Karena Tri sudah menyiapkan banyak hal yang akan dia bawa ke panti dengan bantuan pak supir keluarganya. Ia pun menelpon pak supir untuk menuju ke lokasi yang mana cukup jauh karena berada di ujung kota Argon.
Sementara Tri dan Sian menikmati perjalanan mereka dengan sepeda motor metic dengan perasaan berbunga - bunga. Tri tidak pernah menyangka bahwa ia hari ini akan tiba. Hari di mana ia merasa dicintai oleh seorang pria dengan cara yang tidak biasa. Pria yang pernah menolaknya mentah - mentah, kini tengan menggenggam tangannya yang ia lingkarkan ke perut pria itu.
Sian, pria dingin dan ketus yang sering menunjukkan penolakan terang - terangan atas gadis nyentrik yang ia temui di kafe itu, kini merasa kalau memang benar, hidup itu penug kejutan. Kamu tidak akan pernah tau ujungnya, sampai kamu memutuskan untuk menghadapinya, bukan menghindarinya.
Sian sebenarnya tidak bermaksud menolak Tri dengan cara yang sedikit kasar dan mentah - mentah. Hanya saja, pengalaman kisah cintanya sangat payah. Ia tidak ingin salah mengartikan perasaan dan berujung salah langkah yang bisa membuatnya patah hati kembali.
"Kenapa ya, aku akhir - akhir ini seneng banget sama anak kecil. Aku sering scroll beranda i********: cuma buat liatin pose - pose lucu sama video lucu balita." Tri bercerita dengan kepalanya yang ia dekatkan ke bahu Sian.
Manja. Pikir Sian seraya tersenyum. Dulu, mungkin ia akan menepis tangan kecil gadis itu tanpa basa basi atau akan menjauhkan kepala Tri karena ia tidak nyaman dan merasa risih. Tapi, kali ini ia membiarkan gadis itu melakukannya. Meski sebenarnya ia masih tidak begitu nyaman karena tubuh mereka harus berada sedekat ini. Akan tetapi, ia akan memakluminya, sekelas Tri pasti membutuhkan perhatian yang mana tidak didapatkan gadis itu dari keluarganya, terutama dari kedua orang tuanya.
"Mungkin kamu mau punya adek, makanya suka sama anak kecil." Sian berujar santai seraya tetap fokus ke jalanan yang ada di depan mereka.
Syukutlah, kota Argon di bangun dengan baik oleh pemerintah pusat. Tidak hanya bangunan yang tidak semabarangan di bangun begitu saja, tetapi juga jalan - jalan raya begitu diperhatikan. Tidak boleh ada akses yang terhambat yang disebabkan jalan rusak, atau lain sebagainya. Untuk itu, bahkan jalan di tepi kota pun sangat diperhatikan. Tidak boleh ada yang bolong aaplagi rusak parah yang kemudian dibiarkan begitu saja.
Terbukti, dengan perhatian pada pembangunan infrastruktur yang terencana dengan baik, kota Argon sering menjadapat penghargaan menjadi kota terbersih dan juga teraman. Tidak hanya terkenal di negeri Kriypton tapi juga di beberapa negara lainnya.
Perjalanan dari pusat kota menuju tepi kota Argon ternyata memakan waktu selama tiga jam perjalanan. Sian dan Tri sempat istirahat di beberapa titik jalan. Hingga tiba di kota Argon pukul sembilan pagi.
"Haaaah... Udaranya masih asri banget. Rasanya paru - paru dibersihin dari polusi yang ada di pusat kota." Tri berujar seraya merentangkan tangannya dan menghirup sebanyak - banyaknya oksigen ke dalam paru - parunya.
Sian tersenyum melihat reaksi gadis itu saat mereka tiba di sebuah pelataran dengan taman dan rerumputan yang jelas terawat dengan baik.
"Gimana kalo kota masuk, anak - anak udah pada nungguin soalnya," ajak Sian ada Tri seraya meletakkan helm keduanya di motor dan beralih menatap rumah dengan bangunan yang terlihat sudah sangat lama berjarak sekitar dua puluh meter dari parkiran tempat mereka berdiri.
Tri mengangguk antusias. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan balita yang super menggemaskan yang Sian ceritakan padanya.
Sesaat setelah mereka memutuskan beranjak dari sana, saat bersamaan sebuah mobil pick up besar pun tiba.
"Non!" panggil supir yang kini turun dari kursi kemudi dengan berlari kecil.
Tri menoleh dan Sian pun ikut mengalihkan pandangan.
"Non, barang - barang sama propertinya mau di letakkan di mana?" tanya seorang bapak - bapak dengan wajah sendu itu pada Tri.
"Ah iya, barang - barang yang dikadoin itu, tolong keluarin semuanya aja pak. Kalo propertinya nanti aja. Tri mau tanya - tanya dulu sama ibu panti, baiknya ditaruh di mana."
Bapak yang ada di hadapannya itu mengangguk paham dan segera bergegas mendekati mobil dengan teman - temannya yang sudah bersiap di belakang mobil untuk menurunkan semua kado - kado yang sengaja Tri siapkan.
Sian pun terpaku menatap gadis di hadapannya itu. Tri nampak menggigit bibir bagian bawahnya pelan. Ia merasa gugup karena ditatap lekat oleh pria yang ada di sampingnya itu. Apa Sian akan marah, karena Tri tidak menceritakan soal kado - kado itu terlebih dahulunya. Pikir gadis itu cemas seraya memainkan ujung bajunya seraya menundukkan wajah dalam.
Ia takut kalau Sian berpikir bahwa ia telah lancang dalam bertindak dan memutuskan.
"Makasih ya," ucap Sian pelan dengan tulus karena ia sudah lama ingin menyiapkan kado - kado cantik seperti yang kini sedang diturunkan dari mobil itu.
Ia ingat pertama kali ke panti ini, beberapa anak,-ah tidak-hampir semua anak mendambakan kado spesial yang belum pernah mereka terima.
Sian tidak sering datang, hanya sekali saat itu dia belum lulus kuliah, tapi ia sangat merasa berkesan dengan apa yang ia temui.
"Makasih udah nyiapin semua ini." Tri nampak tercenung menatap Sian dengan tidak percaya. Ia pikir pria itu akan marah, tapi ternyata responnya di luar dugaan.
"Aku seneng ngelakuinnya. Aku seneng nyiapinnya. Apalagi setelah liat foto - foto yang kamu tunjukin ke aku." Tri berujar dengan mata terasa panas dan berkaca - kaca.
***
Anak - anak panti nampak memekik kegirangan. Mereka semua berseru bahagia saat menerima kado masing - masing. Kado yang sama besarnya namun isinya beragam.
Tak hanya itu, Tri juga sudah menyiapkan uang yang dimasukkan ke dalam amplop kecil berkarakter dan dibagikan ke semua anak - anak yang ada di sana. Anak paling besar, itu, ada Siren, anak perempuan berwajah ayu yang masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama yang ada di tepi kota Argon.
Lalu yang paling kecil, ada Suja, balita laki - laki berusia satu tahun tiga bulan itu sangat menggemaskan. Tri bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengunyel - unyel pipi chubby balita itu yang terlihat seperti squishy.
"Setelah acara bagi kado dan hadiah angpau. Nanti kita makan bareng, mau?" tanya Tri pada anak - anak panti yang nampak menatapnya dengan mata berbinar bahagia, seolah Tria adalah malaikat tanpa sayap yang turun ke bumi Argon untuk mereka.
Semuanya mengangguk kompak seraya berseru. "Iya kakak cantik." Tri tersenyum malu karena dipuji cantik oleh puluhan anak yang nampak begitu menggemaskan di matanya.
Anak - anak disuruh untuk menunggu di kamar serta mengganti baju serta bersiap - siap untuk makan siang bersama. Sebelum pergi, Tri dan Sian pun diajak ke ruangan kerja ibu panti, Bu Samira.
"Makasih banyak, nak Sian dan nak Tri, sudah jauh - jauh datang ke sini bawa banyak hadiah dan bantuan. Ibu ga tau mau bilang apa lagi, semoga Allah membalas kebaikan kalian berdua ya nak. Ibu bahkan tidak menyiapkan apa - apa untuk menyambut kedatangan kalian. Maaf atas sambutan yang kurang mengenakan dari kami," ujar bu Samira tulus dengan mata yang berkaca - kaca. Ia bahkan tidak menduga kalau Sian dan gadis cantik bak putri kerajaan ini datang ke sini di hari weekend.
"Tri juga ga bisa berkata - kata, saking senangnya bisa berbagi dan bisa ngrliat wajah - wajah bahagianya anak - anak. Ibu udah ngerawat mereka dengan baik." Tri merasa sentimentil saat membahas hal - hal yang menyentuh hatinya seperti ini.
Ia bingung harus bahagia karena melihat anak - anak bahagia atau sedih karena mengingat dirinya yang kufur akan nikmat Allah selama ini.
Sian nampak diam dengan wajah menahan air mata, meski tidak berkaca - kaca, tapi ia jelas terlihat menahan tangisan. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Tri, gadis di sampingnya yang kini resmi menangis dan banjir air mata.
Setelah acara tangis menangis itu, Tri dan Sian pun langsung menyampaikan niatnya untuk membantu panti Asuhan As -Syifa untuk dikenalkan pada masyarakat, dan dengan itu diharapkan akan ada donatur yang bersedia mendonasikan harta mereka untuk pembangunan kembali gedung panti yang sudah terlihat tua ini.
Selain itu, Tri juga menyerahkan uang yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pangan dan lainnya untuk mereka semua yang ada di panti ini, sampai tersedianya dana untuk pembangunan ulang gedung.
"Aku ga tau mau bilang apa sama kamu, tapi, aku mau bilang makasih dan makasih. Udah ajak aku ke sini, udah nunjukkin aku dunia baru yang ga pernah aku liat sebelumnya. Semua yang aku liat dan rasain hari ini, bikin aku merasa lebih banyak berpikir dan bersyukur."
Sian nampak ikut senang dan terharu, tak biasanya ia merasa se-melankolis seperti ini.
Ternyata benar, bahagia akan didapat bersamaan dengan rasa syukur. Semakin kamu bersyukur atas nikmatNya maka kebahagian akan semakin mudah kamu gapai, namun, jika sebaliknya, kebahagiaan pun akan semakin jauh untuk kau capai.