Menjelang hari wisudanya, Sian nampak disibukkan dengan beberapa aktivitasnya yang membuatnya harus ngampus untuk mengurus beberapa hal dan juga pergi ke beberapa tempat untuk menyiapkan bebeeaoa hal yang penting untuk persiapan wisudanya yang tinggal menghitung hari.
Lupakan soal misinya dengan Arsen. Karena sebelum wisudanya dilaksanakan, Sian audah berusaha dan melakukan yang terbaik yang ia bisa untuk misi besarnya bersama Arsen. Bahkan ia harus menerima banyak konsekuensi dari tindakan yang berisiko yang ia dan Arsen lakukan sebelumnya.
Seperti hari ini, Rama dan Reno mengajaknya untuk kumpul di kafe Uno untuk merayakan keberhasilan Sian menyelesaikan skripsi dan dapat diwisuda dalam wakti dekat ini.
Meski Sian merasa tidak enak hati karena kedua sahabat baiknya itu tidak berada dalam pencapaian yang sama. Tetap saja ia harus menghadiri pertemuan itu. Selain karena bertepatan dengan hari ulang tahun Rama, pertemuan mereka nantinya juga akan membahas persoalan asmara dari Reno.
Entah ada angin apa yang membuat sahabatnya itu mau membicarakan perihal kisah asamaranya pada Sian dan Rama.
"Abang kayaknya pulang agak telat, soalnya mau ketemu Reno sama Rama di kafe, bu," ujar Sian seraya mengambil satu buah pir segar dari keranjang buah di meja makan.
Pagi ini, bu Amina nampak sedang membersihkan kumpulan sayuran pakis dari baskom yang ada di hadapannya.
"Iya gapa-pa asal nanti kabarin ya, bang," balas bu Amina seraya mengumpulkan bagian - bagian sayuran pakis yang tidak dibutuhkan.
Sian mengangguk seraya ingin menyalimi tangan sang ibu.
"Abang udah mau berangkat?" tanya bu Amjia seraya mengulurkan punggung tangannya.
Sian mengangguk mengiyakan. "Janjiannya jam sembilan bu, ini udah setengah sembilan. Sekalian Sian mau mampir ke butik yang kemarin," ungkapnya seraya mengunyah buah pir yang barusan ia gigit untuk kesekian kalinya.
"Tapi abang belum sarapan loh. Kalau gitu bikinu roti isi keju sama telor aja, ya," ujar bu Amina seraya ingin bangkit dari kursi, namun dicegah oleh putranya.
"Gak usah, bu. Sian makan buah aja, nanti waktu makan siang Sian udah di rumah, insyaaAllah."
Sian tidak ingin membuat ibunya kerepotan membuatkan sarapan untuknya. Ia tahu, ibunya pasti kelelahan setelah bekerja. Ingin sekali ia mengatakan kalau ia sudah tahu bahwa ibunya diam - diam bekerja menjadi tukang cuci di rumah tetangga. Ingin sekali Sian mengatakan pada ibunya, kalau ia tidak suka melihat ibunya kelelahan karena bekerja.
Tapi, berkali - kali juga ia mengurungkan niatnya. Selain karena sang ibu sengat bahagia bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk membiayai anak - anaknya, Sian juga tidak tega untum mengatakannya. Di aaat sang ibu menyembunyikannya dari Sian dengan rasa cemas dan was - waa, bagaimana bisa ia malah mengatakan semuanya.
"Ibu jangan kecapekan. Beres - beres rumahnya nyuruh adek - adek aja. Ibu juga jangan lupa sarapan. Jangan terlalu sibuk masak dan beres - beres, ibu jadi lupa makan," tutur Sian seraya mengusap pelan punggung tangan ibunya.
Ia bertekad untuk kembali bekerja di kafe Uno dan segera menyelesaikan studi S1nya dan juga naskah novel yang berpotensi menghasilkan pundi - pundi uang.
Memang begitu banyak goals yang ingin Sian capai dalam waktu dekat. Meski tidak semuanya berpotensi dapat terwujud dalam waktu dekat, akan tetapi ia tetap optimis. Bahwa selagi ia berusaha dan berdoa yang terbaik yanh ia bisa, maka akan ada jalan untuk menuju kesuksesan yang ingin diraihnya. Kalau pun tidak, Sian yakin ada rencana yang lebih baik yang Allah tetapkan untuknya.
***
Sian, itu ada pelanggan! kamu kenapa bengong? cepat layani!" Sian meminta maaf kepada sang bos sebelum berlalu menghampiri sang pelanggan.
"Ada yang bisa saya bantu, Mba?" tanya Sian sopan dan perempuan yang dipanggil mbak itu langsung menoleh dan,
"Kak Sian!" pekik perempuan itu antusias sampai matanya sudah berkaca-kaca. Apa ia menangis?
"Kakak tau gak?--
"Enggak!" potong Sian cepat.
"Ih jangan di jawab dulu! Tri belum selesai ngomongnya!" kesal perempuan bernama Tri itu pada Sian yang hanya tersenyum aneh.
"Aku pembaca setia kak Lho! Aku suka sama cerita Kakak yang judulnya My Little Girl itu. Aku selalu bayangin kalo aku yang jadi Celia, lalu Kakak yang jadi Revannya. Kayaknya kita cocok deh Kak!" Jelas Tri dengan menggebu-gebu dan mata yang berbinar-binar senang.
Sian tak habis pikir. Dari mana asal gadis ini? Kenapa dia tiba-tiba datang ke sini dan dengan tidak tau malunya mengatakan kalau ia ingin menjadi pasangan Sian, seperti di dalam cerita yang Sian buat. Tidakkah tingkahnya terlalu nyentrik?
"Ka-kamu mau pesan apa?" tanya Sian ragu, kalau kalau gadis itu hanya datang untung mengatakan hal konyol tadi dan tak berniat memesan apapun.
"Aku gak mau pesan apa-apa kok. Cuma mau ketemu sama mandangin muka kakak aja. Heheh" Tuh kan! apa Sian bilang. Gadis ini benar-benar aneh yang konyol.
Baiklah, Sian harus bersabar dan tak boleh marah-marah apalagi mengusirnya. Sebab ia akan kehilangan pelanggan bahkan pekerjaan jika itu terjadi.
"Adek siapa namanya tadi? Ah Tri! Adek Tri, kakak boleh mintak tolong gak?" Tanya Sian dengan wajah serius.
"Boleh dong kak. Boleh banget malah!" Jawab gadis itu dengan senang hati.
"Kalau adek gak beli apa-apa, mending minggir! Kakak mau layanin pelanggan, Oke?!" Sarkas Sian yang hanya tanggapi dengan senyuman Tri.
"Oh silahkan Kak! Tapi, Tri boleh bantu Kakak, gak?" Oh ayolah! kenapa gadis ini tak mengerti juga? apa ia harus mengusirnya dengan terang-terangan? tapi Sian tak akan tega untuk melakukan itu.
"Ya sudah, terserah kamu deh!" Akhirnya Sian tak ambil pusing, ia tak peduli gadis itu akan berpikiran seperti apa.
"Ih Kakak kok kayak cewek sih?" Sian memgernyitkan kening tanda tak setuju sekaligus bingung. Apa maksud gadis yang ada di hadapannya ini?
"Iya kayak cewek! cewek kan sukanya bilang ter-se-rah! Haahaha iya kan Kak?"
Masa bodoh! Sian benar-benar stres akhir-akhir ini. Lalu gadis dari antah berantah ini datang dan menambah kestresannya.
"Damas!"
"Siaan?"
"Wah, parah nih, anak," Rama yang gemas karena sahabatnya yang ada di sampingnya saat ini nampak tidak merespon saat ia, Reno dan Nisa memanggil namanya secara bergantian, terpaksa ditepuknya bahu Sian dengan cukup kuat. Hingga sang empunya terperanjat dan menatap ke sekelilingnya dengan bingung.
"Apaan sih, Ram?!" sewot Sian kesal seraya mengusap bahunya. Rasa sakitnya gak seberapa, rasa kagetnya itu yang membuat Sian sebal.
"Harusnya kami yang nanya begitu, ya! Lo kenapa dari tadi melamun sambil ngeliat ke depan. Senyam - senyum gak jelas kayak orang kesurupan," gemas Reno seraya menatap sahabatnya itu dengan wajah tak habis pikir.
Kenapa sahabatnya itu nampak memikirkan sesuatu. Padahal raganya di kafe tapi pikirannya entah ke mana.
Sian nampak terdiam sejenak seraya menatap ketiga sahabatnya itu dengan meringis pelan.
Aneh memang. Sian seolah kembali ke masa di mana ia dan gadis yang disukainya itu bertemu. Entah dari mana datangnya, tai gadis itu seolah bagaikan magnet bagi Sian.
Perlahan - lahan Sian menolaknya sekuat tenaga, namun yang namanya magnet, makin ditolak malah makin ingin dekat.
Seiring berjalannya waktu, Sian tidak mampu lagi menolah tarikan magnet itu. Ia seolah tertarik dan terjerat dalam kutub magnet yang gadis itu punya.
"Jangan bilang, lo tadi nostalgia saat - saat ketemu sama si cewek... siapa tuh? anak SMA yang tergila - gila sama Sian?" Rama bekomentar seraya bertanya pada seseorang di sampingnya, Reno.
Sementara Reno, pria itu hanya bisa mengedikkan bahu tanda bahwa ia juga tidak tahu, siapa yang Rama maksud.
Sampai seorang perempuan di antara mereka bertiga, membuka suara.
"Tri?" ucap Nisa seraya meraih gelas milkshake cokelat yang ada di hadapannya.
"Ah iya, Tri apa gitu namanya." Rama berseru seraya menjentikkan jarinya di hadapan Sian.
Sian hanya bisa bungkam seraya mengedarkan tatapannya ke sembarangan arah kecuali pada ketiga sahabatnya itu.