Sejak semalam Kana senantiasa membantu sang ibu untuk menyiapkan banyak hal. Karena ia anak perempuan tertua, tentunya ada amanah yang ia pikul di pundaknya. Ada peran seorang kakak yang harus ia emban. Menjadi lebih dewasa dari kedua adik perempuannya.
"Kakak ga ada tugas atau kerja kelompok gitu?" tanya ibunya yang kini sedang berkutat dengan menu sarapan pagi. Kana menggelengkan kepala pelan. Ia ikut membantu sang ibu dengan mengambil piring dan menatanya di meja makan sederhana yang ada di dapur.
"Bentar lagi Kelulusan bu, ujian udah selesai juga. Jadi tinggal nunggu pengumuman kelulusan sama belajar buat masuk perguruan tinggi. Tapi kakak rencananya mau kerja aja dulu," jelas Kana seraya menaruh sendok di dekat masing - masing piring yang ada di meja.
Lalu menuangkan air kd dalam gelas yang masing - masing diletakkan di dekat piring dan sendok tadi.
Pagi ini ibu ga masak, cuma ngangetin lauk semalam yang memang masih ada dan cukup untuk sarapan.
Bu Amina nampak menghentikan aktivitas memindahkan lauk ke dalam mangkuk besar itu sejenak. Menatap putrinya yang terlihat baik - baik saja, padahal banyak masa remaja yang serharusnya dinikmatinya, namun ia malah melewatkannya.
"Kakak harus kuliah. Ngapain kerja dulu? Mumpung masih muda, ingatannya masih jelas. Kalo udah diskip dengan kerja dulu, nanti kuliahnya susah loh," ujar bu Amina serya melanjutkan aktivitasnya yang sempat ia tunda.
Kana tersenyum. Mana bisa ia membiarkan ibunya bekerja banting tulang memeras keringat sendirian. Bang Sian juga sudah kerja keras untuk keluarga mereka. Kana tidak beripikir akan kuliah dengan membebankan semua biaya pada ibu dan abangnya. Baiklah, sebisa mungkin, ia akan tetap bekerja dan jiga tetap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, atau, ia bisa belajar lebih giat lagi agar bisa dapat beasiswa ke perguruan tinggi. Dengan begitu, Kana bisa kuliah dan juga tetap bisa bekerja agar bisa membantuk finansial keluarga mereka
"Iya bu, Kana pikirin lagi. Soalnya besok Semin kami diminta ke sekolah karena ada sosialisasi dari mahasisiwa uiversitas - universitas yang ada di ibu kota. Siapa tahu ada Universitas yang menarik hehe.."
Bu Amina tersenyum seraya menyelesaikan aktivitasnya. Lalu menyuruh sang putri untuk memberitahu adik - adik dan abangnya untuk sarapan.
Kana pun bergegas mendatangi kamar abangnya. Lalu mengetuk pintu di hadapannya itu dengan pelan.
"Baaaang, sarapan dulu. Ibu udah nunggu di meja makan," ujar Kana yang disahut oleh suara dari dalam sana.
"Iyaaa, sebentar lagi abang ke luar. Lagi mandi soalnya."
Kana menganggukkan kepala. Lalu beranjak dari depan kamar itu menuju kamar yang ia tempati dengan kedua adik perempuannya, Kena dan Kuna.
"Kalian mau ke mana? Udah rapi aja." Kana berujar sesaat memasuki kamar yang pintunya sudah terbuka. Kena dan Kuna sudah bersiap. Adik kembar di hadapannya itu nampak rapi dengan setelan ke luar rumah.
Keduanya masih sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tas masing - masing.
"Ke luar dulu gih, sarapan. Ibu udah nungguin."
Kena dan Kuna mengangguk bersamaan. Lalu bergegas meletakkan tas mereka di atas kasur masing - masing. Keduanya begitu kompak dalam melakukan apapun. Tapi siapa sangka kalau kedua anak kembar itu juga sering adu mulut dan tidak akur. Bahkan pernah Kana ingin pisah kamar agar tidak terlibat dalam pertengkaran yang tidak perlu dengan kedua adiknya itu. Tapi lagi - lagi ia harus tahu diri, bisa tidur di kamar ini dengan satu kipas angin yang cukup besar saja, ia sudah harus bersyukur sekali.
Setelah kedua adiknya ke luar, Kana pun menutup pintu dan ikut melangkah ke dapur untuk sarapan bersama.
***
Selama sosialisasi berlangsung, Kana nampak cukup tertarik dan mencatat beberapa poin penting dan istilah - istilah yang nantinya ada di dunia perkuliahan yang menurutnya penting.
"UKT, itu tadi apaan Na?" tanya Tri yang kini nampak menatap ke depan mendengarkan seorang mahasiswi yang sedang berbicara di depan kumpulan siswa kelas dua belas. Mereka dikumpulkan di gedung auditorium yang ada di tengah - tengah perkarangan sekolah dikelilingi oleh taman dan berjarak masing - masing sekitar 10 meter dari gedung kelas yang ada di sekolah.
"Uang Kuliah Tunggal," jawab Kana seraya tetap fokus mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh kakak - kakak dan abang - abang goodlooking yang ada di depan sana.
"Terus, SKS itu apa, Na? Kre dit apa tadi?" Tri nampak mengingat - ingat seraya mengetikkan sesuatu di catatan ponselnya. Berbeda dengan Kana yang membawa buku catatan kecil di tangannya dan pulpen berwarna hitam.
"Sistem Kredit Semester." Kana menjawab seraya menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Kamu mau lanjut kuliah di kampus mana, Tri?" Kali ini Kana bertanya. Sepertinya Tri cukup tertarik untuk kuliah. Melihat bagaimana gadis itu ingin mencatat apa yang Kana catat.
Tri tersenyum seraya memikirkan kampus yang sudah ia incar sejak ia mengenal seorang mahasiswa tampan yang ia tandai menjadi calon imam masa depannya.
"Ngapain senyam senyum iih, kamu ga kerasukan, kan?" Kana bertanya dengan wajah was - was. Sementara Tri, gadis itu hanya cekikikan pelan seraya menggelengkan kepala.
"Aku mau masuk UNK, kalau kamu, Na?" Tri bertanya balik seraya menetralkan wajahnya yang geli sendiri saat memikirkan Sian.
Dasar gadis centil.
"Aku juga sih, tapi mau nyari tahu info beasiswa dulu. Oh iya, mau ambil jurusan apa nanti?" Kana bertanya lagi seraya mencatat beberapa poin penting yang baru saja dijelaskan oleh pembicara di depan.
Akan tetapi, sebelum Tri menajawab, keduanya sudah lebih dulu diintrupsi oleh suara yang berasal dari pengeras suara.
"Adek yang di barisan tengah yang lagi ngobrol, bisa maju ks depan?"
Mampus, Tri menoleh seraya tersenyum kecut karena semua pasang mata yang ada di dalam gedung kini teralihkan padanya dan Kana.
Kana menujuk dengan telunjukknya ke arah dirinya dan Kana.
Kami? Tanya Kana tanpa suara.
"Ya, gapapa, maju dulu aja." Pria dengan almamater abu itu nampak menatap keduanya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Karena Kana tidak ingin mereka berdua menjadi pusat perhatian terlalu lama, maka dari itu, ia memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Menarik lengan Tri pelan dan ke luar dari barisan dan melangkah ke depan.
Tri nampak sedikit gugup, karena ia tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh abang - abang dengan almet abu yang nampak rapi serapi rambutnya.
"Coba, tadi saya menjelaskan apa?" tanya pria lelaki itu seraya menyerahkan mikrofon ke hadapan Kana.
Kana nampak tenang lalu menyambut mikrofon itu dan mendekatkannya ke bibir.
"Di Universitas nanti akan ada istilah UKMK yang di mana menghimpun banyak organisasi. Mahasiswa diharuskan untuk mengikuti satu UKMK karena berorganisasi juga penting dalam membentuk karakter seorang mahasiswa. Sebab...,
"Sebentar. Bisa sebutkan dulu, kepanjangan dari UKMK itu sendiri?"
Entah sengaja atau tidak, tapi Kana sadar betul kalau lelaki jangkung yang ada di hadapannya ini nampak tidak suka dan ingin mempermalukannya. Tapi, sayangnya, dia salah orang.
"UKMK adalah Unit Kegiatan Mahasiswa Kampus atau disebut juga organisasi - organisasi yang memuat kegiatan - kegiatan yang membentuk jiwa berorganisasi mahasiswa dengan adanya pelatihan dan kegiatan lain sebagainya."
Tepat sekali. Bahkan ada yang bertepuk tangan untuk Kana, terutama Tri, gadis itu tersenyum lebar seraya menatap sahabatnya itu dengan tatapan kagum.
Siapa sangka, setelah kejadian itu, Kana telah ditandai sebagai perempuan yang akan Langit dekati. Gadis naif yang menarik. Pikir lelaki dengan manik keabuan itu seraya tersenyum.
Sudah lama Langit tidak bertemu dengan sosok seperti Kana. Ia bahkan sangat bosan menjalani hiduonya yang terasa monoton karena tidak ada perempuan yang bisa mengimbanginya dengan baik.
She's Mine. Langit menatap punggung kecil itu seraya menyeringai kecil. Kelinci putih yang menggemaskan. Pikirnya seraya menahan diri untuk tidak menculik gadis itu saat ini juga.