Karena hari ini mereka pulang sekolah lebih cepat, Tri memutuskan untuk main ke rumah Kana. Katanya, ia bosan di rumah. Kana yang senang - senang saja kalau Kana main ke rumah, mengangguk menyetujuinya.
"Kita pulangnya dijemput abang kamu atau naik angkutan umum aja?" tanya Tri pada Kana saat mereka berjalan ke luar kelas.
Kana nampak berpikir sejenak, "Naik angkutan umum aja kali ya. Udah lama ga naik angkutan umum. Lagian, bang Sian juga lagi sibuk, Tri."
Tri mengangguk pelan seraya tersenyum. Meski ia lebih suka berada di belakang punggung Sian di motor yang dikendarai pria itu, tapi ia juga penasaran bagaimana sensasi naik angkutan umum.
"Kita harus cepet, nanti angkutan umumnya penuh. Soalnya lumayan banyak siswa yang arah rumahnya searah sama aku." Kana berujar seraya mengajak Tri bergegas.
Keduanya berlari kecil menerobos siswa lain yang berjalan di sepanjang koridor dan halaman sekolah. Ah, Tri lupa mereka sedang mengenakan sepatu yang sama. Sepatu yang waktu itu mereka beli di mall dan setelahnya mereka bertemu dengan pria tinggi, tampan dan misterius.
"Oh iya, ngomong - ngomong kamu ingat ga, Na? Sama om - om yang kita liat di mall waktu itu?" tanya Tri setelah mereka berhasil masuk ke dalam angkutan umum yang masih longgar. Hanya ada tiga siswi dan satu siswa.
Keduanya nampak menjadi pusat perhatian. Karena entah kenapa, Tri dan Kana itu seolah seperti dua magnet yang bergabung menjadi satu dan bisa menarik orang - orangdi sekitarnya, tanpa mereka sadari. Terlebih Kana, gadis itu tidak pernah menyadari bahwa ia menarik, semua tentangnya ingin diketahui oleh banyak orang, namun ia malah bersikap sebaliknya, tertutup.
"Ah iya, yang ngeliatin aku lama sampe ngasih sapu tangannya itu, kan?" tanya Kana memastikan, Tri mengangguk cepat. Entah kenapa, Tri merasa aura om - om waktu di mall itu agak mirip sama aura abang - abang kuliahan yang nyuruh mereka maju ke depan gara - gara ngobrol waktu seminar sosialisasi.
Tri merasa tatapan yang dilayangkan oleh kedua pria itu agak mirip.
Sementara Kana, seperti sebelum - sebelumnya, ia tidak mau ambil pusing dengan siapa - siapa yang ia temui. Toh, banyak dari mereka hanya berlalu lalang di kehidupannya.
"Kamu yakin gapapa naik angkot gini?" tanya Kana pada sahabatnya yang duduknya sudah sempit - sempitan karena makin banyak siswa yang masuk ke dalam mobil angkutan umum yang mereka masuki sebelumnya.
"Gapapa kok, Na. Lagian, aku baru tau sensasi naik angkutan umum ternyata seluar biasa ini," ujar Tri seraya tersenyum seraya memperhatikan wajah - wajah yang masuk ke dalam mobil angkutan umum itu dengan wajah terkejut, karena mendapati dua gadis cantik yang ada di dalamnya. Bisanya mereka akan bertemu dengan Kana saja. Tapi kali ini, sepertinya Tuhan tengah berbaik hati pada mereka karena mengirimkan dua bidadari ini secara bersamaan.
"Di sini masih muat kok," ujar Tri ramah saat seorang siswi yang masuk ke angkutan umum itu bingung ingin duduk di mana. Siswi itu menoleh dengan gugup, lalu mendekati Tri dan duduk di sampingnya.
"Kira - kira, bang Sian ada di rumah ga, Na ya?" Kana bertanya seraya memikirkan betapa bahagianya dia karena akan bertemu dengan pria pujaan hatinya itu.
"Ada kok, cuma ya itu, abang sibuk di kamar katanya ngerjain naskah ceritanya. Jarang ke luar kamar, kecuali ke kafe buat kerja paruh waktu."
Sementara keduany Mengobrol, penumpang lain yang ada di sana pun mendengarkan demgan khidmat. Seolah percapakan kedua gadis itu sangat menarik dan sayang untuk dilwati begitu saja.
Kana, ia cantik versi lokal sekali. Wajah oriental, hidung mancung yang kecil, bibir ranum dan alis cukup tebal dan hitam membingkai indah. Kulitnya tidak begitu putih, tapi tidak juga sawo matang. Berbeda dengan Tri yang begitu putih sampai mudah sekali terlihat merah saat ia kepanasan seperti saat ini.
Beberapa dari mereka yang melihat Tri tengah kenapasan, ingin memnerikannya sebuah kipas. Akan tetapi, Kana lebih dulu memberikan kipas portabel miliknya. Tri tersenyum melihat beberapa tangan yang semlat bergerak ingin memberinya benda yang sama.
Sementara Kana, ia nampak tenang dengan jilbab instan yang menutupi kepalanya dengan rapi. Meski tidak begitu panjang, namun ia merasa nyaman karena menutupi bagian dadanya.
Sementara Tri, gadis itu masuih nyaman dengan rambut yang ia potong sebahu. Lurus dan berkilau. Membuat siapa saja yang melihatnya, akan bertanya - tanya, apa dia model iklan sampo?
Sepanjang perjalanan, Kana dan Tri tidak banyak ngobrol karena mereka dikelilingi oleh siswi/a lain yang sebagian tidak begitu mereka kenal.
Hingga di pinggir jalan menuju rumah Kana, gadis itu pun meminta berhenti. Kana dan Tri pun turun dengan baik karena penumpang lainnya memberikn jalan dengan sangat pengertian.
Keduanya berlalu setelah Tri memaksa membayar ongkos dengan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu. Tapi ia tidak meminta kembalian dari supir angkutan umum dan berlalu begitu saja. Membuat supir itu tersenyum seraya berterimakasih dengan wajah sumringah.
***
Sejak kapan waktu berlalu begitu cepat, pikir Tri seraya mematut wajahnya di depan cermin. Ia juga merasa kalau hampir satu pekan ini ia cukup merasa senang karena hidupnya tidak semembosankan dulu. Sejak ia mengenal Sian, Kana dan krluarga mereka. Lalu perlahan semuanya membaik. Keluarganya pun juga membaik, meski membaiknya tidak lebih dari makan bersama dan menonton serial tv bersama.
Sekali lagi, yang harus ia ingat dari nasihat Sian dan Ibu Amina, "bersyukur."
Tri harus bersyukur meski sang mama seringkali tidak ingat bahwa anak bungsunya bahkan sebentar lagi lulus SMA. Atau, sang papa baru sadar kalau putri bungsunya itu selama ini tidak betah di rumah dan seringkali mencari ketenangan dan kehangatan di luar sana.
"Mau ke mana pagi - pagi udah cantik?" Tri mendapati kak Mono baru saja menginjakkan kaki di lantai dulu dengan secangkir cokelat panas di tangan kanannya.
Tri hanya mengulum senyum, "ada deh. Aku mau maen sama temen, mumpung weekend. Kak Mon ga kerja" ganya Tri seraya menatap setelan kakak pertamanya yang masih mengenakan piyama tidur dengan rambut yang hanya dijepit jedai dengan asal.
"hari ini kan, weekend. Kamu pikir kakak ga butuh libur. Kakak juga mau maen nanti sama temen. Kamu, siapa yang nganterin?"
"Temen aku nanti jemput. Aku duluan ya kak, oh iya, mama sama papa katanya masih di pasar. Bilangin aja kalo Tri keluar sama temen," pamit gadis dengan setelan casual itu seraya mencium punggung tangan Mono lalu berlalu menuruni anak tangga seraya bersenandung.
Mono tersenyum, sudah lama ia tidak melihat si bungsu seceria itu. Entah sejak kapan, tapi ia sangat berterimakasih pada siapapun yang mempunyai andil dalam merubah Tri menjadi lebih periang dan tidak implusif serta tempramen seperti sebelumnya.
Tapi, kenapa juga mama dan papanya ke pasar sepagi ini? Bukankah ART mereka sudah membeli bahan makanan dan menyiapkan semuanya? Ah iya, Mono hampir lupa kalau sejak beberapa bulan yang lalu, sang mama bertekad untuk memasak makanan untuk mereka semua. Meski rasanya sering seeprti nano - nano. Tapi, ia sedikit bersyukur dan tetap menghargai sikap baik dari sang mama. Berbeda dengan mereka yang sering menghakimi mono atas pilihan yang perempuan itu ambil.
Perempuan cantik itu menghela napas seraya melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Meletakkan gelas cokelat hangat yang masih mengepulkan asap di atas meja kerjanya.
Kemudian beralih membuka tirai dan jendela kaca yang di baliknya menampilkan view tanaman hijau dan bungan yang ada di balkon kamarnya.
Sementara di luar rumah, Tri sudah berdiri di depan pagar rumahnya dengan seseorang yang mengendari sepeda motor matic yang kini menyerahkan sebuah helm untuknya.
"Kenapa senyam senyum begitu?" tanya Sian saat melihat wajah gadis yang kini mengenakan helm di kepalanya itu menampilkan senyuman berseri - seri. Sian tahu, Tri pasti sangat senang. Tapi, tidakkah pipi gadis itu akan keram kalau terus menerus tersenyum seperti itu.
"Emang senyum dilarang?" tanya Tri seraya memanyunkan bibirnya lalu menaiki motor matic itu dan duduk di belakang Sian dengan kedua lengan yang melingkari perut pria itu.
Sian menggeliat seraya menjauhkan lengan kecil itu dari perutnya.
"pegangannya biasa aja. Pegang kameja aku atau kalopun mau peluk, jangan kek tadi," ujar Sian sebelum mereka melaju meninggalkan halaman rumah Tri.
Gadis itu nampak cemberut. Sian sangat tidak peka dan kaku, tidak paham kalau Tri sudah sangat rindu berapa pekan ini. Ia merajuk, menjaga jarak dari pria itu dengan memundurkan tubuhnya agar lebih jauh.
Sekalian saja, Tri ga usah dijemput. Pikir gadis itu lebay. Membuat Sian menoleh ke belakang dan melihat betapa gadis di belakangnya itu mengambil posisi duduk yang jauh bahkan sudah diujung jok motornya.
Sian gemas dan merasa bersalah. Menarik lengan kecil itu dan meletakkannya di perutnya. Kemudian, Sian melajukan motor matic itu membelah jalanan kota Argon. Hari weekend seperti ini akan ada banyak kendaraan yang berlalu lalang di selanjang jalanan kota. Banyak orang menghabiskan waktu ketika weekend untuk sekadar melepas penat atau juga ada yang masih disibukkan dengan tugas dan pekerjaan yang menumpuk yang akhirnya mereka kerjakan bahkan di hari weekend sekalipun.
Sepanjang perjalanan, Tri tak henti - hentinya mengukir senyum seraya mengeratkan pelukannya di tubuh Sian yang hanya bisa pasrah seraya tersenyum menatap spion motornya.
Tidak ada rencana spesial hari ini. Mereka akan pergi ke salah satu panti asuhan yang ada di tepi kota Argon. Sian sudah menyiapkan semua yang akan mereka bawa dan meminta jasa pesan antar untuk mengantarkannya ke lokasi.
Tri, ia tidak tahu, kalau semakin mengenal Sian, ia semakin dibuat terpukau oleh pria itu. Ia tidak pernah tau kalau ada sekelompok anak yang hidup di panti asuhan dengan fasilitas serba terbatas itu. Kalau bukan karena Sian yang menagajaknya.
Ia tidak pernah tahu secara langsung bahwa ada begitu banyak orang - orang di luar sana yang tidak seberuntung dirinya. Ada begitu banyak orang - orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, kekurangan harta benda, kelaparan dan tidak mengenyam pendidikan dengan baik.
Rasanya ia sangat malu, karena selama ini selalu merasa dirinya paling menderita, paling tidak beruntung dan paling tidak bahagia.
Ingatlah, bahwa hidup ini tidak mudah bagi semua orang. Barangkali kamu tidak melihatnya, tapi semua orang punya masa - masa yang berat yang harus dihadapi. Semua orang punya ujian dan cobaannya masing - masing dan semua orang punya waktunya untuk bangkit, bahagia, gagal, terluka. Maka dari itu, syukuri apa yang ada padamu saat ini, dan usahakan apa yang belum bisa kamu capai. Bukan malah mengeluh atas apa yang belum kamu miliki dan lalai dalam mensyukuri atas apa yang telah Allah beri padamu saat ini.