Semalaman, Axen memilih untuk tidak tidur. Sejak pertemuannya dengan gadis bermata sendu dan wajah yang cantik serta lugu di mall waktu itu.
"Kau yakin, tidak apa - apa?" sejak tadi siang Axen nampak diam dengan wajah yang nampak memikirkan sesuatu. Gia merasa heran dan bingung. Apa yang menyebabkan Axen seperti itu?
Apa pria itu masih kesal karena ia paksa kembali ke mall tadi siang?
Atau Axen... Kerasukan?!
Pikiran Gia sudah ke mana - mana kalau saja Axen tidak mengatakan kalau pria itu teringat akan sesuatu.
"Kenapa?... Kamu tak sengaja melihat kekasihmu? hah?" demo Gia seraya duduk di hadapan benda berbentuk kotak dengan secangkir Coffe late di samping laptop yang ia letakkan di meja.
Sementara itu, Axen nampak masih terdiam tidak mau repot - repot menjelaskan kepada perempuan yang duduk di sofa tak jauh darinya.
Setelah menimbang beberapa saat, Axen memutuskan untuk mengusap layar ponselnya ke atas. Layar benda berbentuk kotak itu nampak menampilkan figur seorang gadis kecil cantik dengan mata yang sendu. Foto yang diambilnya kurang lebih lima tahun yang lalu.
Ditatapnya layar benda berbentuk pipih itu seraya mengingat kembali kenangan di masa itu. Hatinya terasa mencelus saat ia benar - benar menyadari dan yakin kalau gadis yang ditemuinya di mall tadi siang, adalah orang yang sama dengan gadis kecil yang nampak sedang tersenyum yang menjadi home screen ponselnya.
"Itu remaja yang di mall tadi siang, kan?" komentar Gia seraya ikut menatap layar ponsel Axen yang nampak menyala dan menampilkan figur seorang gadis kecil yang tersenyum manis.
Axen sontak terperanjat dan mengambil jarak dari perempuan itu.
"Kamu ngapain lihat - lihat layar ponsel saya?!" sengit Axen seraya menjauhkan benda berbentuk pipih itu. Gia mencebikkan bibir seraya mendengkus kuat.
"Biasa aja kali. Memangnya saya ngutak - ngatik ponsel kamu apa? Orang cuma liat, kok," sewot Gia seraya kembali ke posisi duduknya seperti semula, menghadap sebuah benda berbentuk kotak yang layarnya menyala dan menampilkan draft novel yang sedang ia tulis.
Axen nampak kembali menatap layar ponselnya. Dalam hati ia mengumpati dirinya sendiri, kenapa juga ia tidak meminta kontak ponsel gadis itu.
Tanpa sadar ia meringis pelan. Membuat Gia merasa terusik karena untuk pertama kalinya ia melihat seorang Axen nampak uring - uringan dan memikirkan sesuatu sebegitunya.
"Kamu ngapain nyimpan foto remaja asing yang baru kamu temui? Dan yang paling penting, kok bisa kamu punya fotonya?" Baiklah, anggap saja Gia keppo dan usil dengan urusan Axen kali ini. Akan tetapi, ia benar - benar tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Pasalnya, seorang Axen tidak pernah menceritakan apapun yang berhubungan dengan perempuan.
Sependek pengetahuan Gia akan rekan kerja samanya dalam dunia literasi, itu, Axen bahkan tidak pernah dekat dengan perempuan manapun dan dengan jenis serta tipe yang bagaimana pun.
"Bagaimana bisa kamu berpikir kalau gadis yang ada di sini, itu, gadis yang sama dengan yang ada di mall tadi siang?" tanya Axen penasaran, karena Gia nampak yakin sekali kalau apa yanh Axen pikirkam itu ternyata benar adanya.
Gia nampak berpikir sejenak sebelum melemparkan jawaban yang terdengar menyebalkan.
"Aku gak pernah tau tipe perempuan yang kamu sukai seperti apa. Tapi...." Gia menjeda kalimatnya lalu mengambil posisi duduk menghadap Axen dan dengan tatapan yang serius.
"Janganlah jadi p*****l," lanjut perempuan itu seraya menatap pria yang ada di hadapannya dengan serius.
Meski Gia bukan orang baik - baik, tapi tetap saja. Gia juga perempuan dan ia tidak tega kalau seorang gadis kecil ya g manis itu harus menjadi incaran seorang Axen.
"Jangan sembarangan menyimpulkan!" tegas Axen seraya menatap perempuan yang ada di ujung sofa yang ia duduki itu dengan tatapan mata yang tajam.
Sepertinya menginap di apatemen Gia adalah keputusan yang salah. Sayangnya, Axen terlalu malas untuk kembali ke apartemennya karena di sana tidak ada siapa - siapa dan dia juga malas baranh untuk menyeduh teh sekalipun, meskipun ia ingin meminumnya.
"Saya tanya, kenapa kamu yakin sekali kalau gadis yang ada di mall dan gadis yang ada di foto home screen ponsel saya, itu adalah orang yang sama?" desak Axen karena merasa penasaran kenapa Gia menebak kalau gadis manis yang mereka temui tadi siang adalah gadis yang sama dengan yang Axen temui beberapa tahun yang lalu.
"Siapapun yang liat mereka, bakalan bilang hal yang sama kok. Bedanya cuma..." Gia nampak berpikir sejenak seraya mengetukkan jari di atas kursor laptopnya.
Axen menunggu dengan wajah serius.
"Coba, aku liat lagi fotonya," pinta Gia seraya mengulurkan telapak tangan. Axen mendengkus seraya terpaksa menyerahkan benda berbentuk pipih miliknya itu.
Gia, perempuan itu mulai menganalisis wajah gadis kecil yang menjadi home screeen ponsel Axen.
Iris mata yang sama, kecokelatan. Lalu, tatapan mata gadis itu juga sama dengan gadis yang mereka temui tadi siang. Tatapan mata yang sendu yang membuat orang yang menatapnya akan merasa ingin melindunginya. Lalu alis tipis yang terbingkai di atas pelipis. Rasanya tidak ada yang berbeda jauh. Hanya saja, ukuran tubuh yang tentu saja bertambah tinggi.
"Fix!" seru Gia seraya menyerahkan ponsel milik Axen.
"Fix apanya?" tanya Axen gemas karena Gia hanya mengatakan satu kata itu tanap penjelasan lebih lanjut.
"Fix. Mereka orang yang sama. Cuma bedanya, gadis itu sudah tumbuh menjadi remaja yang lebih manis dan.. juga lebih tinggi tentunya.
Memangnya dia siapa sih? Kok kamu gak pernah cerita apa - apa sebelumnya? Memangnya kalian saling kenal? Punya hubungan saudara? atau-,"
"Stop!" Axen berujar dengan tegas seraya menatap Gia dengan dingin.
Sejak kapan Axen mau menceritakan apa - apa tentangnya kepada Gia? Mereka tidak sedekat itu, jadi untuk apa juga Axen menceritakan apa - apa yang dianggapnya spesial.
"Terimakasih untuk analisis dan pendapatnya.Tapi kita tidak sedekat itu, untuk saling bertukar cerita hidup satu sama lain," ucapnya dengan pelan namun menusuk jantung si pendengarnya.
Gia kesal bukan main. Tapi, apa yang dikatakan Axen tidaklah salah. Karena memang sejak awal, mereka hanya bekerjasama untuk kepentingan kelompok khusus dan tidak melibatkan kepedulian akan kehidupan priadi masing - masing pihak.
Sementara Axen, pria itu nampak beranjak dari sofa. Melangkah menuju balkon apartemen Gia dan menatap langit malam yang nampak gelap gulita, namun indah karena hiasan lampu yang tersebar di penjuru kota Argon.
Pikirannya melayang jauh ke beberapa tahun yang lalu. Waktu di mana ia bertemu dengan gadis kecil, manis dan ringkih yang membuat jiwa ingin melindunginya selalu tergugah.
Motor berwarna hitam yang dikendarai oleh seorang pria itu terlihat melaju begitu cepat di bawah guyuran hujan deras yang mulai mereda perlahan. Hingga di satu titi jalan, pria itu tidak menyadari kalau ada orang gila yang menari - nari di jalan raya.
Sayangnya, ia terlambat untuk mengontrol laju kendaraannya hingga berakhir dengan ia yang menekan pedal rem dengan sekuat tenaga seraya membanting stang motornya ke sisi kanan jalan agar tidak mengenai objek yang kini terlihat memekik saat bunyi gesekan kuat antara ban motor dan aspal. Hingga terdengar decitan keras lalu disusul dengan dentuman kuat setelahnya.
Gadis kecil itu nampak terkapar di bawah tetesan hujan yang masih setia berjatuahn membasahi bumi kota Argon.
Matanya terpejam dan beberapa bagian tubuhnya terluka karena bersentuhan dengan kerasnya aspal jalanan kota dan hantaman ujung sepeda motor yang melaju kencang ke arahnya.
Sementara itu, seorang laki - laki dengan kaki terseok - seok itu nampak menahan perih luka yang nampak mengoyak jaringan luar kulitnya hingga menyebabkan darah keluar secara perlahan.
Ditatapnya gadis kecil yang kini tergeletak tak jauh darinya. Tidak ada pergerakan sama sekali. Gadis itu tampaknya pingsan tak sadarkan diri.
Laki - laki nampak panik. Ia bahkan mengabaikkan luka yang dialaminya lalu menghampiri gadis itu dengan langkah yang terseok - seok dan tertatih - tatih.
Diangkatnya kepala gadis itu lalu diletalkan di atas pangkuannya, seraya menepuk pipi halus yang belum terkontaminasi oleh produk kecantikan atau produk skincare apapun. Halus dan bersih alami.
"Hei, bangun!" ucap Axen, ia berkali - kali menepuk pipi gadis itu dengan tangan gemetar dan tetesan hujan yang mengucur dari wajah hingga dagunya lalu jatuh ke wajah gadis itu.
Gadis itu tak kunjung memberikan respon yang berarti. Nampaknya ia resmi pingsan. Akan tetapi, Axen tak menyerah. Ia memutuskan untuk membawa gadis itu dalam pangkuan tangannya.
Meski susah payah dan harus meringis karena menahan sakitnya luka yang ada di sekujur tubuhnya. Axen berhasil membawa gadis itu menjauh dari jalanan.
"Udah tengah malam! Ngapain di balkon coba? Masuk gak?!"
Tiba - tiba saja lagi - lagi Axen merasa kalau keputusannya untuk menginap di sini adalah sebuah kesalahan.
Lihatlah, perempuan menyebalkan itu menyembulkan kepalanya dari balin pintu balkon seraya berujar dengan geram.
Bagaimana tidak, Gia sudah takut kalau - kalau Axen kerasukan karena tingkahnya makin ke sini makin aneh. Lebih - lebih ketika ia melihat Axen berdiri di sisi pagar balkon seraya menatap langit. Tidakkah kelakukan Axen terlalu creepy?
"Masuk atau kamu tidur di balkon?!" ancam Gia dengan wajah dingin sekaligus geram karena Axen tak kunjung beranjak dari sana.
"Iyaiya. Saya masuk," balas Axen datar seraya melangkah masuk dan dengan cepat, Gia menutup pintu ke balkon itu dengan pelan dan mengincinya dengan rapat. Tak lupa ia menarik gorden untuk menutupi pintu kaca itu.
Malam ini, Axen tidur di sofa seperti malam sebelumnya. Ia nampak bergerak ke sana ke mari. Bahkan setelah berbaring pun, matanya enggan terpejam. Pikirannya enggan istirahat dari memikirkan gadis itu.
Bagaimana kalau gadis itu tidak menghubunginya? Pikirnya cemas seraya meringis dalam hati.
Bodoh! Kenapa tidak kau minta nomor ponselnya! umpatnya pada diri sendiri.
Kalau memang pertemuannya dengan gadis bermata sendu itu hanya sesederahana karena insiden kecelakaan yang mereka alami beberapa tahun yang lalu. Barangkali, Axen tidak akan memikirkan gadis itu sebegininya.
Karena pada kenyataannya, gadis kecil itu pernah menyelamatkan hidupnya. Ya, setelah kecelakaan itu, ia bertanggungjawab membiayai pengobatan dan juga menyatakan permintaan maaf secara resmi kepada ibu gadis itu.
Tapi siapa sangka, saat paling terpuruk Axen, ia hampir mengakhiri hidupnya berkat jalan terjal dan duri yang seoalah menempelinya sepanjang ia hidup. Tidak mudah baginya bertahan dengan kenyataan pahit yang berulang.
"Ingat! Om adalah orang baik. Om gak boleh berhenti berbuat baik! janji?" ujar seorang gadis kecil dengan perban menutupi keningnya seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari kelingkingnya di hadapan Axen.
Ingatan itu berhasil membuatnya terjaga. Pikirannya seolah belum ingin beristirahat. Sementara hatinya, hatinya meronta - ronta menahan rindu yang sekian lama berada di dalam sana.
"Om hanya butuh satu alasan kan?" tanya gadis kecil yang wajahnya sudah merah karena habis menangis.
"Om hanya butuh satu alasan untuk tetap hidup, kan? Kalau om bahkan gak bisa hidup dengan alasan untuk diri om sendiri, lalu.." Perkataan gadis itu tercekat, air matanya kembali bercucuran membasahi pipi tembam yang lucu itu.
"La-lu... bisa gak om hidup dengan alasan agar kita bisa ketemu suatu saat nanti? Agar om bisa nepatin janji om yang belum bisa km tepati sekarang?"