Seperti biasa, setelah makan malam, maka piring kotor yang ada akam segera dicuci oleh Kana. Sementara kedua adiknya hanya akan membantu beberapa pekerjaan ringan seperti meletakkan piring ke wastafel dan juga mengelap meja makan agar tetap bersih.
"Lain kali, kalau memang lagi capek atau lagi mager, gapapa kok, Ana istirahat aja. Nyuci piringnya biar ibu." bu Amina berujar seraya memeriksa lemari pendingin. Memastikan kalau bahan makanan untuk dimasak esok hari, masih ada.
Kana, gadis itu nampak menggelengkan kepala seraya tetap melanjutkan aktivitas mencuci piring dan gelas - gelas serta mangkuk kotor yang ada di wastafel di hadapannya.
"Gak kok, bu. Ana gak capek dan gak mager juga."
Bu Amina nampak mencatat beberapa bahan makanam dan juga keperluan dapur lainnya yang sudah dan hampir habis. Karena besok adalah hari weekend, ia bisa meminta putranya untuk mengantarnya berbelanja ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur dan lainnya.
"Ujian kakak udah mau selesai, kan?" tanya Bu Amina seraya mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang menghadap meja makan.
Kana mengangguk seraya memiringkan kepalanya menatap sang ibu sekilas. Lalu beralih pada mangkuk yanh sedang ia cuci dengan telaten.
"Sehari lagi abis itu kami libur, bu," balas gadis itu seraya membasuh beberapa piring yang sebelumnya sudah ia gosok dengan spons cuci piring yang berbusa. Lalu membilas semuanya satu persatu.
Di saat banyak hal yang tidak bisa Kana miliki di dunia ini, ia tak pernah lupa bersyukur dan merasa sangat beruntung atas apa - apa yang ia miliki di dalam hidupnya.
Meski tanpa figur seorang ayah, ia dan kedua adik serta abangnya tetap tumbuh dan menjalani hidup dengan baik. Kehilangan seorang ayah tidak membuat mereka miskin kasih sayang, dan juga finansial. Meski tidak bisa dikatakan mereka kaya atau serba berkecukupan. Akan tetapi, berkat kerja keras ibu dan abangnya, ia dan adik - adiknya tak pernah kekurangan. Biaya sekolah, uang jajan dan segala kebutuhan mereka sehari - hari tetap dapat terpenuhi.
Sebab, baik Kana maupun adik - adiknya, mereka semua bersekolah di sekolah negeri Krypton dengan beasiswa prestasi yang membuat mereka tidak perlu membayar uang sekolah yang mahal dan keperluan lainnya juga dipenuhi oleh pihak sekolah berkat program dari pemerintah kota Argon.
Mempunyai ibu dan abang yang selalu bekerja keras untuk ia dan adik - adiknya, membuat gadis itu tak punya waktu untuk mengeluhkan apa - apa yang tidak bisa ia miliki atau apa - apa yang belum bisa ia miliki. Karena baginya, memiliki keluarga yang harmonis dan saling mengerti dan menyayangi itu lebih dari cukup.
"Adek - adek kamu juga udah mau selesai ujiannya. Katanya, mereka bakalan ada acara liburan bersama setelah ujian semester genap, apa iya kak?" tanya bu Amina mengkonfirmasi info yang ia dapatkan dari kedua putrinya, Kena dan Kuna.
Kana mengangguk seraya mengiyakan pertanyaan ibunya. Setelah berkutat dengan aktivitas cuci mencuci, gadis itu beranjak mendekati rak piring lalu meletakkan kembali piring bersih dan juga beberapa mangkuk seeta gelas. Lalu beralih ke wadah untuk meletakkam senduk, spatula dan sebagainya.
Setelah selesai dengan itu, Kana memutuskan untuk beranjak mendekati sang ibu yang sedang duduk di meja. Gadis itu menarij satu kursi di samping ibunya dan mendaratkan pantatnya di sana.
"Ibu gak istirahat, ngecek stok makanannya besok aja. Besok Ana sama adek - adek kan, libur. Biar kami bantu ibu buat ngecek dan ngelist semuanya."
Bu Amina tersenyum mendengar penuturan putrinya barusan. Ditutupnya buku catatan itu dengan pelan. Lalu beralih menatap wajah manis putrinya dengan senyuman yang masih mengembang.
"Makasih ya, sudah menjadi anak ibu. Di saat ibu - ibu di luar sana mengeluhkan putri mereka yang tidak mau membantu pekerjaan rumah dan malas belajar, ibu sebaliknya. Ibu sangat bersyukur karena anak - anak ibu mau membantu pekerjaan rumah meski tanpa ibu minta dan juga belajar dengan giat tanpa ibu perintahkan."