Saat kamu berhasil mengingat beberapa hal dalam hidupmu dan itu berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Maka ingatlah, bahwa ada peran hipokampus di dalamnya. Ada bagian dari dalam otakmu yang bekerja keras untuk melakukan itu.
Otak berbentuk lateral dan simetris, dan setiap manusia sebenarnya memiliki dua hipokampus, yaitu kanan dan kiri. Keduanya terletak tepat di atas setiap telinga dan sekitar satu setengah inci di dalam kepala. Fungsi utama hippocampus adalah untuk pembelajaran dan penyimpanan serta pengolahan memori jangka panjang.
Lalu, bagaimana bisa kamu mengingat seseorang di masa lalu dengan hanya menatap ke dalam manik matanya?
"Kamu ngeliatin apaan sih, dari tadi natap ke luar mulu?" tanya seseorang yang berdiri di samping gadis dengan khimar segi empat yang yang membalut wajah hingga menutupi dadanya.
Kana, gadis yang ditanya itu nampak menoleh ke arah sahabatnya.
"Enggak apa - apa kok, hehe," ucapnya seraya menggelengkan kepala pelan.
Mereka sedang menghadiri acara meet and greet salah satu penulis favorit yang mereka idolakan sejak Sekolah Menengah pertama.
Mereka bahkan rela mengantri berjam - jam untuk mendapatkan tempat dan bisa melihat penulis favorit mereke dari jarak yang cukup dekat.
"Abis ini kita makan sama maen, setuju?" usul seorang gadis cantik di samping Kana itu dengan antusias.
Kana mengangguk setuju. Lalu keduanya tersenyum seraya kembali menatap ke depan. Di mana beberapa penulis terbaik di negeri Krypton sesang berkumpul dan bercerita mengenai buku - buku mereka yang baru dan yang akan rilis dalam waktu dekat.
Mereka berjalan meninggalkan tempat itu. Karena beberapa menit yang lalu, sebagian penulis yang datang sudah berlalu satu persatu. Hari sudah mulai siang, beberapa pengunjung pun sudah mulai membubarkan diri.
Rangkaian acara Meet and Greet itu sudah berakhir dengan meriah dan penuh euforia.
"Nanti aku mau tanya sesuatu sama kamu, boleh ya?" Tri, gadis dengan kulit seputih salju itu nampak bergumam di samping sahabatnya.
Kana menoleh, "Mau tanya apa?" tanya gadis itu balik karena penasaran, apa yang membuat Tri sampai rela mengajaknya ke mall padahal dan menghadiri acara yang Kana sukai.
Kalau Tri bilang, dia juga ingin menghadiri acara Meet and Greet beberapa penulis terkenal di negeri Krypton, itu karena mereka sama - sama mengikuti eskul Pecinta Literasi, rasanya itu bukan alasan yang sebenarnya.
"Soal bang Sian?" tebak Kana tepat sasaran, karena setelah mendengar pertanyaan Kana barusan, Tri nampak terdiam dan salah tingkah.
Kana tersenyum seraya menaik-turunkan alisnya. Sementara Tri, gadis itu nampak meringia seraya menganggukkan kepala pelan.
"Aku bakalan jawab apa yang aku tahu dan sebalinya, apa yang aku gak tahu aku skip, ya?" ungkap Kana yang membuat Tri merasa senang.
Mereka kembali berjalan beriringan mengitari beberapa tempat perbelanjaan baju dan sepatu. Padahal, niat awal mereka mau makan siang.
"Kita langsung nyari tempat makan aja, yuk!" ajak Kana pada sahabatnya itu. Selain karena Kana tidak berniat berbelanja, ia juga tahu diri kalau uang jajannya tidak boleh ia hambur - hamburkan untuk membeli barang yang tidak begitu ia butuhkan dalam waktu dekat.
Sementara Tri, gadis itu nampak antusias melihat deretan sepatu dengan berbagai mode dan warna. Entah di rumahnya sudah ada berapa sepatu, namun entah kenapa ia selalu tertarik untuk membeli benda yang satu itu.
"Aku beliin kamu satu, ya," ujar Tri antusias mengajak sahabatnya itu berkeliling mencari sepatu di rak berikutnya.
Sementara itu, Kana nampak tidak enak hati kalau mengajak sahabatnya itu untuk segera berlalu dari toko sepatu yang sesang mereka datangi. Akan tetapi, Kana juga tidak mau menerima tawaran sahabatnya itu begitu saja.
Sejak awal, ia berteman dengan Tri, itu murni karena gadis itu baik dan juga satu frekuensi dan nyambung saat mereka mengobrol akan banyak hal. Bukan karena Tri anak orang kaya yang serba ada, atau karena gadis itu punya wajah cantik dan mempesona.
"Menurut kamu, yang ini bagus gak?" tanya Tri antusias menunjukkan sepatu yang barusan ia pilih.
"Bagus, kayaknya cocok di kaki kamu. Cobain deh," komentara Kana secara mentap sepatu sneakers berwarna putih dengan lis abu yang ada di tangan sahabatnya itu.
Tri nampak tersenyum seraya melepaskan sepatu kets yang dikenakannya saat itu dan mencoba mengenakan sepatu yang baru saja dipilihnya.
Sejurus kemudian, gadis itu nampak memkik senang seraya menatap ke standing mirror yang ada do hadapannya itu.
"Beneran cocok banget, Na," komentar gadis itu seraya bergerak ke sana ke mari dan menatap ke ujung sepatu yang ia kenakan.
Kana tersenyum senang. Syukurlah sahabatnya itu segera menemukan sepatu yang cocok. Karena selera mereka sama, jadinya Tri merasa terbantu sekali kalau ia berbelanja bersama dengan Kana. Sayangnya, Kana sering menolak ajakannya. Ini pun adalah kali kedua mereka bisa pergi bersama - sama seperti ini.
"Kamu beli satu yang ini juga, gimana? Biar kita couplan. Mau ya?" desak gadis dengan rambuh sebahu itu seraya menggoyangkan lengan sahabatnya. Sementara Kana, ia hanya meringis pelan seraya bingung bagaimana menolak tawaran sahabatnya itu tanpa membuatnya tersinggung.
Kana tidak mau terlalu sering menerima pemberian Tri. Meski ini kali pertama gadis itu membelikan barang untuknya. Tapi tetap saja, Kana tidak enak hati. Di sekolah, sahabatnya itu bahkan terlalu sering mentraktirnya jajanan di kantin. Hampir setiap hari Kana menolak tapi tetap berakhir menerima pemberian sahabatnya itu karena kata Tri, gak baik nolak kebaikan dan pemberian orang lain ke kita.
"Kayaknya nanti aja deh, Tri. Aku mau nabung dulu. Nanti kalo udah cukup, kita ke sini lagi aja, gimana?" usulnya seraya menatap sahabatnya itu dengan tersenyum kaku.
Tri, gadis itu nampak berpikir seraya menatap sepatu yang ada di tangannya saat ini. Ditatapnya label harga yang melekat pada sepatu itu.
Dua ratus sembilan puluh sembilan ribu.
Akhirnya, setelah berpikir cukup lama. Tri memutuskan untuk tidak jadi membeli sepatu itu.
"Yaudah deh, aku nanti aja juga belinya. Biar barengan."
Kana kaget mendengar penuturan sahabatnya itu. Seketika ia merasa tidak enak harus membuat Tri mengurungkan niatnya untuk membeli sepatu itu. Padahal, sebelumnya gadis itu sangat senang dan antusias saat mengenakan sepatu itu di kakinya.
Kana berpikir sejenak lalu memutuskan untuk berubah pikiran.
"Aku rencananya mau beliin kamu loh, Na. Tapi takut, nanti kamu gak mau dan nganggep aku gimana - gimana gitu. Aku cuma pengen kita punya barang yang sama yang bisa kita pake ke sekolah bareng."
Tri curhat seraya menatap sneakers ditangannya itu dengan tatapan sendu.
"Yaudah, gimana kalau aku minjem duit kamu. Nanti aku balikinnya nyicil, boleh? Gak enak kalau kamu beliin gitu aja," cicit gadis itu seraya menatap sahabatnya dengan canggung.
"Beneran mau?!" pekik gadis itu kegirangan, membuat beberapa orang yang ada di toko itu menatap ke arah mereka.
Kana sontak langsung berdeSsstttt ria dengan jari telunjuk dilentakkan ke bibirnya.
Seketika Tri langsung menuntup mulutnya dengan telapak tangan lalu nyengir kuda seraya bergegas mengajak Kana memilih satu sepatu yang dengannya dan dengan ukuran yang sama pula.
Bagi Kana Tri itu gadis yang baik, bahkan terlalu baik. Kana kadang berpikir kalau gadis itu bisa saja dimanfaatkan orang lain.
Bagaimana tidak, Triana, atau yang selalu Kana panggil dengan Tri itu bahkan tidak segan - segan ingin meminjamkan Kana uang atau bahkan memberinya secara cuma - cuma. Kana tahu Tri kaya dan punya segalanya, tapi bagi Kana Tri murni melakukannya karena memang gadis itu baik dan juga polos.
"Abis ini kita mau ke mana?" tanya Tri seraya menenteng belanjaannya dengan wajah sumringah.
Kana, gadis itu nampak ikut senang. Karena sebelumnya sahabatnya itu sempat murung karena ia menolak tawarannya untuk membeli sepatu yang sama.
"Tau, gak? yang lagi booming sekarang, tuh, cerita apa?" tanya Kana seraya mengedarkan pandangan.
"Apa tuh? Aku udah jarang buka aplikasi Ways sih. Terakhir baca di sana, aku nungguin pembaruan ceritanya abang kamu." kementar gadis dengan wajah putih kemerahan itu seraya membenarkan rambutnya yang ke mana - mana.
"Aku terakhir baca itu, lusa kalo gak salah dan banyak banget cerita dengan tema Sugar Dady yang muncul di dinding promosi," seru Kana dengan menggebu. Sebenarnya, abangnya sudah mewanti - wanti agar dia tidak membaca cerita dengan tema - tema seperti itu. Akan tetapi, yang namanya remaja kan, penuh rasa ingin tahu yang membuncah.
"Aaaa... aku tahu, sugar daday tuh, kayak bapak - bapak atau om - om kaya yang punya simpenan, iya kan?" tebak Tri antusias karena beberapa waktu yang lalu ia pun mendapatkan notifikasi cerita semacam itu dan tentu saja ia yang penasaran mencari tahu untuk menuntaskan rasa pensarannya.
"Iya, itu. Tapi kayaknya di dunia nyata gak ada deh," ujar Kana seraya menepikan langkahnya agar tidak bertabrakan dengan kerumunan orang - orang yang entah apa yang dikerumuni.
"Mana ada, om - om tajir, ganteng, single yang mau selingkuh sama remaja labil kayak kita - kita ini. Kecuali, mereka mau memanfaatkan si cewek itu, iya gak?" celoteh Kana seraya menatap gadis yang ada di sampingnya tanpa tahu kalau di depannya ada seorang pria tinggi yang sesang berjalan tanpa memperhatikan sekitar.
Lalu... sejurus kemudian...
Bugh!
Ouchhh!!
Kana mengaduh saat keningnya tubuhnya tertabrak sesuatu yang keras. Meski tidak sampai terpental, gadis itu nampak meringis seraya mengusap keningnya.
"Maaf om, teman saya gak sengaja," ucap Tri dengan cepat seraya membantu Kana untuk beranjak dari hadapan pria dengan masker dan topi hitam yang kini nampak terdiam di tempat seraya menatap ke arah mereka dengan tatapan dingin.
"Maaf, saya gak sengaja. Sekali lagi maaf ya, om," ucap Kana seraya menundukkan wajahnya.
"Kamu." Kedua gadis itu nampak mendongak dengan takut saat pria di hadapan mereka itu membuka suara.
"I-ya, om?" ucap Kana terbata seraya menghindari tatapan pria jangkung di hadapannya itu.
"Hidung kamu," ujar Axen, pria itu menujuk ke arah wajah gadis cantik dengan hijab segi empat berwarna hitam itu, dengan ekspresi datar.
Kana dan Tri nampak bingung, tidak mengerti apa maksud perkataan pria itu. Sampai Tri yang kini menatap ke wajah Kana dengan kaget seraya berseru,
"Hidung kamu darah, Na," ucap gadis itu panik. Sementara Kana nampaj linglung.
Hingga sejurus kemudian, ia merasakan kalau sesuatu yang dingin nampak menyusuri kulit di bawah hidungnya.
"Pakai ini," tutur Axen seraya menempelkan sebuah sapu tangan yang lembut miliknya itu ke hidung gadis yang ada di hadapannya.
Kana berterimakasih seraya mengambil alih sapu tangan itu dan menahannya di hidung. Entah apa yang menyebabkan bisa mimisan seperti ini. Padahal, seingatnya, yang terbentur tadi, itu keningnya yang lebih dominan, bukan hidung.
"Ini, kartu nama saya." Axen berujar seraya menyerahkan kartu namanya kepada gadis yang ada di depannya itu.
"Kalau ada apa - apa, kamu bisa hubungi saya," ujarnya seraya menatap wajah gadis manis di hadapannya itu dengan oenuh telisik.
Kana dan Tri, keduanya mengangguk seraya mengiyakan perkataan pria yang mereka panggil dengan sebutan 'om' itu.
Sebelum Axen membuka mulut untuk bertanya, suara seorang perempuan yang tak asing di telinganya, tiba - tiba terdengar dan mengintrupsinya.
"Aku cariin ke mana - mana, kamu gak berniat ninggalin aku sendirian di sini, kan?" serbu Gia dengan menggebu saat ia mendapati Axen tengah melipir tak jauh dari sebuah toko sepatu dengan dua remaja yang membersamainya.
"Ayo, pulang," ajak Axen pada Gia seraya berlalu meninggalkan Kana dan Tri yang terpaku menatap kepergian dua orang dewasa itu dengan tatapan cengo.