Tak ada manusia yang benar - benar menginginkan kehidupan yang dijalani oleh manusia lainnya.
Seperti Reno dan Rama, ia hanya menginginkan kehidupan yang Sian jalani karena melihat sahabatnya itu sudah beberapa langkah di depan mereka.
Mereka tidak benar - benar menginginkan kehidupan yang Sian jalani. Kalau mereka tahu, sekeras dan sesulit apa yang harus Sian lalu untuk sampai pada titik yang mereka dambakan dari hidup seorang Sian.
Setiap orang punya sepatu kehidupannya masing - masing. Setiap sepatu, ada kurang dan juga ada lebihnya. Tidak ada orang yang benar - benar menginginkan sepatu kehidupan orang lain. Mereka hanya melihat sepatu kehidupan mereka lebih berat atau lebih buruk daripada orang lain di sekitar mereka.
Mereka tak pernah benar - benar menginginkan sepatu kehidupan orang lain. Sebab setiap tidak ada satupun sepatu kehidupan yang sempurna.
Bagiamana bisa, manusia menginginkan sesuatu yang sempurna sementara pemiliki kesempurnaan itu hanya satu dan tidak ada duanya.
"Kapan - kapan kita kumpul di cafe Uno ajaz gimana?" saran Rama seraya menatap kedua sahabatnya yang kini masih sibuk mengunyah mie ayam yang ada di hadapan masing - masing.
Reno heran, kenapa Ram dan Sian sangat lambat dalam aktivitas makan. Padahal mereka berduanl hanya memesan mie ayam yang bagi Reno bisa dihabiskan dengan tiga kali sendok.
Sian dan Rama mengangguk dengan kompak seraya tetap mengunyah makanan yang ada di dalam mulut mereka.
Reno mendengkus seraya meraih gelas es tehnya yang ternyata sudah habis. Tangannya beralih meraih gelas teh Rama yang membuatnya mendapat pukulan pelan dari sahabatnya itu.
"Pelit amat, sih!" cibirnya seraya menjauhkan tangan Rama dan buru - buru mengisap es teh sahabatnya itu hingga tersisa setengah.
Sian hampir saja tersedak karena menahan tawanya saat menyaksikan kelakuan kedua lelaki dewasa yang ada di hadapannya ini.
Hari itu, Sian lupa bahwa ia tidak sendirian datang ke kampus. Setelah selesai dengan segala urusan perkuliahannya dan makan siang bersama kedua sahabaynya, pria itu memutuskan untuk pulang.
---
"Gimana, kamu senang?" tanya Sian sesaat setelah menepikan motornya tepat di sisi kanan Jembatan Hati yang dibangun di atas air sungai yang membelah ujung kota Argon. Sekaligus menjadi pembatas anatara kota Argon dan Neon.
Awalnya Tri penasaran, kenapa jembatan yang kokoh lagi menjulang ini dinamakan dengan Jembatan Hati. Sebab, sesaat ia sampai di sini, ia tidak melihat apapun yang ada di sini dengan bentuk hati.
"Lihat ke bawah," ujar Sian seraya menatap ke bawah.
Tepat di bawah mereka, ada ceruk yang berbentuk hati yang di mana air mengalir deras di sana. Tidak ada yang menyadarinya jika tidak melihat dari dua sisi jembatan.
Lalu, di ujung jembatan terdapat sebuah lengkungan besi yang membentuk hati dengan bunga yang menjalari setiap lengkungannya.
Ah, rasanya seerti mimpi.
Tri menatap ke setiap sisi jembatan itu dengan mata berbinar dan perasaan kagum yang luar biasa. Tidak ada jembatan swperti ini di pusat kota Argon.
"Dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Tri dengan terbata seraya menatap Sian sekilas.
Sejak tadi malam, Tri berpikir untuk tidak lagi memanggil Sian dengan sebutan ia gunakan sebelumnya. Apa itu? "Bang Sian?" Hih! Tri merasa ilfeel pada dirinya sendiri.
Biar saja pria ini mengira kalau ia tidak sopan. Toh, Tri tidak begitu peduli lagi dengan penilaian Sian padanya seperti apa.
"Dari internet. Saya cari tempat - tempat unik dengan pemandangan indah untuk didatangin saat penat."
Sian bercerita seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling jembatan. Ternyata yang ia baca di internet benar. Jembatan Hati akan membuat siapapun jatuh hati saat berada di tempat ini.
"Kalau begitu, kenapa ngajak aku ke sini?" tanya Tri seraya berjalan ke ujung jembatan. Sian mengekor di belakang seraya menatap punggung gadis kecil yang ada di hadapannya itu dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas.
"Sebagai ganti karena kita gak ke Rumah Sakit Umum kota Argon seperti yang kamu mau," jawab Sian seraya melangkah lebih dekat dengan gadis yang kini berbalik dan menatapnya dengan wajah dingin.
---
Hari itu, setelah mendengar dan melihat semua penjelasan Sian mengebai kesalahpahaman yang terjadi. Tri, gadis itu nampak lebih sering terdiam dan bergelut dengan isi kepalanya.
Mengingat kembali momen - momen yang ia lalui bersama Sian waktu itu. Ia jadi beepikir, apa mungkin, kenangan manis yang meteka ukir saat itu, juga bukan benar - benar Sian yang membersamainya?.
Sangat wajar bukan, kalai ia berpikir seperti itu?
Tri bahkan berpikir kalau Sian bersikap baik padanya, itu karena bang Nik yang merasukinya.
Tapi, bukankah Sian sudah mengatakan kalau pria itu hanya pernah dirasuki satu kali dan untuk kalo keduanya saat Sian ingin meyakinkannya dan juga ka Di. Bahkan apa yang terjadi di kafe waktu itu, murni karena Arsenlah yang mengendalikan tubuh Sian.
"Masih mikirin soal Sian?"
Tiba - tiba saja Diana, kakaknya itu datang ke kamar Tri yang memang sedang terbuka karena ia sedang melakukan kegiatan mengganti suasana kamarnya.
"Enggak kok, kak," bohong gadis itu seraya melanjutkan aktivitasnya yang sempat terjada saat ia mendapati pas foto yang menampilkan dirinya dan Sian di Jembatan Hati waktu itu.
"Sian itu lelaki yang baik. Kakak yakin apa yang ia jelaskan dan tunjukkan ke kita, itu benar adanya. Kamu lihat sendiri kan, kemarin?" Diana berujar seraya menatap wajah adiknya itu dengan tulus dan meyakinkan kalau gadis itu tidak perlu khawatir.
"Aku cuma kepikiran aja. Masih gak nyangka, kalau bang Nik masih ada di sekitar kita." Tri berucap seraya menghentikan aktivitasnua sejenak lalu duduk di kursi yang menghadap meja belajarnya.
Diana yang sedang duduk di bibir kasur, nampak tersenyum tipis. Ia paham, tidak mudah untuk menerima semuanya. Ia pun merasakan hal yang sama. Merasa tidak percaya, merasa kalau semua ini bisa saja hanya mimpi belaka dan sekaligus merasa kalau pun ini hanya mimpi belaka, Diana akan memilih untuk tidak menyudahi mimpi ini.
"Kakak bahagia?" Tri bertanya pelan seraya menatap wajah sendu kakaknya yang nampak menatap jauh ke masa lalu.
Kalau ditanya, apakah Diana bahagia setelah bertemu dengan Niknya?
Tentu saja jawabannya, iya. Diana bahagia sampai - sampai ia takut kalau kebahagiaannya ini hanya mimpi belaka.
Perempuan itu tersenyum seraya menatap adiknya dengan lembut.
"Bahagia. Kakak bahagia karena bisa merasakan kehadiran bang Nikmu lewat Sian. Kakak bahagia karena separuh jiwa kakak yang pergi, kini pelan - pelan mulai mengisi kembali kekosongan hati."
mendengar itu, Tri nampak tersenyum bahagia. Karena baginya, kebahagiaan kak Diana juga kebahagiaan baginya.
"Yaudah, nanti kapan - kapan kita minta bang Sian buat minjemin tubuhnya ke bang Nik. Biar kakak bisa sama - sama bang Nik seharian penuh," usul gadis itu seraya tersenyum menatap kakaknya.
Diana nampak terkekeh pelan seraya menghampiri adik bungsunya itu.
"Lalu kamu? Gimana? Bukannya kamu juga mau seharian barengan Sian?" goda Diana pada adik bungsunya itu.
Tri nampak diam seraya berpikir sejanak. Memang benar, ia ingin berada di sisi pria itu untuk waktu yang lama. Akan tetapi, kalau ia boleh memilih, tentu saja ia akan lebih memilih untuk membujuk Sian agar mau meminjamkan tubuhnya pada bang Nik. Supaya kak Diana dan bang Niknya bisa sama - sama lagi kayak dulu.
"Pengennya, kakak punya lebih banyak waktu buat bisa sama - sama dengan bang Nik. Meski raganya bukan bang Nik, setidaknya kakak bisa melepaskan beban rindu yang kakak pikul selama ini, sedikit demi sedikit."
Diana merasa terenyuh dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu. Hatinya merasa hangat dan pilu sekaligus.
"Makasih ya dek," ucap Di dengan tulus seraya memeluk tubuh adiknya itu dengan erat.
"Maafin Tri, ya, kak. Udah sempat ngambek sama kakak. Padahal Tri gak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tri terlalu mudah menyimpulkan," aku Tri dengan jujur seraya menyandarkan kepalanya ke bahu sang kakak dengan nyaman.
"Sssttt... gak perlu minta maaf segala. Kalau pun ada yang harus minta maaf, itu pasti kakak orangnya. Maafin kakak karena udah gak jujur sama kamu. Kakak gak bermaksud menyembunyikan apa - apa. Cuma kakak takut, kalau kamu tahu kamu bakalan marah sama kakak."
"padahal dengan kakak nyembunyiinnya, itu juga bisa bikin kamu kecewa kan, ya."
Tri mebggelengkan kepalanya pelan seraya melepaskan pelukan mereka. Gadis itu mendongak dan mengatakan bahwa ia sudah merasa lebih baik dan tidak salah paham lagi.
"Yang pneting sekarang kita udah gak salah paham lagi. Tri tahu kakak gak mau bikin Tri marah dan sedih. Tri juga, Tri maunya kakak bahagia dan sering - sering tersenyum lagi kayak dulu." Gadis itu berujar dengan tulus seraya menatap ke manik mata kakaknya yang nampak sendu.
Keduanya nampak saling menatap dengan penuh kasih sayang.
Siapa sangka kalau kesalahpahaman bisa membuat hubungan yang awalnya biasa saja, menjadi rengggang lalu bertransformasi menjadi lebih erat.
Memang benar, kalau akan selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian, entah apapun itu. Baik suka, duka, tangis, tawa atau lara dan kecewa.
Ya. Kalau kata orang - orang sih, akan ada pelangi setelah hujan dan akan ada tawa setelah air mata serta akan ada ceria setelah duka lara.
***
Setelah kepergian Diana dari kamar adiknya, perempuan itu tidak langsung kembali ke kamar yang letaknya tepat di samping kamar adiknya. Melainkan melangkah menuju lantai paling atas. Ya, ke atap.
Sebelum langkahnya benar - benar mencapai lantai atap, perempuan itu nampak berhenti sejenak pada salah satu anak tangga.
Terdiam seraya menarik napas dalam - dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan berkali - kali, sampai ia merasa lebih tenang.
Diana melanjutkan langkah kakinya. Melangkah dengan pelan mendekati pintu. Lalu membuka kunci pintu itu secara perlahan hingga terdengar bunyi klik yang pelan.
Ia melangkah ke luar lalu menutup kembali pintu itu dengan pelan. Tidak ada siapa - siapa di sana. Tentu saja tidak ada siapa - siapa, karena ini sudah malam dan jam tangan yang masih melingkar pada lengan kecilnya sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Perempuan itu nampak menatap ke setiap sudut dengan tatapan sendu. Lalu duduk di salah satu kursi yang tadi pagi ia duduki.
Aneh? Memang.
Entah apa yang terjadi hari ini benar - benar nyata atau hanya ilusinya semata, yang pasti Diana merasa kalau hatinya kini sibuk ia kondisikan agar tetap bahagia dengan apa yang ia alami hari ini.
"Aku tahu semua makanan dan minuman kesukaan kamu. Aku tahu apa - yang tidak kamu sukai dan aku tahu kapan, di mana dan bagaiamana kita bertemu pertama kali."
Seketika, kalimat yang dilontarkan oleh seorang pria yang amat dirindukannya itu, kembali terngiang hingga membuatnya bertanya - tanya. Apakah semuanya ini mimpi atau nyata? Atau hanya ilusinya semata?
"Kamu susah tidur kalau di sekeliling kamu gak ada bantal. Kamu juga lebih suka tidur dengan tubuh yang dipeluk. Maaf ya, selama ini gak bisa selalu ada buat kamu."
Beruntungnya cuaca langit malam ini nampak bersahabat. Dalam gelapnya malam, banyak bintang yang bertaburan menghiasi langit dan ditemani oleh sinar bulan separuh yang nampak indah. Diana, perempuan itu nampak menghela napas panjang seraya menatap ke langit tinggi yang menaunginya.
Seketika sekelebat ingatan yang dilaluinya bersama dengan Nik beberapa tahun yang lalu, kini kembali terputar.
"Kenalkan, namaku Arsenik, nama kamu pasti Diana."
Diana, gadis itu nampak mengerutkan kening seraya menatap seorang laki - laki di hadapannya itu dengan skeptis.
"Karena kamu cantik layaknya putri Diana," tambah laki - laki itu bahkan sebelum Diana merespon apa - apa kecuali tatapan tidak suka yang dilayangkannya pada laki - laki aneh yang kini tersenyum manis padanya.
Siapa yang menyangka, kalau laki - laki aneh dari jurusan sastra di kampusnya itu kini menjadi satu - satunya pria yang menempati hatinya.
Malam semakin pekat, Diana memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sebelum benar - benar pergi, ia menyempatkan diri untuk menatap ke arah meja dan deretan kursi yang tadi pagi ia duduki dan ada Niknya di sana.
"Aku tidak tahu sudah berapa lama. Tapi hatiku terasa nyeri tiap kali ingatan akan seorang perempuan cantik dengan wajah sedihnya seolah menatap ke arahku. Tiba - tiba saja, rasa rindu yang membuncah membuatku berada di sini."
Episode terberat dalam hampir dua puluh tujuh tahun ia hidup, adalah bagian di mana ia kehilangan pria yang selalu membersamainya. Pria yang tidak pernah mengeluh akan kurang dan lebihnya seorang Diana. Pria yang selalu sabar menghadapi ketidakdewasaannya saat itu.
Setelah kepergiannya dari atap. Diana tak sengaja berpapasan dengan Mono, kakaknya. Perempuan dengan wajah tirus dan hidung mancung yang langsing, itu nampak berjalan menyusuri lantai dengan langkah pelan.
"Kakak baru pulang?" tanya Diana seraya menatap penampilan Mono yang nampak masih rapi meski perempuan itu bekerja dari pagi hingga larut malam.
Mono menganggukkan kepala mengiyakan. Tubuhnya terasa seperti habis dikeroyok orang sekampung. Lelah dan nyeri di mana - mana terutama di bagian pinggang.
"Kakak sakit?" tanya Diana seraya menetap kakaknya itu dengan penuh telisik.
Mono menggelengkan kepala, "enggak kok, dek. Cuma kelelahan aja," jawab perempuan itu dengan lemah.
"Kakak ke kamar duluan, ya," ucap Mono seraya tersenyum tipis sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar yang berada di ujung lantai dua rumah mereka.
Diana mengangguk mengiyakan. Lalu kembali melanjutkan langkah kakinya. Syukurlah kak Mon tidak bertanya apa - apa.
Sesampainya Diana di kamar. Ditutupnya pintu kamar dengan pelan dan menguncinya dengan rapat. Lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh wajah. Tak lupa menyikat gigi dan berwudu sebelum ia bersiap untuk tidur.
***