Siapa yang akan berpikir kalau orang yang terlihat rupawan, baik, dan ramah tamah ternyata adalah orang yang paling mengerikan di topeng itu semua?
Ya, namanya juga manusia. Beberapa orang tidak pandai menilai orang lain dengan baik dan beberapa pagi karena orang tersebut terlalu pandai dalam bersikap dan berpenampilan yang menarik. Hingga mengecohkan setiap mata yang melihat dan setiap pribadi yang menilainya.
"Kau bilang kalau acaranya tidak akan memakan waktu berjam - jam, lalu tadi apa?" kesal Axen seraya mengekori seorang perempuan cantik dengan drea putih gading selutut serta wdges berukuran sedang membalut kaki putihnya.
"Berhenti mengeluh, Axenon! Aku juga tidak berpikir kalau akan berakhir di sana selama berjam - jam." Gia nampak berhenti sejenak. Langkahnya kini tepat berada di basment gedung mall Pusat kota Argon.
"Kau pikir aku mau tersenyum berlama - lama di hadapan mereka? Aku hanya ingin melakukan yang terbaik yang aku bisa. Jangan membuatku merasa bersalah, ok?!"
Axen nampak diam dan berpikir kalau - kalau perempuan di hadapannya ini sedang kerasukan atau minimal sedang tidak enak badan.
Axen mendekat dan menempelkan telapak tangannya tepat di kening Gia. Diam sejenak seraya merasakan sensasi dingin yang menjalari telapak tangannya.
"Kamu apa - apaan, sih?!" kesal perempuan itu seraya menepis tangan Axen dari keningnya dengan kuat.
Gia mendengkus sebal. Sementara Axen, pria itu nampak menatap perempuan di hadapannya dengan tatapan seperti bisasa. Datar dan minim ekspresi.
"Aku pikir kau sedang demam," ungkap Axen dengan jujur seraya melangkah berlalu meninggalkan Gia yang terpaku di sana.
Benar - benar, pria itu makin menyebalkan. Pikir Gia seraya menghela napas dalam - dalam seraya menatap punggung pria di depannya itu dengan tatapan tajam.
"Apa salahnya kalau sekali - kali aku mencoba melakukan hal - hal yang belum pernah aku lakukan?" hardiknya pada Axen yang sudah memasuki mobil lebih dulu. Gia pun membuka pintu mobil dengan kuat dan mengambil posisi duduk di samping pengemudi mobil itu.
"Tidak salah, sih. Hanya aneh bin ajaib saja." Satu hal yang ternyata tidak Gia ketahui dari sosok seorang Axen selama ini.
Pria itu ternyata oandai mendebat dan tidak kehabisan kata - kata dalam mengolok - olok orang lain.
"Apanya yang aneh, coba? Wajar dong, kalau seseoranh mau memulai kebiasaan atau hal - hal baru dalam hidupnya," gugat perempuan itu dengan menggebu dan tidak ingin kalah.
Kali ini, Axen yang menghela napas seraya mulai mengemudikan mobil yang ia kendarai, ke luar dari basement.
"Baiklah, anggap saja tidak aneh. Wajar kalo seseorang ingin berubah menjadi lebih baik," celetuk pria itu seraya tetap fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.
Bukannya mereda, Gia malah mendengkus dan kembali melayangkan tatapan permusuhannya pada pria berwajah datar di sampingnya itu.
"Kok, anggap saja, sih? Itu sama aja kamu mengalah agar aku merasa benar, bukan?"
Baiklah, Axen mulai terusik dengan sikap aneh perempuan yang kini duduk di sampingnya ini. Kenapa juga Gia tidak memilih duduk di kursi penumpang? Itu lebih baik dari pada mereka harus terlibat adu mulut seperti ini.
"Iya Gia, iya. Kamu benar dan saya salah," putus Axen seraya menoleh ke samping kanan dan menatap perempuan di sampingnya itu dengan tatapan membenarkan.
Coba, di belahan bumi manakah yang di sana tidak terdapat perempuan - perempuan yang senantiasa merasa benar?
Kalau ada, Axen ingin pindah ke sana. Setidaknya ia tidak perlu dipusingkan dengan hal - hal sepele seperti yang terjadi sebelumnya.
Sepanjang perjalanan ke luar dari mall pusat kota Argon. Axen hanya diam seraya menatap fokus ke depan. Sementara perempuan di sampingnya malah sibuk mendumel. Ia masih tak terima jika pria di sampingnya itu sengaja mengalah dan mengatakan kalau Gia yang benar.
Perempuan memang serumit itu ya?
Atau, laki - laki saja yang terlalu kaku dan tidak peka?
***
Lagi - lagi Axen diuji kesabarannya oleh perempuan gila yang akhir - akhir ini baperan itu. Siapa lagi kalau bukan Gia?
"Kita balik ke mall sebentar karena aku lupa beli sesuatu," pinta perempuan itu yang membuat Axen menghela napas berat seraya menatap perempuan itu dengan jengah.
"Memangnya tidak bisa, kalau sesuatu itu kamu beli di tempat lain saat perjalanan pulang?" nego Axen karena ia terlalu malas untuk banting stir dan kembali ke parkiran mobil. Terlebih lagi, Axen begitu malas untuk kembali ke mall dan bertemu dengan begitu banyak orang yang tidak bisa mengabaikan keberadaannya. Itu membuatnya terusik.
Bisa dikatakan hampir setiap kali, Gia mengajaknya untuk pergi ke tempat ramai seperti ini, Axen selalu menolak dan melakukan apa saja yang kiranya ia tidak musti bertemu dengan banyak orang di tempat umum.
Tapi, lagi - lagi Axen harus mengakui kekerasan kepala dan kelicikan perempuan itu yang seringkali berhasil membuatnya berakhir di tempat seperti mall.
"Aku gak bisa belinya di tempat lain dan gak bisa juga kalau dibelinya besok. Harus hari ini dan harus di sini. Kalau kamu gak mau, yaudah, aku bisa sendiri kok," putus Gia seraya ingin meninggalkan mobil.
Akan tetapi, yang namanya pria, pastilah sebagai pria, Axen memegang prinsip - prinsip dan idealismenya.
Baginya, pantang untuk meninggalkan teman atau siapapun yang perginya bersama - sama denganmu.
Karena perginya sama - sama dengan Gia. Maka, ia juga akan pulang bersama - sama dengan perempuan itu. Tidak mungkin ia meninggalkan Gia sendirian, terlepas dari Gia yang sudah besar dan dewasa.
"Gak usah. Saya bisa antar kamu balik ke mall.Tidak perlu pergi sendirian."
Seperti itulah, Axen berakhir mengalah dan menuruti kemauan perempuan egois bernama Gia.
Mobil yang Axen kendarai kembali memutar arah dan melaju menuju parkiran mobil.
Keduanya turun dari mobil setelah berhasil parkir dengan baik di sisi barat parkiran.
***
Dan kalian tahu, apa yang Axen temui setelah ia memutuskan kembali ke mall?
Ya. Kerumunan orang - orang yang mengelilinginya. Tepatnya, mengelilingi Gia yang berada bersisian dengannya.
Hal yang paling ia benci. Berada di tengah - tengah kerumunan orang - orang seperti ini.
"Kak Giaaaa aku ngefans banget sama kakak!"
"Mba Gia, mba Gia cantik banget!"
"Kak Giaaaa...Sehat selalu...!"
Di antara semua teriakan itu, tidak ada yang meneriakan nama Axen. Tidak, ia tidak sedang berharap kalau ada seseorang yang meneriakkan namanya.
Akan tetapi, ada saja yang memujinya meski mereka tidak tahu siapa Axen sebenarnya.
"Kak Giaaa bodyguard kakak ganteng banget! Apalagi kalo gak pakai masker, pasti maki. ganteng."
Huuuuuuu!
Gia, perempuan itu nampak berjalan lambat karena kerumunana orang - orang masih setia mengekorinya. Gia tersenyum dengan amat tulus seraya mengatakan terimaksih kepada mereka semua yang sudah hadir dan datang untuk dirinya.
"Semoga kalian semua juga sehat - sehat dan bahagia," ucap Gia seraya menampilkan senyuman terbaiknya.
Beruntungnya, Axen bukanlah satu - satunya bodyguard yang mengawal perempuan itu. Hanya saja yang menjadi tanggungjawabnya, ialah Gia yang berangkat ke sini bersamanya.
Sampai mereka benar - benar bisa ke luar dari kumpulan orang - orang yang mengerumuni mereka, Gia masih menyampaikan kata - kata manisnya hingga membuat beberapa penggemarnya berteriak kegirangan dan lagi - lagi memujinya.
***
Setelah selesai dengan segala pencitraan yang Gia lalukan di hadapan publik. Axen memutuskan untuk mengajak perempuan itu pulang dan segera meninggalkan tempat itu.
"Kenapa buru - buru banget, sih?" keluh perempuan dengan langkah terseok - seok mengekori Axen dari belakang.
Sementara Axen, pria itu nampak berpura - pura tidak mendengar keluhan dan protes apapun yang dilayangkan Gia saat ini.
Tatatapannya hanya tertuju ke depan. Ia melangkah dengan langkah yang besar seraya menahan diri untuk tidak mencongkel mata tiap orang yang menatapnya dengan lekat tanpa sungkan itu.
Sementara itu, di tempat yang hampir sama, seorang gadis nampak sedang berjalan seraya berbincang - bincang singkat dengan sahabat yang bersisian dengannya.
"Tau, gak? yang lagi booming sekarang, tuh, cerita apa?" tanya Kana seraya mengedarkan pandangan.
"Apa tuh? Aku udah jarang buka aplikasi Ways sih. Terakhir baca di sana, aku nungguin pembaruan ceritanya abang kamu." kementar gadis dengan wajah putih kemerahan itu seraya membenarkan rambutnya yang ke mana - mana.
"Aku terakhir baca itu, lusa kalo gak salah dan banyak banget cerita dengan tema Sugar Dady yang muncul di dinding promosi," seru Kana dengan menggebu. Sebenarnya, abangnya sudah mewanti - wanti agar dia tidak membaca cerita dengan tema - tema seperti itu. Akan tetapi, yang namanya remaja kan, penuh rasa ingin tahu yang membuncah.
"Aaaa... aku tahu, sugar daday tuh, kayak bapak - bapak atau om - om kaya yang punya simpenan, iya kan?" tebak Tri antusias karena beberapa waktu yang lalu ia pun mendapatkan notifikasi cerita semacam itu dan tentu saja ia yang penasaran mencari tahu untuk menuntaskan rasa pensarannya.
"Iya, itu. Tapi kayaknya di dunia nyata gak ada deh," ujar Kana seraya menepikan langkahnya agar tidak bertabrakan dengan kerumunan orang - orang yang entah apa yang dikerumuni.
"Mana ada, om - om tajir, ganteng, single yang mau selingkuh sama remaja labil kayak kita - kita ini. Kecuali, mereka mau memanfaatkan si cewek itu, iya gak?" celoteh Kana seraya menatap gadis yang ada di sampingnya tanpa tahu kalau di depannya ada seorang pria tinggi yang sesang berjalan tanpa memperhatikan sekitar.
Lalu... sejurus kemudian...
Bugh!
Ouchhh!!
Kana mengaduh saat keningnya tubuhnya tertabrak sesuatu yang keras. Meski tidak sampai terpental, gadis itu nampak meringis seraya mengusap keningnya.
"Maaf om, teman saya gak sengaja," ucap Tri dengan cepat seraya membantu Kana untuk beranjak dari hadapan pria dengan masker dan topi hitam yang kini nampak terdiam di tempat seraya menatap ke arah mereka dengan tatapan dingin.
"Maaf, saya gak sengaja. Sekali lagi maaf ya, om," ucap Kana seraya menundukkan wajahnya.
"Kamu." Kedua gadis itu nampak mendongak dengan takut saat pria di hadapan mereka itu membuka suara.
"I-ya, om?" ucap Kana terbata seraya menghindari tatapan pria jangkung di hadapannya itu.
"Hidung kamu," ujar Axen, pria itu menujuk ke arah wajah gadis cantik dengan hijab segi empat berwarna hitam itu, dengan ekspresi datar.
Kana dan Tri nampak bingung, tidak mengerti apa maksud perkataan pria itu. Sampai Tri yang kini menatap ke wajah Kana dengan kaget seraya berseru,
"Hidung kamu darah, Na," ucap gadis itu panik. Sementara Kana nampaj linglung.
Hingga sejurus kemudian, ia merasakan kalau sesuatu yang dingin nampak menyusuri kulit di bawah hidungnya.
"Pakai ini," tutur Axen seraya menempelkan sebuah sapu tangan yang lembut miliknya itu ke hidung gadis yang ada di hadapannya.
Kana berterimakasih seraya mengambil alih sapu tangan itu dan menahannya di hidung. Entah apa yang menyebabkan bisa mimisan seperti ini. Padahal, seingatnya, yang terbentur tadi, itu keningnya yang lebih dominan, bukan hidung.
"Ini, kartu nama saya." Axen berujar seraya menyerahkan kartu namanya kepada gadis yang ada di depannya itu.
"Kalau ada apa - apa, kamu bisa hubungi saya," ujarnya seraya menatap wajah gadis manis di hadapannya itu dengan oenuh telisik.
Kana dan Tri, keduanya mengangguk seraya mengiyakan perkataan pria yang mereka panggil dengan sebutan 'om' itu.
Sebelum Axen membuka mulut untuk bertanya, suara seorang perempuan yang tak asing di telinganya, tiba - tiba terdengar dan mengintrupsinya.
"Aku cariin ke mana - mana, kamu gak berniat ninggalin aku sendirian di sini, kan?" serbu Gia dengan menggebu saat ia mendapati Axen tengah melipir tak jauh dari sebuah toko sepatu dengan dua remaja yang membersamainya.
"Ayo, pulang," ajak Axen pada Gia seraya berlalu meninggalkan Kana dan Tri yang terpaku menatap kepergian dua orang dewasa itu dengan tatapan cengo.