Meski merasa dikhianati dan sakit hati, tapi tetap saja Tri harus merelakan Sian menghabiskan waktu bersama kak Diana. Bisakah ia menolak percaya pada apa yang Sian katakan waktu itu?
Bahwa Arsen, calon kakak iparnya yang meninggal dua tahun yang lalu ternyata masih berkeliaran di sekitat mereka dan lebih gilanya lagi, Sian bisa berkomunikasi dengannya.
Bisakah Tri menolak percaya dan mengatakan kalau Sian hanya mengada - ada? Tapi, untuk apa juga Sian melakukannya. Saat pria itu bahkan tidak bisa bersikap seperti dirinya ketika Arsen mengambil alih tubuh pria itu.
"Halo putri kecil!" Sapa Arsen ramah seraya tersenyum lebar, saat mendapati Tri tengah berdiri di depan kamarnya seraya menatap Arsen yang tengah dudu di salah satu sofa yang ada di lantai dua.
"Hari ini, bang Siannya dipinjem dulu, ya. Abang juga udah kangen sama ka Di mu."
Tri tidak merespon sama sekali. Ia hanya menatap dengan sebal seraya mendengkus. Ia ingin tidak percaya dan menghampiri Sian sekarang juga lalu memukuk kepalanya dan menyuruhnya berhenti berpura - pura. Akan tetapi, sehebat apapun kemampuan akting Sian, mustahil ia bisa meniru semua gestur dan cara bicara Arsen kan?
Sementara Arsen, pria itu hanya manahan senyuman geli melihat adik kecilnya itu berpikir lama dan menatapnya dengan sebal saat tatapan mereka bertemu.
Arsen tidak tahu, harus senang apa sedih. Tapi, sebenarnya ia senang sih. Pertama, ia bisa bertemu dan melepas rindu dengan Dinya. Kedua, ia bisa bertemu adik kecilnya itu dan tentu saja ia bisa bicara dan mengobrol banyak hal bersama, yang tidak bisa ia lakukan saat ia tidak meminjam tubuh Sian.
Sesaat kemudian, Diana ke luar dari kamar dengan penampilan anggun dan simple. Ia sebenarnya bingung musti mengenakan apa. Bahkan sejak setengah jam sebelumnya, yang ia lakukan hanya sibuk memilah dan memilih setelan mana yang cocok untuk dikenakan saat firts date mereka setelah dua tahun lebih waktu berlalu.
Arsen terpana. Matanya tak lepas dari menatap sosok gadis cantik yang anggun yang ada di hadapannya itu dengan terpaku. Seolah semua objek di sekelilingnya buram dan hanya sosok Diana yang terang dan jelas.
Selama beberapa detik, Diana hanya tersneyum malu - malu dan tersipu dengan pipi yang merona. Sudah sejak lama ia tidak pernah mendapat tatapan yang diberikan Arsen padanya seperti saat ini.
"Cantiknya," gumam Arsen seraya melangkah mendekati Diana. Sementara Tri, gadis itu nampak terharu, meski ia masih belum rela sepenuhnya kalau Sian harus pergi dengan sang kakak, ngedate seharian dan melakukan banyak hal yang membuatnya berpikir yang iya - iya.
Setelah adegan tatap menatap selama beberapa detik itu. Arsen pun berdehem dengan canggung. Sudah berapa lama ia tidak berbicara sedekat ini dengan Dianya.
"Berangkat sekarang?" tanya Arsen seraya mengendalikan diri untuk tidak memeluk perempuan yang ada di hadapannya ini sekarang juga, saking rindunya ia.
Diana hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia menunggu Arsen meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
Tapi, karena Arsen tidak ingin lancang, pria itu hanya mempersilahkan Diana untuk berjalan lebih dulu. Ia juga sudah berjanji pada Sian untuk tidak melaukan kontak fisik sesukanya. Karena sekali lagi ia sadar, tubuh ini bukanlah miliknya.
Ia meminjamnya dari seorang pria baik hati bernama Sian.
***
Seharian penuh Arsen menghabiskan waktu bersama Diana. Keduanya tidak melewatkan satu detikpun untuk disia - siakan. Keduanya pun salat di musala mall yang mereka kunjungi. Keduanya sama - sama menengadahkan tangan meminta Penggenggam Takdir mau menyatukan mereka di dimensi ini atau setidaknya, mereka diberikan kesempatan untuk menyelesaikan kisah cinta yang belum usai ini agar mempunyai ujung yang terang. Tidak mengambang dan terjeda tanpa tahu kapan bisa dilanjutkan.
"Habis ini mau ke mana?" tanya Diana sesat setelah mereka bertemu di depan sebuah toko es krim yang ada di mall setelah salat zuhur.
"Kamu maunya ke mana? Kita bisa ke mana pun kamu mau. Hari ini aku bisa di samping kamu full seharian penuh." Arsen berujar dengan semangat, sementara Diana, entah kenapa wajahnya mendadak murung.
Apa ia salah bicara? Pikir Arsen bingung saat mendapati wajah murung perempuan yang dicintainya itu.
Sejurus kemudian, ia mendapatkan ide. Sementara Diana sedang melamun seraya menundukkan wajahn dalam. Arsen bergegas menghampiri tokk es krim yang ada di belakang mereka berdiri. Membeli dua es krim dengan varian red velved dan strowberi.
"Taraaa!"
Diana mengangkat wajah seraya terkejut. Lalu mendapati Arsen, tepatnya Sian yang di dalam tubuhnya ada jiwa Arsen.
"Es krim red velvet kesukaan kamu," ujar Arsen seraya menyerahkan es krim dengan ukuran medium dengan warna merah segar itu di hadapan Diana.
Diana sudah tidak menyukai es krim red velvet. Sebab setiap kali melihat dan menikmatinya, ia akan terus teringat akan kenangannya dengan Arsen. Ia akan menangis tersedu - sedu saat menyuapkan es krim red velvet ke dalam mulutnya.
Tapi, Arsen tidak tahu itu. Bagaimana ia bisa tahu, dua tahun berlalu begitu saja tanpa bisa ia ingat apa - apa yang terjadi di masa lalunya. Sampai ia bertemu dengan Sian yang ternyata juga bagian dari masa lalu yang belum bisa ia temukan ikatan antara mereka.
"Makasih," ucap Diana seraya tersenyum lebar. Ia tidak ingin membuat Arsen kecewa jika pria itu tahu kalau ia sudah lama berhenti menyukai es krim rasa red velevet.
Arsen tersenyum meski dalam hatinya banyak hal yang tidak bisa ia tanyakan dan utarakan. Ya, banyak hal yang ingin Arsen tanyakana dan utarakan pada perempuan yang kini meraih lengannya dan mengajak Arssn untuk duduk di kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Diana menikmati es krim red velvet yang Arsen belikan. Sementara Arsen, ia siibuk memindai wajah dan segala hal yang ia lihat dari diri Diana saat ini. Tatapan mata, senyuman dan gestur tubuh perempuan ini akan ia abadikan di ingatannya.
"Enak?" tanya Arsen seraya mengusap ujung bibir Diana yang terdapat es krim.
Diana terdiam sejenak. Jantungnya kembali berdebar seperti digedor dengan kuat. Sama seperti pertama kali mereka memutuskan untuk saling mencintai dan menikah. Hanya saja simpul takdir kerap kali tak dapat diduga dan memang tidak bisa dikendalikan oleh manusia.
Diana mengangguk seraya tersenyum lebar. Meski selanjutnya, ia merasakan perasaan menculus di hatinya.
Sampai nanti malam, ia akan bersam dengan Arsen. Tapi, tidak bisamah ia egois dan meminta pria itu menemaninya lebih lama lagi. Smapai ia tertidur saja. Ah tidak, ia juga ingin melihat Arsen saat ia terbangun. Meski bukan dengan wajah pria itu, tapi tidak bisa ia pungkiri kalau Arsen punya pesona dan karismanya tersendiri meski ia mnggunakan tubuh orang lain.
"Ar."
"Ya?"
"Bisa gak kamu tetap di samping aku kayak sekarang?"
"InsyaaAllah bisa. Aku usahakan untu tetap bisa di samping kamu sampai Tuhan yang memisahkan kita. Bukan waktu, bukan orang ketiga dan bukan jarak."
"Selamanya," Diana menoleh dan menatap wajah Sian.
"Bisa gak selamanya kita kayak gini?" tanyanya seperti orang bodoh yang egois. Membuat Arsen terdiam.
Selamanya? Apa bisa?
Tidak ada yang bertahan selamanya di dunia ini kecuali sang Pemiliknya, bukan?
Lalu, makhluk fana seperti mereka, apa bisa selamanya bersama - sama seperti saat ini?