naskah yang ia saja sudah tidak ingat naskah apa yang lelaki itu punya.
Sementara itu, Gia nampak kesal karena sejak tadi, pria yang merupakan tamu tak diundang di apartemennya itu hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
“bisa gak, kalau sya sedang bicara itu, didengarkan dulu. Jangan sibuk sama aktiivitas kamu saja?” keluhnya seraya menatap Axen dengan tatapan dingin dan kesal sekaligus.
“salah siapa, orang lagi makan malah diajak bicara,” sahut pria itu dengan santainya, lalu menyuapkan ramen yang nampak masih panas itu, ke dalam mulutnya. Hingga ia meringis serya menjulurkan lidah.
“hukum karma tuh! Makanya, kalau orang lagi ngajak bicara, itu didengarkan dulu. Kan yang dengar, itu, telinga bukan mulut,” cibir Gia seraya tersenyum puas. Sementara Axen, pria itu nampak mencebik lalu kembali menyuapkan ramen ke dalam mulutnya, namun kali ini ia menunggu ramen itu agar tidak begitu panas, sebelum ia benar – benar menyuapkannya ke dalam mulutnya.
“aku penasaran kenapa Diana nampak dekat dengan lelaki bernama Sian itu?” komentar Gia seraya melangkah ke arah pentry. Membuka salah satu pintu lemari yang ia jadikan sebagai tempat penyimpanan stok ramen dan jenis mie yang ia punya. Salahkan saja Axen yang membuatnya juga ingin menikmati ramen hangat kesukaannya.
“aku tidak tahu apa hubungan mereka, namun melihat dari tatapan Sian, nampaknya ia tidak tertarik pada Diana. Entahlah, bisa saja sebaliknya,” ungkap Axen seraya melanjutkan aktivitas makan ramennya hingga mangkuk yang semula berisi penuh, kini tersisa setengahnya.
“rencananya besok ada meet and great bersama penulis – penulis lainnya. Tapi aku sangat malas menghadirinya. Karena akan ada banyak penulis yang cari muka dan bahkan denngan tidak malunya mendekatiku hanya untuk numpang nama saja. Menurutmu bagaimana?” Gia bercerita panjang lebar seraya memasukkan sebungkus ramen berukuran besar ke dalam wajan yang airnya suah mendidih.
Axen nampak menghentikkan aktivitas makan ramennya yang hanya tinggal sekali suapan lagi. Bagaimana tidak, ia baru saja mendengar seorang Gia, perempuan ambisius, keras kepala, tidak mau diatur dan merasa paling benar itu, baru saja bertanya padanya?
Aqua Regia meminta pendapatnya mengenai apa yang akan perempuan itu lakukan besok dengan undangan meet and greet yang perempuan itu ceritakan barusan.
“Saya tidak salah dengar?” tanya Axen mematika kalau indera pendengaran masih berfungsi dengan baik.
Lalu, Gia mengangguk seraya mengaduk – aduk mienya. Untuk beberapa saat, Axen masih menatap perempuan yang berdiri di depan pentry apartemennya itu dengan wajah tak percaya. Jangan – jangan perempuan itu sedang sakit, atau ketempelan setan. Entahlah yang mana tepatnya. Akan tetapi, sulit dipercayai kalau seorang Gia mau meminta pendapatnya mengenai sesuatu.
“kenapa muka kamu begitu?” cela Gia seraya mentiriskan mienya yang sudah matang lalu memindahkannya ke dalam piring berwarna putih. Kemudian memasukkan bumbu – bumbu mie dengan cekatan serta mengaduknya hingga tercmpur merata.
Gia melangkah mendekati Axen yang ada di sofa dan menghadap tv yang nampak masih menyala.
“aneh saja, seorang Gia mau bertanya mengenai pendapat orang lain.” Jujur Axen seraya kembali menyuapkan ramen terakhirnya.
Meski terdengar menyebalkan di telingany, Gia hanya bisa mendelikkan mata seraya mengambil posisi duduk tidak jauh dari Axen.
Smeentara Gia mengaduk – adek piringnya ramennya. Axen bangkit dari sofa lalu melangkah mendekati wastafel.
“Mmenagnya ada yang salah kalau aku bertanya atau ingin tahu pendapat orang lain?” tanya Gia seraya menatap pumggung Axen yang entah apa yang dilakukannya di dekat wastafel itu.
“kamu ngapain di situ?” timpal Gia karena Axen belum kunjung beranjak dari sana dan juga tidak menjawab pertanyaannya barusan.
“saya lagi nyuci piring, kamu gak lihat?”
Mana Gia lihat, orang pria itu sejak tadi membelakanginya. Pikir perempuan itu seraya berdecak. Kenapa hari ini Axen terasa menyebalkan seperti biasanya. Padahal Gia sedang berusaha untuk mengubah beberapa sikapnya untuk keberlangsungan hubungan kerja sama antara dirinya dan Axen.
"Percuma ya, minta saran sama kamu!" ujar Gia lalu mulai menyantap ramennya tanpa mempedulikan Axen yang kini menoleh seraya mengerutkan keningnya dengan heran.
Kenapa juga perempuan itu repot - repot meminta sarannya? Pikir Axen seraya mengedikkan bahu lalu mekangkah mendekati lemari yang terdapat rak piring dan meletakkan piring yang baru saja ia cuci dengan bersih. Kemudian melangkah me dekati sisi kanan kompor dan meletakkan sumpit ke dalam wadahnya.
"Aku serius meminta saranmu. Besok jam setengah dua, aku tidak ingin pergi tapi aku butuh promosi naskahku yang sedang on going di Ways. Pasalnya, naskahku yang ini pembacanya lebih sepi dari cerita thriller yang sebelumnya."
Sejak kapan, Gia mengkhawatirkan jumlah pembaca? Toh sejak dulu kalau ada apa - apa tinggal Axen yang turun tangan untuk menyelesaikannya.
"Meskipun kamu bisa mengatasinya, tapi tetap saja. Kali ini aku ingin mencobanya sendiri." Gia masih sibuk mengaduk ramennya yang mulai dingin. Lalu mulai menyantapnya dengan pelan menggunakan garpu. Sebab ia tidak mahir menggunakan sumpit seperti Axen.
***
Untuk sekelas penulis best seller degan karya yang bahkan sudah mendunia, Gia dianggap sebagai penulis yang low profile sekali. Bagaimana tidak, ia bahkan tidak segan –segan menyapa pembaca setianya lewat sosial media dan juga kerap kali membalas komentar yang disematkan pembaca pada tulisannya di Ways.
Ya, begitulah caranya mengambil hati pembaca agar tetap megidolakan dan membaca serta selalu mengapresiasi karyanya.
Hari ini, hari yang Gia maksud hari di mana ia harus menghadiri Meet and Greet yang juga dihadiri beberapa penulis berbakat yang Ways punya.
Sesampainya di sana, Gia yang ditemani oleh seorang pria tinggi dan tampan itu bergegas melangkah dengan cepat melewati beberapa gerombolan penggemarnya yang sudah berdiri berjam – jam di sana seraya menggenggam buku yang terakhir Gia tulis dan diterbitkan di tahun ini.
Karena tahu betul siapa Gia, tak heran kalau kebanyakan pembaca setia dan penggemarnya berasal dari kaum adam. Selain karena karyanya kebanyakan bergenre mysteri-thriller, Gia juga dikenal sebagai paling cantik yang ada di negeri Krypton.
“lihat penggermarmu, mereka sangat antusias menunggu kedatangan idolanya.