Seperti yang telah disepakati sebelumnya. Sian akan meminjamkan tubuhnya pada Arsen seharian penuh untuk digunakan menyelesaikan misi pertama mereka. Tepatnya, misi pertama Arsen dalam mengabadikan momen bersama Dinya setelah sekian tahun lamanha. Ya, Arsen ingin menghabiskan banyak waktu dengan kekasihnya, Diana.
Akan tetapi, banyak hal yang tak terduga terjadi. Sian pulang dengan perasaan berbunga karena menghabiskan waktu bersama Tri, Bahkan, saat mengantar gadis itu, ia merasa tidak rela akan berpisah. Sepertinya Sian mulai ketularan virus melankolisnya Tri.
Bayangkan saja, Sian tidak pernah merasa setidak rela itu saat berpisah dengan seseorang yang menghabiskan waktu seharian dengannya.
"Gue tau, lo lagi jatuh cinta dan hati lo berbunga - bunga, tapi ga kayak gini juga ya!" Arsen berdesis saat menatap kelakuan Sian yang sejak tadi senyam senyum ga jelas dengan benda berbentuk pipih bernama ponsel yang menempel di telinganya.
Pria itu bahkan belum beranjak seincipun setelah selesai mandi pagi dan kembali bergelung di kasurnya.
"Lo ga ingat perjanjiannya apa?!" Arsen berbicara dengan geram seraya mendekati Sian dan menarik selimut yang membungkus tubuh pria itu.
"Apaan sih?!" sewot Sian seraya duduk dari posisi berbaringnya saat ini. Pria itu bahkan baru saja melepas rindu dengan gadis kecilnya yang ada di seberang sana.
"Gue udah selesaiin naskah novel lo, jadi, sekarang gue minta hal gue."
Sian mengerutkan kening tidak mengerti, apa? Hak? Hak yang mana yang Arsen bicarakan? Pikir Sian tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh arwah yang kini menatapnya dengan sebal.
"Muka lo kayak orang lupa, jangan bilang lo lupa sama kesepakatan kita waktu itu," ujar Arsen seraya melangkah lebih dekat dan mendaratkan tubuhnya di pinggir kasur Sian.
Sian nampak berpikir keras sebelum akhirnya ia ingat kalau panggilannya pada Tri masih berlangsung.
"Halo?" ujar Sian seraya menempelkan benda berbentuk pipih itu ke samping telinga.
"Maaf, nanti aku telepo lagi, ya," ujarnya pelan lalu diam sejenak. Sebelum akhirnya bunyi panggilan diputus tiba -tiba terdengar. Ya, gadis di seberang sana ngambek.
Tapi, karena Sian ingat kalau pembicaraannya dengan Arsen adalah pembicaraan yang cukup serius mengingat wajah Arsen yang saat ini nampak kesal dan juga dongkol.
"Oke, lo mau bicarain apa?" tanya Sian seraya membenarkan posisi duduknya.
Arsen mulai menyampaikan kegundahannya setelah beberapa hari harus berkutat dengan benda berbentuk kotak bernama laptop sementara Sian happy happy bersama Tri, si gadis kecil yang dulu cukup dekat dengan Arsen.
"Besok, gue mau ngabisin waktu seharian sama Diana. Lo harus kasih tau ke dede gemes lo itu. Dan gue bakalan ngasih tau Diana setelah kita sepakat, gimana?" tanya Arsen seraya menaik-turunkan alisnya menunggu respon Sian.
Meski Sian cukup sebal karena harus terlibat denganarwah macam Arsen, namun, ia sudah terlanjur memutuskan untuk membantu dan dibantu oleh Arsen. Jadi, mau tidak mau ia harus melakukan apa yang telah mereka sepakati sebelumnya.
Arsen tersenyum lebar saat Sian menganggukkan kepala pasrah. Sejurus kemudian, Tanpa aba - aba dan permisi, Arsen memeluk Sian karena ia merasa berterimakasih pada partner misinya itu.
"Kok?" Sian menatap ke sekelilingnya dengan aneh. Lalu menatap tubuhnya sendiri dari ujung tangan ke ujung kaki.
Ah iya, dia Arsen yang kini menempati tubuh Sian. Ini bukan kesengajaan, pikir Arsen. Tapi, ia tidak akan berbuat curang. Karena ia sudah sepakat akan meminjam tubuh Sian besok, seharian penuh, bukan sekarang.
"Lo!" tunjuk Sian pada sosok yang kini ada di hadapannya tengah nyengir kuda seraya menunjukkan jari tengan dan telunjuknya membentuk huruf V.
"Gue ga sengaja," bela Arsen karena memang ia tidak sengaja masuk ke tubuh Sian. Lagian, ia tidak tahu, kalau semudah itu untuk masuk ke tubuh pria di hadapannya ini. Sementara itu, Sian nampak menghela napas lalu beranjak turun dari kasur. Hari ini ia libur kerja. Ia butuh istirahat karena hampir sepekan lebih tubuhnya diforsir bekerja paruh waktu dan dihabiskan untuk bepergian cukup jauh bersama gadis kecilnya, Tri.
Rasanya aneh, Sian bahkan bingung kenapa akhir - akhir ini gadis itu sering kali berlalu lalang di pikirannya. Padahal, dulu, jangankan memikirkan Tri, Sian bahkan akan melakukan cara apapun agar ia tidak terlibat dengan gadis kepala batu dan terlalu nyentrik itu.
Lagian, siapa yang tahu masa depan bukan? Barangkali kamu membencinya hari ini, tapi siapa yang tahu kalau di masa depan ia menjadi orang yang berarti bagimu dan sebalinya. Barangkali ia berarti dan kau cintai hari ini, tapi siapa yang tahu kalau di masa depan ia adalah orang yang paling kamu benci.
Allah Maha Pembolak balik hati manusia. Tidak mustahil untuk seseorang yang awalnya benci bisa jadi cinta, yang awalnya cinta bisa jadi benci. Yang awalnya kawan bisa jadi lawan dan sebaliknya.
***
Hari ini adalah hari yang Arsen tunggu - tunggu. Ia sudah siap dengan setelah casual yang membalut tubuhnya dengan rapi dan nampak karismatik.
"Ternyata tubuh Sian tidak sebagus yang gue kira. Buktinya, otot perutnya belum begitu terbentuk," gumamnya seraya menatap pantulan dirinya di cermin yang sedang menyingkap bajunya sedikit, memperlihatkan perut yang tidak datar, namun tidak begitu berotot.
Kalau saja ia tahu, bahwa Sian tengah menggertakkan giginya geram karena mendengar apa yang Arsen katakan barusan.
"Lo pikir gue ga tahu, lo ngatain gue, hah?!" Arsen terperanjat kaget hingga mundur beberapa langkah dengan reflek.
"Gue liat dan tau apa yang lo lakuin sama tubuh gue, jadi, lo ga usah macem - macem, ngerti!" Sian memperingati dengan tegas meski ia tidak bisa mngambil alih tubuhnya saat Arsen merasukinya.
Arsen merapatkan bibirnya lalu nyengir kuda.
"Sorry, bro heheh..." ucapnya karena tertangkap basah mengta-ngatai bentuk tubuh Sian. Dasar! Body shaming!
Meski menyebalkan, tapi Sian mensyukuri satu hal dari apa yang Arsen lakukan pada tubuhnya hari ini. Penampilan.
Penampilan Sian lebih simple namun tetap terlihat cool. Sian cukup menyukai selera fashion Arsen, untuk seukuran arwah yang sudah 2 tahun meninggal, Arsen tidak tertinggal zaman.
Setelah beberapa perdebatan kecil mengenai aturan - aturan yang harus Arsen patuhi yang Sian tetapkan. Arsen memutuskan untuk mengabaikan suara - suara yang berasal dari pikirannya. Anggap saja angin lalu.
Sementara Sian, ia tidak berdaya dan hanya bisa misuh - misuh setelah apa yang ia tetapkan tidak diindahkan oleh Arsen.
"Lo ga usah lebay deh, gue ga akan nyentuh Di gue sembarangan pakai tangan lo ini," ujar Arsen seraya beralalu meninggalkan kamar Sian dengan senyum yang mengembang.
Semalam, ia sudah berbicara banyak dengan Diana, mengenai akan ke mana mereka hari ini. Atau apa saja yang akan mereka lakukan san apa saja yang akan mereka makan bersama - sama serta rencana - rencana sederhana seperti, mau nonton film apa, atau mau main game apa. Semua hal yang sederhana yang biasa dilakukan oleh banyak orang, nyatanya adalah hal yang paling Arsen dambakan.