Sepulangnya Sian dari kediaman Tri. Pria itu nampak sibuk berpikir apa yang sedang dipikirkan gadis itu terhadapnya?
Tidakkah, gadis itu berpikir kalau ia sudah gila? Sian seorang pria yang mengaku dapat melihat dan berkomunikasi dengan arwah atau hantu atau apalah itu.
Melihat dari ekspresi gadis itu, Sian nampak ragu kalau Tri mempercayainya seratus persen.
Ya, bagaimana tidak. Sulit memang, menerima hal - hal yang tidak logis dan di luar nalar manusia.
Sepanjang perjalanan pulang, Sian nampak fokus menatap jalanan di depannya. Sementara itu, sosok yang ada di belakangnya juga sibuk dengan pikirannya yang tertuju pada perempuan cantik yang dilihatnya dengan cukup lama dan juga ia berhasil mengungkapkan siapa dirinya.
Meski ia harus meminjam tubuh Sian, tetap saja Arsen sangat senang karen Ia bisa memeluk Dinya dengan erat, tanpa harus takut kalau - kalau perempuan itu akan marah atau takut kalau - kalau kekasih hatinya itu akan menolak.
"Kamu sesenang itu?"
Arsen nampak terkesiap saat menyadari kalau Sian sedang menatapnya lewat kaca spion motor.
"Tentu saja. Rasanya aku tidak ingin beranjak ke luar dari tubuhmu dan ingin selalu membersamai Diku." Sian mendengkus setelah mendengar pengakuan sok puitis dan melankolis yang dilontarkan Arsen barusan.
"Ingat janji lo, ya. Jangan pernah menyalahi aturan yang gue berlakukan atau-,"
"Atau kamu akan memutuskan kerja sama kita dan tidak pernah mau membangu saya lagi," potong Arsen seraya menatap pria di hadapannya itu dengan sebal.
Arsen tentu tidak lupa akan perjanjian mereka. Hanya saja, saking senangnya, ia benar - benar tidak ingin beranjak dari kekasihnya itu. Ingin selalu merasakan hangat dan nyamannya pelukan dari perempuan yang sudah sangat lama ia rindukan.
Sian menyunggingkan sudut bibirnya.
"Bagus deh kalo lo udah hapal," ujarnya seraya kembali fokus ke jalanan di hadapan mereka.
Sesampainya di rumah. Sian bersenandung ria seraya memarkirkan motor maticnya di halaman rumah.
Melangkah mendekati pintu yang nampak tertutup lalu mengetuknya dengan pelan seraya mengucapkan salam.
Sejurus kemudian, terdengar balasan salam dari dalam yang Sian tebak itu adik bungsunya, si Kuna.
"Abang abis menang lotre?" tanya gadis itu polos seraya menatap wajah abangnya yang nampak berseri - seri dan senyuman di bibir Sian pun tak kunjung sirna.
"Enggaklah Unaaa. Ngapain abang beli lotre," sanggah Sian seraya berlalu melewati adiknya itu. Mendekati rak sepatu yang ada di sisi kiri dinding dan meletakkan sepatunya di sana.
Sementara itu, Arsen juga nampak tersenyum ria seraya mengekori Sian. Akan tetapi, tiba - tiba saja ia mendengar suara yang menghentikkan langkahnya.
"Tunggu!" cegat Kuna seraya merentangkan satu lengannya untuk menghentikan langkah seseorang yang kini nampak menatapnya dengan bingung.
Arsen mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu rumah Sian dengan bingung. Siapa yang dimaksud gadis kecil yang ada di hadapannya ini?
"Kamu!" ujar Kuna seraya menunjuk Arsen dengan wajahnya.
"Sa-ya?" tanya Arsen seraya menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan kalau ia tidak salah dengar atau salah lihat.
Pasalnya, gadis itu nampak tengah menatap tepat ke arahnya berdiri saat ini.
"Iya, kamu! memangnya siapa lagi?" sewot Kuna seraya melangkah mendekati Arsen.
Gadis itu mendengkus atoma tubuh pria jangkung yang kini nampak terdiam mematung.
Seharusnya Arsen ingat, kalau di rumah ini, tidak hanya Sian yang dapat menyadari dan melihat keberadaannya.
"Kenapa kamu gak pernah pulang atau ganti baju? Terakhir aku liat kamu pulang sama bang Sian juga pakai baju ini" Kuna bertanya dengan serius seraya memindai penampilan Arsen dari ujung kaki yang nampak mengambang dan ujung kepala.
"Jangan - jangan kamu bukan manusia?" imbuh gadis itu seraya mengambil jarak di antara mereka.
Arsen yang bingung harus melakukan apa, hanya bisa berdiri di sana seraya meringis.
"Saya harus cepat - cepat menemui abangmu karena kami akan mendiskusikan sesutau yang sangat penting," dalih Arsen seraya ingin berlalu dari sana, namun lagi - lagi dicegat oleh gadis itu.
"Heihei, mau ke mana?" Kuna berujar seraya melangkah mendekati Arsen.
Saat keduanya bertatap muka, Kuna baru sadar kalau aroma tubuh pria yang ada di depannya ini bukanlah aroma manusia biasa.
"Kamu pake parfum apaan sih? Baunya gak enak banget?" hardiknya seraya mengambil jarak dan menutup hidungnya dengan cepat.
Sementara Arsen, ia hanya tersenyum seraya geleng - geleng kepala.
"Menurut kamu?" ujarnya retoris seraya mencondongkan tubuhnya ke hadapan gadis serba ingin tahu itu.
Kuna yang tidak menyukai bau tubuh Arsen lantas berteriak,
"Jangan mendekat!" ancamnya seraya menobdongkan tangan.
Membuat seseorang datang dan menatapnya dengan heran.
"Kamu ngapain teriak - teriak siang bolobg begini dek?" Kena datang dan mendapati adiknya itu sedang menondongkan tangan ke hadapannya.
Sementara Kuna, gadis itu nampak kaget karena sosok yang diajaknya bicara tadi, kini tiba - toba menghilang entah ke mana.
"Kakak gak liat ada cowok tinghgi dengan pakaian yang gak pernah diganti, terus baunya badannua juga aneh. Kok, bisa ya, abang temenan sama dia?" celoteh Kuna seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Kena hanya bisa geleng - geleng kepala seraya berdecak.
"Sejak kapan abang bawa temen model begitu?" komentar Kena seraya melangkah mendekati pintu dan menutupnya.
"Waktunya tidur siang, jangan kebanyakan ngayal makanya!" omel Kena pada adiknya seraya berlalu meninggalkan gadis itu dalam keadaan bingung.
Sementara di kamar Sian. Pria itu nampak sibuk merapikan kamarnya yang memang berantakan akibat memilih outfit yang cocok untuk menemui Tri dan kakaknya.
"Tadi, aku ketemu adik kamu yang paling kecil. Untungnya ada adikmu yang satunya. Jadi aku bisa lolos dari introgasinya yang membuatku bingung musti menjawab apa." Arsen bercerita seraya mendekati Sian yang saat ini berkutat dengan lemari pakaiannya. Menyusun kembali kameja yang digantung ke dalam lemari kayu yang berada di dekat nakas.
"Ah iya, aku lupa kalau adikmu juga pernah melihatku beberapa kali dan dia berpikir kalau aku ini manusia," lanjut Arsen seraya mengekori Sian yang sibuk ke san ke mari. Meletakkan kembali beberapa barang yang ada di meja belajar dan di atas nakasnya yang nampak berantakan.
"Makanya, sebisa mungkin jangan muncul saat ada Una. Kan gawat kalau dia tahu kalau gue bisa ngeliat dan bicara sama lo," komentar Sian yang malah terdengar menyalahkan Arsen.
Baiklah, deritanya yang numpang di rumah seorang Sian. Pikir Arsen seraya medesah pelan.
Sementara Sian sibuk merapikan kasur dan seisi kamarnya yang pada dasarnya tidak berantakan - berantakan amat. Arsen memilih untuk mengambil posisi duduk menghadap meja belajar pria itu seraya bersandar ke kepala kursi.
Seolah dialah tuan rumah dan Sian yang menumpang dan harus beres - beres di sana.
Tidak begitu juga konsepnya. Sebab, Sian memang suka beres - beres sendiri. Asal dia nyaman dengan keadaan kamarnya, maka tak masalah kalaupun harus berlelah - lelahan dalam beres - beres.
"Kamu tuh ngantuk, bukannya langsung tidur malah sempat - sempatnya beres - beres segala macam seperti itu," komentar Arsen seraya menelisik atas meja belajar Sian yang nampak sudah rapi.
Sian yang sedang merapikan bantal - bantalnya, itu, kini menoleh dan tidak berniat merespon apa - apa.
Setelah selesai, ia mengambil posisi berbaring paling nyaman di kasurnya yang empuk.
"Kalau udah mau ashar, bangunin aku, ya. Karena aku ngantuk banget dan kayaknya bakalan tidur lama." Sian berujar seraya menatap sosok yang nampak celingak - celinguk di depan meja belajarnya.
Arsen menoleh saat dirasa kalau yang Sian maksud adalah dirinya.
"Aku?" tanyanya seraya mengarahkan telunjuk ke araha dirinya sendiri.
"Ya elo lah. Siapa lagi yang ada di sini, kecuali lo dan gue," sewot Sian seraya memutar bola mata malas.
"Ah, baiklah tuan Sian!" balas Arsen sarkastik. Lalu kembali menelisik rak buku yang ada di hadapannya.
Ternyata, tidak adiknya tidak abangnya, sama saja. Pikir Arsen seraya geleng - geleng kepala.
Ia jadi teringat dengan gadis kecil yang mencegatnya sebelum ia bisa masuk ke sini.
***
Semalaman Tri merasa uring - uringan. entah karena merasa terlalu bahagia atau karena masih ada yang mengganjal di hatinya.
Setelah salat isya, ia memutuskan untuk segera merebahkan tubuhnya ke kasur lalu menatap lurus ke arah langit - langit kamar.
Menghela napas pelan seraya mengerlingkan manik matanya ke sana ke mari.
Kenapa setelah pertemuannya dengan Sian tadi pagi, ia tidak mendapatkan kabar apa - apa dari pria itu sampai detik ini.
belom juga satu kali dua puluh empat jam, lo udah mikir ke mana - mana! cibir hatinya memgingatkan.
Gadis itu terdiam selama benerapa menit, sebelum akhirnya memutuskan untuk bamgkit dari posisi berbaringnya. duduk sejenak lalu menuruni kasur dan melangkah menuju nakas.
Ia sengaja meletakkan ponselnya di sana. Benda berbentuk oipih itu tergeletak dengam layarnya yang gelap.
Belum ada tanda - tanda kalau Sian akan menghubunginya. Pikirnya, kecewa karena layar benda yang ia raih itu belum menampilkan apa - apa.
Ia kembali mendakati kasur dan mendaratkan pantatnya di bibir kasur.
Sejurus kemudian, tiba - tiba saja ponselnya bergetar. Layarnya menyala dan menampilkan beberapa notifikasi pesan masuk. Ia senang bukan main, akan tetapi ekspresi cerianya itu tidak bertahan lama. Karena ternyata, setelah ia cermati, menatap layar ponselnya dengan saksama seraya membaca notifikasi pesan itu.
Kak Nisa
Ada tiga panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari kak Nisa.
Tiba - tiba saja perasaan gadia itu menjadi tidak enak. Pikirannya kembali melayang jauh ke hari di mana ia melihat seorang perempuan dan seorang laki - laki yang ia kenal sedang berduaan di sebuah parkiran kafe.
Kenapa semua kejadian tidak mengenakkan itu terjadi di tempat yang sama? Sebuah kafe? Meski kejadian kemarin, di mana Sian dan kakaknya itu adalah sebuah kesalahpahaman.
Akan tetapi, Tri jadi kepikiran. Bagaimana dengan kejadian hari itu?
Sian mengatakan kalau ia tidak punya hubungan yang spesial dengan Nisa. Namun, Tri terlalu peka untuk menyadari perbedaan tatapan yang Sian berikan pada seorang perempuan dan tatapan Sian pada Nisa, tidak bisa dikatakan tatapan yang biasa.
Sepanjang perjalanan pulang setelah melewati kafe Uno, Tri hanya diam seraya berpikir jauh.
Berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri kalau yang ia lihat sebelumnya bukanlah Sian. Pria itu tidak mungkin bersama dengan seorang perempuan yang bukan siapa - siapanya. Bahkan memberikan perempuan itu sebuah helm yang pernah ia gunakan sebelumnya.
Kalau sebenarnya pria itu memang Sian, lalu kenapa? Apa haknya untuk marah? Atau apa yang bisa ia lakukan?
Perempuan yang bersama Sian saat itu sepertinya tidak asing di mata Tri. Apa ia pernah bertemu?
Atau?
Ah, ia ingat. Hanya ada satu perempuan yang sangat mungkin bisa membersamai Sian.
Nisa. Ya, teman kuliah Sian yang pernah Tri tumpangi kosannya.
Kenapa mereka hanya berdua? Apa sebenarnya hubungan keduanya?
Ah, lagi - lagi gadis itu berpikir terlalu jauh. Seraya menyandarkan kepala ke kaca mobil, pikirannya melayang entah ke mana.
Hatinya yang sempat dibuat berbunga - bunga. Kini nampak suram dan hambar. Mungkin, memang salahnya. Berharap Sian sudah membuka hati untuknya.
Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan pria itu yang sebenarnya.
Hanya karena ia dan Sian sudah saling mengenal sejak lama, namun faktanya, mereka telah menjalani kehidupan yang tak bersinggungan dalam waktu yang lama, bukan?
Tidak ada tahu, apa arti Tri yang sebenarnya bagi Sian. Entah dulu atau sekarang?
Meski bagi Tri, Sian tetap sama 2
berartinya. Entah dulu, saat ia masih sangat kecil untuk memahami apa itu rasa suka dan cinta. Sian tetap saja Sian, pria itu sudah memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Perjalanan dari Taman Kenangan menuju rumah, terasa begitu lama. Entah karena lampu merah yang haru mereka lewati atau karena adanya kemacetan kecil di beberapa titik jalan kota Argon.
Pikiran Tri kembali terhempas ke waktu di mana ia melihat Sian dan Nisa tengah turun dari motor yang sama, di depan sebuah kafe yang sangat Tri kenal.
Kak Nisa
Tri maaf kalau kakak ganggu(emot sungkeman)
Kakak mau tanya, Tri kapan - kapan punya waktu gak? Kakak mau ngajak kamu makan siang, bisa?
Tatapan Tri kini terpaku pada layar ponselnya yang masih menyala. Deretan kalimat itu membuat Tri berpikir, apa yang membuat Nisa menghubunginya setelah sekian lama?
Tri merasa kalau dia sudah mengembalikan pakaian yang waktu itu ia pinjam dari perempuan itu.
Apa ia lupa?
Kenapa juga Nisa menghubunginya saat pikirannya akan hubungan Sian dan Nisasedang berenang - berenang di dalam kepala dan itu mengusiknya. Lalu sekarang, perempuan itu menghubunginya seperti ini?
Bagaimana ia bisa mengenyahkan pikiran dan prasangka - prasangka yang bukan - bukan akan Sian?
"Belajar! selesaikan ujian dengan baik dan berhenti overthinking Tri!"
Itu suara batinnya yang meronta - ronta untuk didengarkan.
Gadis itu nampak menghela napas. Tangannya bergerak ke atas nakas lalu meletakkan benda berbentuk pipih itu kembali ke sana. Ia belum siap untuk menerima telepon atau membalas pesan Nisa sekalipun.
Ia butuh waktu untuk berpikir. Siapa yang tahu, kalau kali ini juga merupakan kesalahpahaman lain yang terjadi di antara dirinya dan pria yang ia cintai.
***