Ini hari terakhir bagi Arsen untuk menyelesaikan naskah Sian. Arsen tidak pernah habis pikir, kalau Sian akan jadi bucin seeprti ini. Pri itu bahkan seringkali menghabiskan waktu di luar rumah bersama Tri, gadis kecil yang dulu pernah Arsen gendong dan tuntun saat pulang sekolah.
Tapi, tidak apa - apa, pikirnya. Ia akan segera menyelesaikan naskah novel romansa menye-menye-ah tidak,- tepatnya novel teenlit murahan yang entah kenapa malah dipinang oleh penerbit mayor terkenal.
Sesaat setelah menyandarkan punggungnya ke badan kursi, Arsen jadi berpikir dalam diamnya. Kenapa juga naskah Sian dipinang, padahal seukuran novel yang akan diterbitkan cetak, mwnurut Arsen, belum memenuhi syarat.
Apa jangan - jangan, ada udang di balik batu?
Arsen menerka - nerka seraya menatap jauh. Mengingat kembali potongan ingatan yang sempat terlintas di pikirannya mengenai perempuan bernama Aqua Regia, yang Sian ceritakan.
Apa yang terjadi padanya dan perempuan itu di masa lalu?
Ingatan yang sempat terlintas waktu itu, entah kenapa malah jadi samar.
"Abaaaang bangun!"
Arsen terkesiap kaget, menegakkan punggungnya seraya berbalik badan. Tatapannya beradu dengan tatapan syok seorang gadis kecil dengan rambut ikal menjuntai, Kuna.
Beberapa saat yang lalu, Ibunya meminta Kuna untuk membangunkan abangnya. Karena sejak pukul delapan pagi, abangnya itu tidak terlihat batang hidungnya. Oleh karena itulah, Kuna berdiri di ambang pintu kamar Sian, dengan mata membola, namun sejurus kemudian, ekspresi gadis itu kembali biasa.
"Bang Sian mana?" tanya Kuna tanpa basa basi padahal mereka sempat saling tatap dengan perasaan kaget. Sementara Arsen, ia bingung musti menjawab apa. Pasalnya, ia lupa bahwa Kuna dapat melihatnya.
"A-bang kamu...a-anu..." Arsen menjawab dengan terbata. Sementara Kuna, gadis itu nampak memutar bola mata malas. Bisa - bisanya pria ini berada di kamar abangnya dengan begitu santai. Batin Kuna mendumel. Dikira rumah mereka kos - kosan apa.
"Sian tadi pergi pagi - pagi sekali, katanya kafe bukanya lebih pagi," tutur Arsen seraya bangkit dari kursi belajar Sian dengan gugup.
Sementara Kuna, gadis itu nampak menelisik pria yang ada di hadapannya. Ia jadi mengingat kalau pria yang kini berdiri dengan gelisah itu, tidak pernah menampakkan diri saat mereka sedang berkumpul di meja makan tau sedamg menonton TV bersama.
"Hmm ok. Kalo abang mau sarapan, ke meja makan aja." Kuna berlalu setelah menawarkan Sian sarapan. Sayangnya Sian tidak makan makanan manusia. Entahlah, ia hanya butuh istirahat agar mendapat energi untuk melakukan banyak hal.
Setelah Kuna berlalu, Arsen masih mematung, memikirkan bagaimana Kalau gadis kecil itu menceritakan keberadaan Arsen di rumah ini? Arsen merasa khawatir.
Tapi, ia tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, kan? Pikirnya seraya menerka - nerka kenapa Kuna bisa melihatnya? Apa hububgannya di masa lalu dengan adik bungsu Sian itu.
Namun, sebelum ia menemukan jawaban, ia teringat akan pintu kamar Sian yang tidak tertutup sempurna. Arsen bergegas menutup pintu itu dengan rapat, lalu beranjak ke kursi dan kembali melanjutkan tulisan di laptop yang sempat terjeda sebelumnya.
Sementara di sebuah kafe, Sian nampak sibuk dengan beberapa piring di tangannya yang akan ia antarkan ke beberapa meja yang ada di sana. Sementara itu, seorang gadis dengan mengenakan jilbab instan berwarna hitam yang senada dengan jeans yang dikenakannya.
Tri duduk dengan gelisah di salah satu kursi yang menghadap meja dengan nomor sepat belas yang ada di tepi ruangan tepatnya di dekat dinding kaca kafe.
Ia bosan karena sejak kedatangan mereka jam delapan pagi, yang Sian lakukan hanya sibuk dengan pekerjaannya. Mengepel lantai, membersihkan meja dan menata kursi yang ada di kafe. Saat Tri berinisiatif untuk membantu, ia malah digiring untuk duduk di sini dengan tatapan sebal karena beberapa remaja sekolah menengah tengah menatap Sian dengan tatapan memuja. Belum lagi kumpulan remaja itu meminta ini itu pada Sian. Membuat Tri menggertakkan giginya geram seraya mengepal tangan kuat - kuat.
Saatnya ia bertindak. Putusnya untuk bangkit dan menghampiri meja yang berada di tengah - tengah ruangan kafe dengan wajah penuh amarah.
"Kalian!" panggilnya dengan nada tinggi seraya menghampiri meja itu dengan wajah akan murka. Berani - beraninya mereka memggoda dan menyuruh - nyuruh Siannya.
"Maaf, kamu siapa ya?" tanya salah satu remaja yang mengrnakan eyrliner tebal dan lipstik merah gelap itu dengan wajah sinis.
Tri berdecih dan tersneyum mengejek.
"Kamu ngapain di sini?" Sian datang dengan dua piring sukidimsum di nampan, lalu berbisik pada gadis yang ada di sampingnya itu.
Bukankah Sian sudah memeperingatkannya agar tidak ke mana - mana? Ah, ia lupa, kalau Tri adalah gadis keras kepala.
Bayangkan saja apa yang terjadi selanjutnya sesuai imajinasi kalian.
Tapi yang pasti, Tri tidak akan berlalu begitu saja kecuali ia sudah mengumumkan kalau pri tinggi di sampingnya itu adalah Siannya. Jadi, tidak ada satupun perempuan yang boleh menginginkannya apalagi menggodanya, karena Tri tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.
***
Beberapa hari menghabiskan waktu bersama Tri, Sian makin mengenal gadis itu lebih banyak lagi dan lagi. Bagaimana posessifnya gadis kecil itu padanya. Bagaimana tajamnya tatapan gadis kecil itu saat melihat perempuan menatap Sian dengan minat.
"Pokoknya, kalo mau kerja, harus ajak aku!" Tri berujar dengan posesifnya seraya memasang wajah kesal bahkan saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
Ini kenapa jadi kebalik ya? Harusnya kan, Sian yang posesif tapi kenapa gadis nyentrik itu yang malah posesif dan terkesan mengekang Sian.
Sian tersenyum setelah menatap kaca spion yang menampilkan wajah bete gadis yang ada di belakangnya itu.
Sian sengaja membiarkan gadis itu meluapkan semua kekesalannya dalam perjalanan pulang. Bukannya menakutkan, wajah kesal Tri malah membuat Sian gemas dan tidak ingin melewatkan untuk menatapnya.
Sementara Tri, gadis itu masih mendumel dalam hati. Kenapa Sian tidak mengatakan apa - apa. Kenapa pria itu tidak membujujnya atau mencoba menenangkan rasa marah dan kesalnya hari ini?
"Kamu tambah cantik dan gemesin kalo lagi marah dan bete begitu," ungkap Sian seraya menghentikan laju motor di lampu merah. Sementara Tri, gadis itu nampak kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Jangan sering - sering marah ya. Nanti cepet tua loh." Kali ini Tri berdesis sebal seraya mencubit pinggang Sian dengan cepat. Membuat pria itu mengaduh dan atensi beberapa pengendara bermotor di samping kanan kiri mereka teralihkan.
"Salah siapa?" Tri berujar dengan wajah sebal sersaya memeletkan lidahnya puas. Salahkan saja Sian yang mengejeknya setelah apa yabg terjadi hari ini. Tri sebal, namun ia ingat, kalau Sian bekerja keras seharian.
Rasa kesalnya kalah telak dengan rasa tidak tega dan sayangnya pada pria itu.
Untuk itu, sejuruas kemudian, sesaat setelah motor yang dikendarai Sian kembali melaju, Tri melingkarkan lengan kecilbya pada perut pria itu dengan erat. Lalu menyandarkan kepala ke punggung Sian.
Sian hanya tersenyum kecil seraya menatap jalanan yang ada di hadapan mereka.